Foto: Sajian tinutuan, bubur khas Manado di Swiss-belhotel Maloesan Manado, Rabu (29/10/2025).
Mengenal Tinutuan, Bubur Khas Manado yang Unik dan Bersejarah
Tinutuan adalah salah satu makanan tradisional yang berasal dari Sulawesi Utara. Makanan ini memiliki ciri khas dengan konsistensi yang kental dan warna kuning cerah, yang mengingatkan banyak orang pada bubur jagung manis. Namun, meskipun terlihat sederhana, tinutuan menarik perhatian karena rasanya yang unik dan sejarahnya yang panjang.
Pada 2025, tinutuan bahkan masuk dalam daftar “100 Worst Rated Foods in the World” versi Taste Atlas, yang membuatnya menjadi makanan yang cukup kontroversial. Meski begitu, bagi masyarakat Manado, tinutuan tetap menjadi bagian penting dari budaya kuliner mereka.
Bahan Dasar dan Cara Penyajian
Secara umum, tinutuan dibuat dari beras yang dicampur dengan berbagai jenis sayuran, seperti bayam labu, singkong, dan jagung. Proses memasaknya juga dilakukan secara bertahap, dimulai dari beras yang dimasak setengah matang, lalu ditambahkan sayuran dan bumbu seperti garam, sereh, daun kunyit, serta daun bawang. Hal ini memberikan citarasa yang kaya dan kompleks.
Tinutuan biasanya disajikan sebagai hidangan sarapan, dan sering disajikan bersama dengan berbagai lauk pelengkap seperti sambal roa, ikan asin goreng, ikan cakalang, tahu atau tempe goreng, perkedel jagung, kerupuk, atau emping. Rasa gurih dan sedikit manis alami dari labu sangat mencolok saat mencoba hidangan ini.
Pengalaman Mencoba Tinutuan Asli Manado
Saat berkunjung ke Kota Manado, saya berkesempatan untuk mencoba tinutuan asli. Awalnya, saya merasa agak sulit untuk menyantapnya karena teksturnya yang kental dan tidak seperti bubur ayam yang biasanya lebih lembut. Namun, setelah mencoba mengaduknya dengan sambal roa, rasa pedas dan asin dari cabai merah dan ikan laut membuatnya lebih segar dan enak.
Selain itu, rempeyek ikan yang disajikan bersama menambah kesan renyah dan gurih pada hidangan ini. Secara keseluruhan, tinutuan cukup mengenyangkan karena terdiri dari campuran jagung dan labu yang kaya akan karbohidrat.
Jika Anda baru pertama kali mencoba tinutuan, disarankan untuk menyantapnya selagi hangat dan jangan langsung mengaduknya dengan sambal roa. Dengan cara ini, Anda bisa merasakan rasa asli dari bubur tersebut.
Sejarah Singkat Tinutuan
Tinutuan memiliki akar sejarah yang kuat dengan kondisi masyarakat Manado pada masa penjajahan Belanda. Pada masa itu, masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi dan situasi perang, sehingga mereka harus memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di sekitar mereka.
Para ibu rumah tangga memetik sayur-mayur dan umbi-umbian, lalu mencampurkannya dengan beras dan memasaknya menjadi bubur. Dari pengalaman tersebut, tinutuan lahir dan kemudian menyebar luas di Sulawesi Utara.
Nama “tinutuan” sendiri berasal dari kata “tintu” dalam bahasa Manado yang berarti “campur aduk”, merujuk pada cara memasak bubur dengan mencampurkan berbagai bahan menjadi satu.
Keunikan dan Cita Rasa
Meski rasanya tidak jauh berbeda dengan bubur pada umumnya, tinutuan memiliki keunikan aroma kemangi dan campuran jagung manis yang menjadikannya khas. Proses memasak yang bertahap dan bahan-bahan alami yang digunakan memberikan cita rasa yang kaya dan autentik.
Tinutuan bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol dari ketangguhan masyarakat Manado dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan rasa yang khas dan sejarah yang mendalam, tinutuan layak dijajaki oleh siapa saja yang ingin merasakan keunikan kuliner khas Indonesia.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







