Status Gunung Lewotobi Dinaikkan ke Siaga

Status Gunung Lewotobi Dinaikkan ke Siaga

Penurunan Status Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-Laki

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menurunkan status aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki dari Awas atau Level IV menjadi Level III atau Siaga pada 25 Oktober 2025, pukul 16.00 Wita. “Berdasarkan analisis visual dan instrumental, aktivitas Gunung Lewotobi Laki-Laki terjadi penurunan secara bertahap,” ujar Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid dalam keterangan tertulis, Sabtu, 25 Oktober 2025.

Berdasarkan pengamatan visual yang dilakukan tim Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-Laki pada 20-24 Oktober 2025, aktivitas vulkanik gunung yang terletak di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu mengalami penurunan. Hal ini mencerminkan adanya perubahan signifikan dalam tingkat kegempaan dan aktivitas magma.

Data Kegempaan yang Mengindikasikan Penurunan Aktivitas

Dalam empat hari terakhir, aktivitas kegempaan tercatat sebagai berikut:
* Empat kali gempa guguran
* Enam kali gempa embusan
* Dua kali gempa harmonik
* 98 kali gempa tremor non-harmonik
* 12 kali gempa low frequency
* 39 kali gempa vulkanik dalam
* Sekali gempa tektonik lokal
* 35 kali gempa tektonik jauh

Wafid menjelaskan bahwa Gunung Lewotobi Laki-Laki, yang setinggi 1.584 meter di atas permukaan laut (mdpl), terakhir mengalami erupsi pada 18 Oktober 2025 pukul 00.44 Wita. Sepekan terakhir, gempa guguran dan embusan menurun seiring dengan berkurangnya gempa vulkanik dalam. “Kondisi ini mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik sedang mengalami penurunan secara bertahap sehingga suplai magma dari kedalaman ke permukaan juga berkurang,” katanya.

Indikator Menuju Kestabilan

Indikator tersebut menunjukkan adanya proses menuju kestabilan dalam jangka pendek atau kemungkinan adanya hambatan di saluran magma atau conduit yang menghalangi pergerakan material ke permukaan. Selain itu, gempa tremor non-harmonik masih terjadi fluktuatif yang menandakan adanya aktivitas di kedalaman dangkal dan letusan berskala lebih kecil masih mungkin terjadi. “Secara visual dan berdasarkan data kegempaan, aktivitas Lewotobi Laki-Laki mulai menunjukkan tren penurunan meskipun tingkat aktivitasnya masih tergolong tinggi,” ujarnya.

Data Deformasi dan Pergerakan Magma

Data deformasi dari alat tiltmeter merekam adanya pola yang relatif stabil dan belum memperlihatkan tanda-tanda inflasi yang signifikan di permukaan. Sementara data dari Sistem Navigasi Satelit Global (GNSS) menunjukkan fluktuasi pada komponen vertikal dalam sepekan terakhir. Tapi dalam tiga hari terakhir memang terjadi penurunan. “Kondisi ini mengindikasikan bahwa pergerakan magma dari kedalam dalam ke arah dangkal masih berlangsung, meskipun dengan intensitas yang mulai berkurang,” katanya.

Imbauan untuk Masyarakat dan Wisatawan

Wafid mengimbau masyarakat ataupun wisatawan untuk tidak beraktivitas dalam radius enam kilometer dari pusat erupsi. Masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah rawan bencana agar mewaspadai potensi banjir lahar jika terjadi hujan lebat, terutama di aliaran sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-Laki.

Related posts