Penemuan Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan adanya kandungan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta. Kadar mikroplastik mencapai sekitar 15 partikel per meter persegi per hari pada tahun 2022. Angka ini meningkat lima kali lipat dibandingkan dengan tahun 2015.
Proses penyebaran mikroplastik terjadi melalui “atmospheric microplastic deposition”, yaitu ketika limbah plastik dari berbagai sumber mengalami degradasi, kemudian masuk ke atmosfer, terbawa angin, dan akhirnya turun bersama hujan ke permukaan bumi. Reza Cordova, peneliti BRIN, menjelaskan bahwa mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka.
Temuan ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) bersama Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia (SIEJ) di 18 kabupaten/kota. Dalam periode Mei-Juli 2025, ECOTON-SIEJ menemukan kandungan mikroplastik di udara Jakarta Pusat mencapai 37 partikel per 2 jam per 90 cm, yang merupakan angka tertinggi dibandingkan wilayah lain.
Pembakaran sampah plastik menjadi penyebab utama kontaminasi mikroplastik di beberapa wilayah tersebut. Jenis polimer yang ditemukan juga sangat beragam. Sofi Azilan Aini, peneliti ECOTON, menjelaskan bahwa lebih banyak jenis polimer mikroplastik di udara karena 57% masyarakat membakar sampah plastik. Hal ini disebabkan oleh buruknya layanan pengelolaan sampah di Indonesia.
Permasalahan Sampah Plastik di Indonesia
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, sampah plastik adalah jenis sampah kedua terbesar di Indonesia setelah sampah sisa makanan. Proporsinya mencakup 19,6% dari keseluruhan sampah Indonesia pada tahun 2024.
Mikroplastik mayoritas berasal dari degradasi plastik dengan ukuran lebih besar. Ukurannya kurang dari 5 milimeter dan dapat ditemukan di mana saja, termasuk tanah, air, maupun udara. Sifatnya yang tidak mudah terurai di alam dan kemampuannya untuk masuk ke tubuh manusia melalui kulit, rantai makanan, atau saluran pernapasan dapat berdampak pada kesehatan.
Selain itu, mikroplastik mudah mengikat zat beracun, polutan, dan logam berat. Sejumlah penelitian menunjukkan potensi dampak kesehatan jika terpapar mikroplastik dalam jangka waktu yang panjang. Dampaknya bisa mulai dari gangguan hormon, stres oksidatif, kerusakan jaringan, peradangan, perubahan fungsi imun, hingga gangguan reproduksi.
Upaya Pemerintah DKI Jakarta
Dalam upaya menghadapi ancaman mikroplastik, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta gencar melakukan edukasi pengelolaan sampah. Edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah secara benar dan meminimalkan risiko pencemaran lingkungan.
Selain itu, DKI juga memperkuat pengendalian limbah plastik melalui berbagai kebijakan dan program yang bertujuan untuk mengurangi produksi serta pembuangan sampah plastik. Tindakan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Kesimpulan
Penemuan mikroplastik dalam air hujan Jakarta menunjukkan bahwa isu lingkungan ini tidak lagi menjadi masalah lokal, tetapi telah menjadi tantangan global. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga penelitian untuk mencari solusi yang efektif dan berkelanjutan dalam mengurangi polusi mikroplastik. Dengan kesadaran yang tinggi dan tindakan nyata, harapan untuk lingkungan yang lebih bersih dan sehat dapat tercapai.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







