Mitos dan Fakta Seputar Kanker Payudara yang Perlu Diketahui
Kanker payudara menjadi salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh perempuan. Meski kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini semakin meningkat, masih banyak mitos yang beredar melalui mulut ke mulut atau media sosial. Banyak dari informasi tersebut justru tidak memiliki dasar medis yang kuat. Berikut ini adalah lima mitos seputar kanker payudara yang ternyata tidak benar menurut penjelasan dr. Feyona Heliani Subrata, Sp.B, Dokter Spesialis Bedah Umum dari Eka Hospital Depok.
1. Payudara Besar Lebih Berisiko Terkena Kanker
Banyak perempuan percaya bahwa ukuran payudara yang besar otomatis lebih berisiko terkena kanker payudara. Nyatanya, tidak ada hubungan langsung antara ukuran dengan risiko kanker. Ukuran hanya faktor anatomi, bukan faktor pemicu. Kanker payudara lebih dipengaruhi oleh hormon, genetik, dan gaya hidup. Artinya, perempuan dengan payudara kecil tetap punya risiko yang sama, apalagi jika memiliki riwayat keluarga penderita kanker atau kebiasaan hidup tidak sehat.
2. Kanker Payudara di Salah Satu Sisi Tidak Akan Menyebar ke Sisi Lain
Ada pula kepercayaan bahwa jika satu payudara sudah diangkat, maka sisi lainnya otomatis aman. Faktanya, sel kanker bisa muncul kembali di sisi lain karena sifatnya “dormant” atau tidur. Kanker itu sifatnya dormant, jadi dia bukannya hilang, tapi kayak kita tidurin gitu. Kalau udah diangkat satu payudara, masih mungkin satu lagi terkena. Ia menjelaskan, setiap orang punya masa dormansi berbeda. Ada yang 10–20 tahun aman, ada pula yang kambuh dalam satu tahun. Semua tergantung pada jenis dan sifat kanker yang diderita.
3. Sering Menaruh HP di Dada, atau Waxing Bisa Picu Kanker
Beberapa kebiasaan sehari-hari sering dituding sebagai pemicu kanker payudara. Mulai dari menaruh ponsel di dada, menggunakan deodoran, hingga waxing di area ketiak. Dr. Feyona menegaskan, semua itu hanya mitos belaka. Enggak sih, mitos. Termasuk yang bilang naruh HP di dada bisa sebabkan kanker, itu juga enggak benar. Waxing dan penggunaan deodoran tidak menyebabkan kanker payudara. Yang mungkin terjadi hanyalah folikulitis atau infeksi ringan pada folikel rambut akibat iritasi kulit dan itu bukan kanker.
4. Pakai Bra Sepanjang Hari Bisa Picu Kanker Payudara
Isu lama yang tak pernah mati: tidur sambil memakai bra bisa menimbulkan kanker. Namun, lagi-lagi, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung hal ini. Pakai bra kan enggak apa-apa. Enggak juga, mitos juga. Masalah kenyamanan aja. Jadi, memilih memakai bra seharian atau tidak adalah soal kenyamanan pribadi, bukan risiko kesehatan. Yang penting, bra yang digunakan tidak terlalu ketat agar sirkulasi darah tetap lancar.
5. Semua Kanker Payudara Harus Diterapi Kemoterapi
Tak sedikit pasien ketakutan karena mendengar kata “kemoterapi”. Padahal, tidak semua pasien kanker payudara perlu menjalani kemo. Ia menjelaskan, setelah biopsi dan diagnosis, dokter akan menentukan jenis penanganan sesuai hasil pemeriksaan lanjutan bernama IHK (Imunohistokimia). Hasil IHK akan menentukan apakah pasien perlu kemoterapi, terapi hormonal, atau jenis lain. Jadi, tidak semuanya harus kemoterapi.
Dengan memahami fakta-fakta ini, perempuan dapat lebih bijak dalam menjaga kesehatan dan menghindari informasi yang tidak benar. Kesadaran akan kanker payudara dan penanganannya secara medis sangat penting untuk mencegah dan mengatasi penyakit ini secara efektif.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







