Dosen Filsafat UGM Ajak Kolaborasi Manusia dan AI untuk Masa Depan Lebih Cerah

Dosen Filsafat UGM Ajak Kolaborasi Manusia dan AI untuk Masa Depan Lebih Cerah

Perkembangan Kecerdasan Buatan: Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) kini menjadi perhatian serius dari berbagai kalangan. Banyak ahli mengkhawatirkan potensi risiko besar yang bisa muncul di masa depan akibat kemajuan teknologi ini. Survei yang dilakukan oleh Katja Grace, pendiri AI Impacts, dan timnya dalam riset berjudul “Thousands of AI Authors on the Future of AI”, menunjukkan bahwa sekitar 38–51 persen ahli menilai ada peluang minimal 10 persen bahwa AI tingkat lanjut bisa menimbulkan konsekuensi bencana bagi manusia.

Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, M.Hum., menyatakan bahwa kekhawatiran terhadap perkembangan AI adalah hal yang wajar. Namun, ia menegaskan bahwa AI juga merupakan cerminan dari kekuatan tersembunyi manusia yang bisa dikelola dengan baik untuk menciptakan hal-hal luar biasa.

“Tetapi, sesungguhnya kalau kita merefleksikan, itu adalah cerminan dari manusia yang sebenarnya memiliki kekuatan-kekuatan tersembunyi yang kalau bisa kita kelola dengan baik, itu akan melahirkan hal yang tidak terbayangkan sebelumnya, termasuk perkembangan teknologi yang kemudian kita sebut dengan AI,” ujarnya.

Pentingnya Pemahaman dan Mitigasi Risiko

Menurut Prof. Siti, langkah penting untuk menghadapi perkembangan AI adalah dengan memahami cara kerja teknologi secara menyeluruh. Manusia, sebagai pencipta teknologi, perlu melakukan mitigasi risiko, meningkatkan literasi digital, serta memastikan adanya regulasi yang memadai.

“Memahami betul itu kan termasuk juga memikirkan konsekuensi atau aspek-aspek yang dimunculkan oleh teknologi yang kita ciptakan, baik yang positif maupun negatif,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa pendidikan memiliki peran utama dalam membentuk kesadaran dan etika dalam berteknologi. Pendidikan, menurutnya, menjadi media paling efektif untuk memberikan fondasi moral agar manusia mampu menciptakan dan mengembangkan teknologi secara bertanggung jawab.

Menyeimbangkan Dunia Digital dan Nyata

Prof. Siti juga mengingatkan bahwa generasi muda perlu tumbuh secara seimbang antara dunia digital dan dunia nyata. Ia menekankan pentingnya pertumbuhan biologis sebagai manusia yang organik, bukan manusia yang jiwa raganya sepenuhnya terpengaruh oleh teknologi.

“Tumbuh kembang secara biologis itu diperlukan sebagai manusia yang organik, bukan manusia yang secara keseluruhan jiwa raganya terkena terpaan teknologi,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai bahwa AI sejatinya merupakan hasil dari kemajuan inovasi manusia. “Kita ini adalah manusia yang akalnya tidak terbatas. Sementara, teknologi AI ini pikirannya hanya dari hari ini dan kemarin atau sesuai dengan yang kita masukkan,” terangnya.

Menghadapi AI dengan Bijak

Prof. Siti mengajak masyarakat untuk melihat AI bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai mitra yang dapat diajak berkolaborasi. Ia menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam hidup di tengah teknologi AI dan menjalin hubungan yang sehat sebagai pengguna atau pembuat teknologi.

“Selalu bijaklah hidup di tengam teknologi AI dan bermitralah dengan sehat sebagai pengguna ataupun pembuat,” pungkasnya.


Related posts