Cuaca Panas di Surabaya dan Perubahan Iklim
Kota Surabaya, salah satu kota terbesar di Indonesia, mencatatkan suhu maksimum harian yang sangat tinggi selama musim panas beberapa waktu lalu. Kondisi ini terjadi akibat berbagai faktor, termasuk gerak semu matahari yang berada tepat di atas wilayah Indonesia bagian selatan serta adanya bibit siklon tropis yang menarik massa udara ke bagian utara Indonesia. Hal ini menyebabkan langit menjadi minim awan dan cuaca terasa lebih panas.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), beberapa hari di Surabaya mengalami suhu maksimum harian di atas 36 derajat Celsius. Bahkan, pada tanggal 18 Oktober, suhu mencapai 37,4 derajat Celsius. Kombinasi antara suhu tinggi dan kelembapan udara yang juga tinggi membuat kondisi cuaca terasa lebih panas lagi.
Seorang peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, telah melakukan pengamatan terhadap data dari jaringan personal weather system. Menurutnya, dalam dua tahun terakhir, suhu maksimum harian di Surabaya seringkali mendekati 40 derajat Celsius. Secara normal, suhu maksimum harian di kota ini berada dalam rentang 30 hingga 35 derajat Celsius.
“Hasil kajian kami menunjukkan bahwa Surabaya paling sensitif dalam merespons perubahan iklim dengan kenaikan suhu maksimum hingga 2050 nanti,” ujar Erma melalui akun X-nya pada 20 Oktober 2025.
Erma menjelaskan bahwa Personal Weather Station (PWS) adalah alat pengukur cuaca yang memiliki jaringan global dan dapat diakses secara terbuka. Data yang diperoleh setiap lima menit memberikan informasi yang akurat tentang kondisi cuaca. Penelitian BRIN mengenai proyeksi kenaikan suhu maksimum di wilayah Surabaya Raya menggunakan data dari PWS ini mencakup kota-kota seperti Surabaya, Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Mojokerto, dan Bangkalan.
Hasil riset menunjukkan bahwa suhu maksimum harian pada 2050 akan meningkat hingga lebih dari 5 derajat Celsius berdasarkan model iklim CCAM. Studi ini telah dipublikasikan pada 2023 dan telah dikonfirmasi melalui data-data yang terekam melalui jaringan misole.
Perubahan Pola Cuaca di Pulau Jawa
Sementara itu, pola cuaca di Pulau Jawa kini mengalami perubahan signifikan. Dari kondisi panas dan kering pada awal hingga pertengahan Oktober, kini udara terasa hangat dan lembap. Di sebagian wilayah selatan Jawa, mulai terasa dingin dan lembap.
Erma menjelaskan bahwa perubahan ini dipicu oleh kombinasi beberapa faktor atmosfer global dan regional. Ia menyebut tiga faktor utama: gelombang Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat ini berada di wilayah Indonesia bagian barat (fase 4), pembentukan badai tropis 95S di atas Samudra Hindia dekat Sumatra sejak 21 Oktober, serta fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) negatif berintensitas kuat.
“Ketiga faktor tersebut diperkuat oleh pemanasan suhu permukaan laut di perairan selatan Jawa, sehingga penjalaran klaster awan dari Samudra Hindia menuju Jawa akan secara efektif membuat hujan yang massif dan merata pada sore-malam hari di sebagian besar Jawa,” kata Erma ketika dihubungi Tempo, Rabu, 22 Oktober 2025.
Meskipun demikian, profesor klimatologi ini menambahkan bahwa suhu panas masih merata terjadi di Jawa pada pagi hingga siang. Hal ini menunjukkan bahwa meski ada perubahan cuaca, kondisi panas tetap menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







