Apa Itu Rel Ketiga yang Sebabkan LRT Mati Total dan Ratusan Penumpang Terjebak

Apa Itu Rel Ketiga yang Sebabkan LRT Mati Total dan Ratusan Penumpang Terjebak

Gangguan Sistem Rel Ketiga pada LRT Jabodebek

Pada Sabtu pagi, 25 Oktober 2025, rangkaian kereta Light Rail Transit (LRT) Jabodebek mengalami gangguan saat beroperasi. Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, sejumlah penumpang tampak berjalan berbaris di sisi lintasan jalur layang setinggi 15 meter. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan dan kelancaran operasional sistem transportasi umum tersebut.

Manager Public Relations LRT Jabodebek, Mahendro Trang Bawono, menjelaskan bahwa gangguan disebabkan oleh kendala pada sistem third rail, yang berfungsi sebagai penyuplai tenaga listrik bagi kereta. “Saat sistem proteksi aktif dan bekerja memutus aliran listrik di jalur LRT Jabodebek sehingga perjalanan harus terhenti sementara,” ujar keterangan dari KAI.

Dampak dari gangguan tersebut adalah seluruh perjalanan LRT Jabodebek tidak dapat dioperasikan. Pada hari itu, lima rangkaian LRT terpaksa berhenti atau mogok di petak jalur. Sebanyak 653 penumpang dievakuasi ke stasiun-stasiun terdekat, yakni Kuningan, Halim, Cawang, Kampung Rambutan, dan Bekasi Barat. Proses evakuasi dimulai sejak pukul 08.41 dan berakhir pada pukul 10.06.

Cara Kerja dan Struktur LRT Jabodebek

LRT atau Light Rail Transit merupakan sistem transportasi berbasis rel ringan yang menghubungkan beberapa wilayah perkotaan. Dibandingkan KRL dan MRT, ukuran kereta serta daya angkut LRT lebih kecil. Namun, keunggulan LRT terletak pada frekuensi perjalanan yang tinggi, sehingga jumlah penumpang yang diangkut per hari tetap besar.

LRT Jabodebek dioperasikan menggunakan tenaga listrik yang mengalir lewat rel ketiga atau third rail atau conductor rail. Sistem rel ketiga ini menyediakan sumber listrik bagi operasional rangkaian LRT—sama seperti peran kabel udara pada KRL Commuter Jabodetabek.

Dalam kebanyakan sistem, rel ketiga ditempatkan di sisi luar jalur. Tapi bisa juga ditempatkan di tengah rel. Third rail ini ditopang di atas insulator dari keramik atau dibungkus bracket yang terinsulasi untuk keselamatan petugas yang biasa inspeksi jalur rel.

Rangkaian kereta mempunyai blok kontak logam dengan rel ketiga itu yang disebut ‘sepatu’. Bidang kontak bisa di atas rel ketiga, di sisi dalam, atau mungkin juga di bagian bawah. Sistem rel ketiga yang menggunakan bidang kontak atas, misalnya, biasanya rentan terhadap akumulasi salju yang membeku atau sampah, dan ini bisa mengganggu operasi LRT. Beberapa sistem mengoperasikan kereta khusus untuk membubuhkan cairan minyak ke rel konduktor untuk mencegah terbentuknya lapisan yang bisa mengganggu kontak rel itu dengan sepatu kereta.

Di setiap persimpangan jalur, rel berarus listrik ini harus diinterupsi, dan ramp disediakan di bagian akhir bidang persimpangan untuk memberikan transisi yang halus bagi ‘sepatu’ kereta. Dalam beberapa situasi, pengoperasian LRT juga harus mengantisipasi kejadian yang disebut ‘gapped’ ketika seluruh sepatu kereta tak bersentuhan (gaps) dengan rel ketiga.

Secara biaya, sistem rel ketiga relatif murah untuk instalasinya dibandingkan sistem kontak kabel udara di atas kereta. Tidak perlu ada struktur semacam pantograf yang dibutuhkan untuk dibawa-bawa oleh kereta, dan tidak ada kebutuhan rekonstruksi di atas jembatan. Juga secara visual lebih rapi.



Rangkaian kereta TS 20 LRT Jabodebek melakukan uji coba di Stasiun LRT Dukuh Atas, Jakarta, 16 Juni 2025. Tempo/Ilham Balindra

Meski begitu, sistem rel ketiga mewakili bahaya aliran listrik dari tegangan tinggi (lebih dari 1.500 volt). Ini jelas tidak aman. Keberadaannya juga sangat berbahaya untuk orang yang jatuh ke rel. Itu sebabnya ada platform pagar dan pintu kaca di setiap peron. Risiko juga diminimalisir dengan menempatkan conductor rail di sisi luar rel yang berseberangan dengan peron.

Teknologi Persinyalan pada LRT Jabodebek

Mengutip dari Informasikereta, moda transportasi LRT Jabodebek mengadopsi teknologi persinyalan modern bernama moving block—Communication Based Train Control (CBTC) dengan Grade of Automation (GoA) level tiga. Teknologi tersebut memungkinkan LRT beroperasi tanpa masinis (driverless), namun tetap didampingi petugas di dalam kereta untuk keperluan darurat.

Sistem CBTC merupakan pengoperasian kereta berbasis komunikasi, menggunakan frekuensi radio khusus antar subsistem terintegrasi, yang mencakup rel, sistem, dan kereta. Keunggulan teknologi ini terletak pada kemampuannya memantau posisi dan kecepatan kereta secara akurat dan real-time. Melalui konsep moving block pula, jarak antar kereta dapat diminimalkan untuk meningkatkan efisiensi perjalanan.

Selain itu, sistem moving block LRT Jabodebek juga dilengkapi dengan Automatic Train Protection (ATP). Fitur ini mengirimkan sinyal informasi untuk mengatur kecepatan, bahkan menghentikan kereta secara otomatis ketika mendekati halte.

Nandito Putra dan Novita Andrian berkontribusi dalam tulisan ini.

Related posts