Makhluk Kecil yang Menyelamatkan Bumi dari Plastik
Dunia sedang menghadapi krisis besar akibat penumpukan plastik. Setiap tahun, lebih dari 400 juta ton plastik diproduksi, dan sebagian besar dari hasil produksi ini berakhir di lingkungan alami tanpa bisa terurai selama ratusan tahun. Namun, alam ternyata memiliki cara sendiri untuk melawan tantangan ini—melalui makhluk-makhluk kecil yang diam-diam mampu memakan plastik!
Temuan ini mengejutkan dan memukau para ilmuwan. Dari ulat hingga larva lalat, mereka menyimpan enzim pemecah polimer yang bisa menjadi kunci dalam mengurai limbah yang sulit dicerna oleh bumi. Inilah bukti bahwa evolusi sering kali lebih cepat dari inovasi manusia. Mari kita kenali para ‘pahlawan kecil’ yang sedang mengubah wajah dunia sains.
1. Ulat Lilin atau Waxworm, Si Pemakan Plastik Pertama yang Viral
Ulat lilin (Galleria mellonella) awalnya dianggap sebagai hama sarang lebah. Namun, penelitian dari Universitas Cambridge menemukan bahwa mereka mampu mengurai polietilena (PE), jenis plastik yang paling sulit terurai, dalam waktu kurang dari 12 jam.
Rahasia kekuatan mereka terletak pada enzim di liur mereka, yang disebut polyethylene-degrading enzyme. Enzim ini dapat memecah struktur kimia plastik menjadi etilen glikol, senyawa yang lebih mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Para ilmuwan saat ini sedang mencoba memproduksi enzim ini secara massal untuk digunakan dalam pengelolaan sampah plastik.
Peneliti utama, Paolo Bombelli, menyatakan bahwa temuan ini bisa ‘mengubah paradigma pengelolaan plastik secara global’. Jadi, makhluk kecil ini bukan hanya hama, tapi juga harapan baru bagi planet kita.
2. Ulat Tepung atau Mealworm, Pemakan Styrofoam yang Tahan Racun
Ulat tepung (Tenebrio molitor) dikenal sebagai makanan reptil, tetapi ternyata mereka juga doyan styrofoam! Penelitian dari Stanford University menemukan bahwa 100 ekor ulat tepung bisa mengurai hingga 39 mg polystyrene per hari tanpa efek racun pada tubuh mereka.
Para peneliti menemukan bahwa bakteri di usus ulat tepung menghasilkan enzim pengurai polystyrene, yang mengubah plastik menjadi CO₂ dan biomassa yang aman. Dalam uji laboratorium, 90% dari plastik itu hilang dalam waktu 24 jam. Ini berarti, ulat ini secara biologis mampu ‘mencerna’ plastik!
Yang menarik, ulat-ulat ini tetap tumbuh sehat meskipun pola makannya adalah plastik. Hal ini memberi harapan baru bagi pengembangan sistem daur ulang biologis di masa depan.
3. Larva Lalat Tentara Hitam (Black Soldier Fly), Pengurai Plastik dan Limbah Organik
Larva Hermetia illucens dikenal sebagai pengurai sampah dapur yang efisien. Namun, penelitian di Science of The Total Environment menemukan kemampuan luar biasa lain mereka, yaitu mampu mengonsumsi campuran plastik dan limbah organik, lalu membantu mempercepat degradasi mikroplastik melalui aktivitas mikroba di ususnya.
Mikroba usus larva ini menghasilkan enzim yang memecah rantai polimer plastik, terutama jenis polyethylene terephthalate (PET). Selain itu, suhu hangat yang dihasilkan dari metabolisme larva mempercepat reaksi kimia pemecahan plastik.
Saat ini, para peneliti sedang mengembangkan konsep bio-reactor berbasis larva lalat tentara hitam sebagai solusi pengelolaan limbah berkelanjutan. Mengerikan tapi mengagumkan, bukan?
4. Cacing Tanah, Pembantu Alam yang Tak Disangka
Meski tidak memakan plastik secara langsung, cacing tanah berperan penting dalam mempercepat penguraian mikroplastik di tanah. Studi di Polymers in Multidisciplinary Digital Publishing Institute menunjukkan bahwa aktivitas menggali dan mencerna tanah oleh cacing dapat meningkatkan degradasi polietilena hingga 30% lebih cepat.
Gerakan tubuh mereka membantu menghancurkan fragmen plastik menjadi partikel yang lebih kecil, sekaligus meningkatkan aktivitas mikroba pengurai di sekitar akar tanaman. Dengan kata lain, mereka membantu ekosistem tanah ‘menelan’ plastik dengan lebih efisien.
Ini bukti bahwa kadang, pahlawan lingkungan tidak harus terlihat gagah—kadang mereka cuma cacing kecil yang bekerja dalam diam.
5. Ngengat India, Si Pemakan Plastik di Dapur
Larva ngengat India (Plodia interpunctella) sering ditemukan di dapur rumah yang menyimpan beras atau tepung. Namun, penelitian dari Nature Communications menemukan sesuatu yang menakjubkan: bakteri usus larva ini bisa memecah polyethylene dan PVC—dua jenis plastik paling umum dalam kemasan makanan.
Para ilmuwan menemukan enzim baru bernama polyethylene-degrading oxidase, yang memutus rantai karbon panjang dalam plastik menjadi molekul sederhana. Ini membuka peluang pemanfaatan bakteri ngengat sebagai agen bioremediasi plastik rumah tangga.
Siapa sangka makhluk kecil yang sering kita anggap menjijikkan justru bisa jadi penyelamat bumi!
Temuan tentang hewan-hewan pemakan plastik ini membuktikan satu hal: alam tidak pernah diam melihat kerusakan yang kita buat. Ia berevolusi, menyesuaikan diri, dan bahkan menemukan cara ‘memakan’ dosa manusia yang berbentuk plastik. Namun, jangan salah persepsi—ini bukan alasan buat kita terus membuang sampah sembarangan.
Justru temuan ini menjadi alarm kita bahwa bumi sedang berjuang keras untuk bertahan. Lantas, tugas kita bukan cuma menonton, tapi ikut membantu, sekecil apa pun langkahnya. Sebab, kalau ulat dan cacing saja bisa membantu bumi bernapas lagi, masa kita tidak?
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







