Teknologi Baru Harus Selaras dengan Tujuan Kemanusiaan

Teknologi Baru Harus Selaras dengan Tujuan Kemanusiaan

Teknologi Harus Mendukung Kemanusiaan, Bukan Menggantikannya



Pengembangan teknologi baru memiliki nilai yang besar jika diarahkan pada tujuan kemanusiaan. Hal ini mencakup pembentukan nalar yang jernih, etika yang kuat, serta daya cipta yang berakar pada tanggung jawab moral. Dalam konteks pendidikan, psikolog sekaligus Ketua Yayasan Cendekia Harapan (CH School), Lidia Sandra, menekankan bahwa teknologi sejatinya hanyalah alat, bukan arah utama.

Menurutnya, kemajuan teknologi hanya bernilai bila tunduk pada tujuan kemanusiaan. “Teknologi seharusnya memperdalam nalar, bukan menggantikannya,” ujarnya dalam perayaan 22 tahun CH School, Rabu 29 Oktober 2025. Ia menjelaskan bahwa kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) tidak sekadar tentang membagi peran antara manusia dan mesin, melainkan memposisikan manusia tetap menjadi pemimpin dalam arah berpikir, sementara teknologi membantu mempertajam cara berpikir tersebut.

Filosofi Kolaborasi Manusia dan AI

Filosofi ini diterapkan dalam pembelajaran di CH School. Di sekolah ini, algoritma tidak dijadikan pengganti guru atau siswa, melainkan mitra yang menguji argumen, mendorong refleksi, dan mengajak berpikir lebih dalam. Dalam hal ini, AI digunakan sebagai alat bantu untuk meningkatkan proses belajar, bukan menggantikan peran manusia.

Perayaan 22 tahun CH School turut dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, serta Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Toni Toharudin. Keduanya meninjau implementasi pembelajaran berbasis teknologi dan AI di sekolah tersebut.

Dalam sesi presentasi terbuka, siswa SD, SMP, dan SMA memaparkan proyek lintas disiplin, seperti rancangan pengelolaan sampah berbantuan AI, aplikasi dengan etika lingkungan, hingga analisis sosial berbasis data. Setiap karya dilengkapi dengan Human–AI Collaboration Statement yang merinci porsi bantuan AI dan porsi nalar siswa, lengkap dengan tautan riwayat percakapan mereka dengan alat AI.

Pendekatan yang Membuka Ruang Penilaian Proses Berpikir

Pendekatan ini dinilai membuka ruang penilaian proses berpikir secara transparan dan membiasakan integritas akademik digital sejak dini. Atip Latipulhayat menyebut praktik di CH School sebagai isyarat arah bagi ekosistem pendidikan. Dalam artian, sekolah tersebut tidak harus menunggu perubahan regulasi dalam mencoba relevan. “Tetapi dapat dimulai dari kelas yang berani bereksperimen dan transparan,” katanya.

Toni Toharudin menilai pendekatan CH School selaras dengan mandat standar dan asesmen yang menekankan fleksibilitas kurikulum, literasi teknologi, dan penguatan karakter. “Yang tampak di sini bukan sekadar keterampilan abad ke-21, tetapi juga kebijaksanaan abad ke-21,” ujarnya.

Integrasi Disiplin dalam Kolaborasi Manusia dan AI

Timothy Dillan, Chief of Data and AI CH School, menekankan disiplin integrasi sebagai panduan kolaborasi manusia dan AI. Keduanya menempel pada siklus perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan perbaikan. Dia mengatakan, pihaknya juga mengembangkan prototipe Teaching Plan Assistant dan Interactive Artifact Assistant untuk membantu guru menyusun materi yang selaras standar pembelajaran mendalam dan karakter generasi kini.

“Target kami adalah melahirkan Agentic AI Builder, yakni pelajar yang tidak sekadar memakai AI, tetapi mampu merancang, menguji, dan mempertanggungjawabkan dampaknya,” ujar Timothy.

Konektivitas Inovasi dan Integritas Ilmiah

Sheena Abigail, Vice Principal CH School, menekankan penautan inovasi dan integritas ilmiah dalam menumbuhkan praktik berbasis bukti atau evidence-based practice. “Siswa bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga menarasikan prosesnya secara jujur termasuk peran AI,” tuturnya.

Hal itu diterapkan dengan tujuan agar kejujuran akademik menjadi kebiasaan, bukan pengecualian. “Kami coba padukan inovasi kelas dengan pengalaman nyata melalui program Maker Hours, Live In, dan Workplace Exposure Program yang mengarahkan pengetahuan pada pemecahan masalah sosial yang relevan dan berkelanjutan,” katanya.

Related posts