Peran Agama dalam Menangani Krisis Lingkungan Global
Krisis lingkungan global tidak bisa hanya diatasi melalui pendekatan teknologi atau kebijakan ekonomi. Masalah ekologi memerlukan kolaborasi lintas disiplin ilmu, termasuk peran agama dalam membangun kesadaran etis dan spiritual untuk menjaga bumi. Hal ini menjadi fokus utama dalam diskusi yang digelar jelang Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS Plus) 2025, yang berlangsung di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Senin 27 Oktober 2025.
M. Arskal Salim, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, menyatakan bahwa kontribusi keagamaan dapat memperkaya diskursus ilmiah dengan nilai moral dan kesadaran spiritual yang sering kali terlewat dalam pendekatan teknokratis. Ia menyoroti dua tantangan besar yang dihadapi masyarakat saat ini, yaitu krisis ekologi dan ketimpangan distribusi teknologi. “Ini artinya kita butuh komitmen bersama,” ujarnya.
Dalam konferensi AICIS 2025, isu ekologi menjadi salah satu tema utama. Konferensi ini diharapkan menjadi upaya untuk mencari hubungan serius antara agama, ekologi, dan teknologi. Dengan demikian, para peserta diharapkan dapat mengembangkan solusi yang lebih holistik dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Amien Suyitno, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, menambahkan bahwa kajian Islam di Indonesia kini tidak lagi terbatas pada persoalan teologis semata. Kajian tersebut kini telah berkelindan dengan ilmu sosial, sains, dan teknologi. “Tahun ini berbeda, karena kami ingin menunjukkan bahwa studi Islam juga beririsan dengan bidang ilmu lain, mulai dari sains, sosial hingga ekoteologi,” ujarnya.
Menurut Amien, integrasi antara keilmuan Islam dan sains di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) sebenarnya telah berlangsung lama. Banyak program studi non-keagamaan seperti ilmu keperawatan, kedokteran, ekonomi, dan teknologi berkembang di bawah naungan PTKI. Namun, ia menilai bidang-bidang ini belum banyak mendapat ruang di forum ilmiah internasional.
“Kami ingin memperlihatkan bahwa PTKI juga punya kontribusi nyata di bidang ilmu pengetahuan modern,” katanya. Dengan demikian, konferensi ini diharapkan menjadi wadah untuk menunjukkan peran aktif institusi keagamaan dalam pengembangan ilmu pengetahuan kontemporer.
Kolaborasi Lintas Disiplin Ilmu
Pendekatan lintas disiplin ilmu menjadi kunci dalam menyelesaikan masalah lingkungan. Dengan menggabungkan perspektif agama, sains, dan teknologi, masyarakat dapat menghadapi krisis ekologi secara lebih efektif. Beberapa poin penting dalam kolaborasi ini adalah:
-
Peningkatan Kesadaran Etis dan Spiritual
Agama memberikan landasan moral dan spiritual yang penting dalam membangun kesadaran akan tanggung jawab terhadap lingkungan. Nilai-nilai keagamaan seperti kepedulian terhadap alam dan keadilan sosial dapat menjadi dasar bagi tindakan nyata dalam menjaga keberlanjutan bumi. -
Integrasi Ilmu Pengetahuan Modern
Kajian Islam tidak lagi terbatas pada aspek teologis, tetapi telah meluas ke berbagai bidang ilmu, termasuk sains dan teknologi. Ini menunjukkan bahwa pemahaman agama dapat berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern. -
Partisipasi di Forum Internasional
Meskipun kajian Islam telah berkembang di dalam negeri, partisipasi di forum ilmiah internasional masih terbatas. Konferensi seperti AICIS 2025 menjadi kesempatan untuk menunjukkan kontribusi nyata dari institusi keagamaan dalam dunia ilmu pengetahuan global.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Krisis lingkungan dan ketimpangan teknologi menjadi tantangan besar yang harus dihadapi oleh seluruh masyarakat. Untuk menghadapi hal ini, diperlukan komitmen bersama dari berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat. Dengan kolaborasi yang lebih kuat, solusi yang lebih efektif dapat ditemukan.
Konferensi AICIS 2025 menjadi momen penting dalam mengeksplorasi peran agama dalam menghadapi tantangan lingkungan. Melalui diskusi dan kerja sama lintas disiplin, harapan besar diarahkan pada pembangunan masyarakat yang lebih berkelanjutan dan adil.
Dengan menggabungkan perspektif agama, sains, dan teknologi, konferensi ini berupaya membuka jalan menuju solusi yang lebih holistik. Dengan demikian, krisis lingkungan tidak hanya diatasi melalui inovasi teknologi, tetapi juga melalui kesadaran etis dan spiritual yang lebih dalam.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







