Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Muhammad Taufik, memperkenalkan sistem deteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbasis Peat Fire Vulnerability Index (PFVI). Sistem ini dirancang untuk memprediksi kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan hingga 14 hari sebelumnya. Skema mitigasi ini berbasis ekohidrologi dan telah diimplementasikan di kawasan prioritas restorasi gambut sejak tahun 2021.
Penerapan PFVI dilakukan melalui kolaborasi dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Taufik menjelaskan bahwa implementasi sistem ini berlangsung hingga 2024 di enam provinsi utama yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Ia menilai bahwa luas lahan gambut Indonesia mencapai 14 juta hektare dengan cadangan karbon sebesar 50 gigaton. Angka ini hampir setengah dari total cadangan karbon gambut tropis dunia.
Transformasi besar-besaran lahan gambut sejak era 1990-an menjadi lahan pertanian dan perkebunan mengurangi fungsi hidrologi wilayah tersebut. Menurut Taufik, penurunan tinggi muka air tanah (TMAT) di bawah 60 sentimeter meningkatkan potensi kebakaran secara signifikan. Dalam risetnya, ia mengembangkan model PFVI dengan tiga variabel utama: curah hujan, suhu udara, dan TMAT. Integrasi dengan Weather Research and Forecasting (WRF) membuka peluang prediksi karhutla hingga dua pekan ke depan.
Tim peneliti dari IPB University juga menciptakan RAMIN (R-based Assessment for Modeling Indonesian Nature), sebuah sistem daring yang menggabungkan pemodelan hidrologi, emisi karbon, dan valuasi kredit karbon. RAMIN menggunakan data lokal secara real-time, transparan, dan berbasis riset ilmiah. Taufik menyatakan bahwa sistem ini sangat penting dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan lahan gambut.
Meski potensi karhutla bisa ditebak dua pekan lebih awal, Taufik mengakui masih ada kendala dalam penerapannya. Dana daerah cenderung hanya digunakan pada periode pasca-bencana, alih-alih untuk antisipasi. Namun, ia menjamin bahwa pengelolaan gambut berbasis ekohidrologi tidak hanya menekan risiko kebakaran, tetapi juga mendukung agenda ekonomi hijau nasional.
Pendekatan ekohidrologi dinilai mampu mengintegrasikan sains dengan kebijakan publik. Taufik menekankan bahwa jika kondisi gambut terjaga, maka kita turut serta menekan emisi gas rumah kaca dan mendukung target Nationally Determined Contribution (NDC) pemerintah. Hal ini menjadi langkah penting dalam upaya menjaga lingkungan dan memenuhi komitmen global terkait perubahan iklim.
Keuntungan Sistem PFVI
- Sistem ini memberikan prediksi dini terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan.
- Menggunakan data curah hujan, suhu udara, dan TMAT sebagai parameter utama.
- Mampu memprediksi kebakaran hingga 14 hari sebelumnya.
- Terintegrasi dengan WRF untuk memperluas waktu prediksi hingga dua minggu.
Fungsi RAMIN
- Sistem daring yang menggabungkan pemodelan hidrologi, emisi karbon, dan valuasi kredit karbon.
- Mengandalkan data lokal secara real-time dan transparan.
- Didasarkan pada riset ilmiah untuk memastikan akurasi dan keandalan.
Tantangan dan Solusi
- Dana daerah sering digunakan hanya setelah bencana terjadi.
- Perlu adanya perubahan pola penggunaan dana untuk antisipasi.
- Pengelolaan gambut berbasis ekohidrologi dapat menjadi solusi jangka panjang.
Manfaat Ekonomi Hijau
- Mendukung agenda ekonomi hijau nasional.
- Mengurangi emisi gas rumah kaca.
- Memenuhi target NDC pemerintah dalam upaya mengatasi perubahan iklim.
Dengan inovasi seperti PFVI dan RAMIN, Indonesia memiliki peluang besar dalam mengurangi risiko karhutla dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Kolaborasi antara lembaga penelitian, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam penerapan sistem ini.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







