Penjelasan Dokter tentang Fenomena Tubuh Sehat Tapi Mendadak Kolaps
Beberapa waktu terakhir, masyarakat mulai memperhatikan fenomena di mana seseorang tampak sehat namun tiba-tiba mengalami kolaps. Hal ini menjadi topik yang ramai dibicarakan di media sosial. Salah satu penyebab yang sering disebut oleh warganet adalah sympathetic hyperarousal, yaitu keadaan ketika sistem saraf tubuh berada dalam mode siaga secara terus-menerus.
Menurut Iqbal Mochtar, anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI), sistem saraf manusia terdiri dari dua bagian utama, yaitu saraf simpatik dan parasimpatik. Kedua jenis saraf ini bekerja secara bergantian sesuai dengan kondisi tubuh. “Saraf simpatik digunakan untuk situasi-situasi yang membutuhkan tingkat kewaspadaan yang tinggi,” jelas Iqbal saat dihubungi sebuah media pada Selasa, 28 Oktober 2025.
Sementara itu, saraf parasimpatik bekerja ketika tubuh sedang dalam keadaan tenang, seperti saat istirahat atau relaksasi. Namun, bagi sebagian orang, khususnya yang memiliki gaya hidup cepat dan selalu terhubung dengan perangkat digital, sistem saraf simpatik cenderung aktif tanpa jeda. Hal ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan dalam fungsi sistem saraf tubuh.
“Bukan hanya karena adanya sympathetic hyperarousal, tetapi juga faktor-faktor lain seperti kebiasaan hidup modern, stres kerja tinggi, dan kurang tidur dapat memicu tubuh mendadak tumbang,” ujar Iqbal. Menurutnya, jika saraf simpatik terus aktif, maka akan menyebabkan reaksi berlebihan pada tubuh.
Beberapa gejala fisik yang bisa muncul akibat aktivitas saraf simpatik yang berlebihan antara lain jantung berdebar, keringat dingin, tegang, serta rasa waspada yang berlebihan. Iqbal menambahkan bahwa kebiasaan sehari-hari seperti terus-menerus membuka email atau WhatsApp, serta kurangnya waktu tidur, bisa memperparah kondisi ini.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kesehatan Sistem Saraf
Ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi keseimbangan sistem saraf dalam tubuh, antara lain:
- Gaya hidup modern: Banyak orang yang terlalu bergantung pada gawai dan internet, sehingga membuat otak terus dalam keadaan waspada.
- Stres kerja tinggi: Pekerjaan yang penuh tekanan dapat meningkatkan aktivitas saraf simpatik.
- Kurang tidur: Tidur yang tidak cukup dapat mengganggu proses pemulihan tubuh dan meningkatkan risiko gangguan saraf.
- Pola makan tidak sehat: Konsumsi makanan yang tidak seimbang juga bisa memengaruhi kesehatan sistem saraf.
Iqbal menekankan bahwa meskipun sympathetic hyperarousal sering dibicarakan, hal tersebut bukanlah penyebab tunggal dari gejala mendadak yang dialami oleh banyak orang. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk lebih memperhatikan kesehatan mereka melalui pola hidup yang seimbang dan menjaga kesehatan mental.
Tips untuk Mengurangi Risiko Aktivitas Saraf Simpatik Berlebihan
Untuk mengurangi risiko aktivitas saraf simpatik yang berlebihan, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Tidur cukup: Pastikan untuk tidur minimal 7-8 jam setiap hari agar tubuh dapat pulih dengan baik.
- Hindari stimulan: Kurangi konsumsi kafein dan alkohol yang bisa memicu respons saraf berlebihan.
- Latihan relaksasi: Lakukan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau pernapasan dalam untuk menenangkan pikiran.
- Batasi penggunaan gawai: Luangkan waktu untuk melepas diri dari layar digital dan melakukan aktivitas yang lebih santai.
Dengan memahami cara kerja sistem saraf dan mengelola kebiasaan hidup yang sehat, kita bisa mengurangi risiko gangguan kesehatan yang terkait dengan aktivitas saraf berlebihan.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







