Peningkatan 8,15 Persen Pengguna KAI Grup Tahun Ini

Peningkatan 8,15 Persen Pengguna KAI Grup Tahun Ini

Kinerja Positif KAI Group pada Januari-Oktober 2025

PT KAI Persero mencatatkan kinerja positif sepanjang Januari hingga Oktober 2025. Total pelanggan KAI Group mencapai 413.867.221 orang, meningkat 8,15 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2024 dengan jumlah pelanggan sebanyak 382.669.486 orang.

Pertumbuhan ini menegaskan kontribusi KAI Group dalam memperkuat mobilitas nasional, mendukung kegiatan ekonomi, serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di berbagai daerah. Anne Purba, Wakil Direktur Hubungan Masyarakat PT KAI Persero, menyampaikan bahwa peningkatan ini mencerminkan semakin besarnya kepercayaan publik terhadap transportasi berbasis rel.

Setiap perjalanan kereta api memiliki dampak ekonomi yang luas, mulai dari mempermudah mobilitas pekerja, meningkatkan arus logistik, hingga menggerakkan sektor pariwisata dan UMKM di sekitar jalur kereta. Layanan KAI Commuter mencatat 329.371.437 pelanggan atau meningkat 6,35 persen dibanding tahun sebelumnya. Layanan tersebut menjadi penopang utama mobilitas harian masyarakat di kawasan Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.

Dengan waktu tempuh yang efisien dan harga terjangkau, KAI Commuter terus mendukung produktivitas perkotaan sekaligus mengurangi kepadatan lalu lintas dan emisi kendaraan pribadi.

Layanan Kereta Jarak Jauh dan Lokal

Layanan kereta jarak jauh dan lokal yang dikelola langsung oleh KAI juga mencatat 45.814.270 pelanggan atau naik 7,12 persen. Pertumbuhan ini menunjukkan semakin kuatnya minat masyarakat untuk beralih ke transportasi publik yang aman, tepat waktu, dan nyaman.

Konektivitas antarkota turut mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan pergerakan wisatawan dan perdagangan antarwilayah. Salah satu layanan dengan pertumbuhan tertinggi kedua adalah LRT Jabodebek, yang mencatat 23.549.818 pelanggan atau naik 39,69 persen. Layanan itu telah memperkuat integrasi transportasi di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi, memudahkan mobilitas masyarakat metropolitan dan mempercepat aktivitas ekonomi harian di pusat bisnis dan perumahan.

Layanan Kereta Bandara

Layanan Kereta Bandara juga mencatat pertumbuhan signifikan. Dengan total pelanggan sebesar 5.792.630 orang, meningkat 24,11 persen. KA Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) dan KA Srilelawangsa di Medan menjadi pilihan utama karena efisiensi waktu dan konektivitas langsung ke pusat kota. Layanan ini turut mendukung sektor pariwisata dan investasi di berbagai wilayah.

Pertumbuhan di Luar Pulau Jawa

Selain itu, KAI Group juga mencatat pertumbuhan yang konsisten di luar Pulau Jawa. Layanan Kereta Makassar-Parepare mencatat 256.961 pelanggan, naik 10,64 persen. Layanan ini menjadi simbol kemajuan transportasi di Sulawesi Selatan dan membuka peluang pemerataan pembangunan ekonomi berbasis rel di kawasan timur Indonesia.

LRT Sumatra Selatan turut berperan dalam memperkuat konektivitas di Palembang dengan 3.790.240 pelanggan, meningkat 7,44 persen. Moda itu menghubungkan pusat kota dengan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, mendukung mobilitas kerja dan ekonomi masyarakat perkotaan.

Layanan Wisata dan Kereta Cepat Whoosh

Sementara itu, KAI Wisata mencatat peningkatan tertinggi sebesar 57,53 persen dengan total 191.865 pelanggan. Layanan unggulan seperti Kereta Panoramic, Kereta Wisata, dan Kereta Istimewa berhasil menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara serta memberi dampak ekonomi bagi destinasi wisata di berbagai daerah.

Kereta Cepat Whoosh yang dikelola KCIC juga mencatat 5.100.000 pelanggan, meningkat 6,3 persen. Kehadiran Whoosh mempercepat konektivitas Jakarta–Bandung, menghadirkan efisiensi waktu tempuh dan memberikan dorongan bagi aktivitas ekonomi dan bisnis di kedua kota.

Komitmen KAI Group

Anne Purba menegaskan bahwa pertumbuhan ini menunjukkan bahwa transportasi berbasis rel terus menjadi urat nadi pembangunan nasional. KAI Group akan terus berinovasi untuk menghadirkan layanan yang semakin terintegrasi, inklusif, dan berdampak bagi masyarakat serta perekonomian Indonesia.

Related posts