Penelitian Ini Mengungkap Asal Usul Puting Beliung Cimenyan 2021

Penelitian Ini Mengungkap Asal Usul Puting Beliung Cimenyan 2021

Empat tahun lalu, sebuah puting beliung menghancurkan dua desa sekaligus di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Angin yang melanda sangat mencekam, terlihat dari jumlah 298 unit rumah serta 2 fasilitas pendidikan, 1 kantor desa, dan 1 masjid yang menjadi korban. Selain itu, angin puting beliung yang berlangsung cukup lama juga menumbangkan satu pohon berkayu keras hingga menimpa 2 unit mobil. Secara keseluruhan, 2 orang mengalami luka berat dan 3 luka ringan akibat kekuatan angin tersebut.

Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di Jurnal Meteorology and Atmospheric Physics pada 21 Oktober 2025 lalu, tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa puting beliung yang terjadi tepatnya pada 28 Maret 2021 itu berlangsung selama 40 menit. Durasi ini melebihi kejadian angin puting beliung biasanya, yang umumnya hanya terjadi sekejap sebelum angin kembali terurai. Kecepatan angin yang terjadi di Cimenyan saat itu mencapai 56 kilometer per jam, setara dengan tornado kategori F0 atau Gale Tornado. Berdasarkan hal ini, tim peneliti sepakat bahwa puting beliung tidak boleh lagi dianggap remeh.

“Apalagi kejadian seperti ini akan semakin meningkat frekuensinya dan intensitasnya karena perubahan iklim,” kata Profesor klimatologi BRIN, Erma Yulihastin, ketua tim, dalam pernyataannya.

Menurut Erma, penelitian ini menjadi yang pertama secara ilmiah menjelaskan mekanisme terjadinya angin puting beliung kategori F0 atau Gale Tornado di Indonesia. Dalam riset tersebut, Erma dan timnya menggunakan kombinasi Automatic Weather Station (AWS), radar X-band SANTANU, model numerik WRF resolusi tinggi (0,2 km), dan analisis dinamika atmosfer. Hasilnya menunjukkan bahwa fenomena Gale Tornado Cimenyan merupakan bagian dari dua puting beliung kembar yang melanda wilayah utara dan selatan Bandung secara bersamaan. Kejadian itu juga bertepatan dengan prakondisi Siklon Tropis Seroja di perairan Banda, yang memperkuat atmosfer di Jawa Barat.

Erma menjelaskan bahwa radar X-band SANTANU yang dikembangkan BRIN mampu menangkap pola bumerang khas bow echo yang menandai pembentukan pusaran angin. Selain itu, model WRF berhasil memprediksi kejadian puting beliung 10 menit lebih cepat dibandingkan radar. “Jadi penelitian ini sebenarnya mengungkapkan dua hal itu,” katanya.

Penelitian ini diharapkan menjadi dasar penguatan sistem deteksi dini dan mitigasi terhadap kejadian cuaca ekstrem yang diperkirakan akan semakin sering terjadi di Indonesia akibat perubahan iklim. “Prediksi cuaca ekstrem menggunakan model WRF yang dikombinasikan dengan radar X-band dapat menangkap sinyal box-echo meso-Vortex melalui polanya yang unik, dan algoritma puting beliung dapat dibangun sehingga bukan hal mustahil saat ini untuk memprediksinya,” ujar Erma.

Data menunjukkan tren kenaikan kecepatan angin kencang di Bandung dari tahun ke tahun. Bahkan ada yang mencapai atau mendekati 100 km per jam. Karena itu, Erma menekankan pentingnya mitigasi dan kesiapan infrastruktur observasi cuaca. Untuk memperkuat sistem mitigasi, Erma menilai perlu adanya dukungan pemerintah terhadap pengembangan peralatan riset cuaca lokal. Bukan hanya dengan menambah peralatan baru, tapi juga memperbanyak teknologi yang sudah dikembangkan sendiri.

Ia merekomendasikan tiga alat penting untuk mitigasi cuaca ekstrem: radar mobile X-band yang bisa dibawa ke mana-mana, radar SANTANU kecil di berbagai wilayah, dan jaringan Personal Weather Station (PWS) di area perkotaan, termasuk di atap gedung tinggi. “Apalagi di gedung-gedung tinggi, rooftop-nya perlu memasang alat itu untuk verifikasi kalau ada angin kencang.”

Lebih lanjut, BRIN berencana meningkatkan kapasitas pemodelan cuaca ekstrem dengan membentuk laboratorium internasional bersama (joint international laboratory) para peneliti lain dari berbagai negara.

Related posts