3 penelitian kesehatan terbaru Indonesia yang gunakan kecerdasan buatan (AI)

3 penelitian kesehatan terbaru Indonesia yang gunakan kecerdasan buatan (AI)

Penggunaan Artificial Intelligence dalam Penelitian Kesehatan

Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dalam bidang kesehatan bukanlah hal yang baru. Namun, dengan perkembangan pesat dari AI, inovasi dalam penelitian terus berkembang dan bisa ditingkatkan agar lebih bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu contohnya adalah Ristek Kalbe Science Awards (RKSA) 2025, yang mengumumkan beberapa penelitian inovatif yang memanfaatkan AI.

Tema dan Tujuan RKSA 2025

RKSA 2025 mengusung tema “Kerja Sama Pentahelix dalam Menunjang Hilirisasi Penelitian”. Tema ini menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak seperti industri, peneliti, pemerintah, komunitas, dan media. Dengan pendekatan ini, RKSA berupaya mempercepat proses hilirisasi penelitian menjadi produk dan jasa yang bermanfaat bagi masyarakat.

Irawati Setiady, Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam inovasi sains dan teknologi. RKSA merupakan wujud komitmen Kalbe untuk memperkuat riset nasional. Tujuannya adalah menjembatani sinergi antara industri dan peneliti serta mempercepat hilirisasi penelitian agar hasilnya bisa berdampak ekonomi dan sosial.

Kolaborasi dengan Kemendiktisaintek

RKSA bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), yang sejalan dengan program “Diktisaintek Berdampak”. Tujuan utamanya adalah mentransformasi sains dan teknologi sebagai penggerak utama perubahan sosial dan ekonomi bangsa. Untuk mencapai tujuan ini, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Fokus Bidang Penelitian

RKSA 2025 fokus pada beberapa bidang penelitian, termasuk Pharma & Biopharma, Allogeneic Cell Therapy, e-Health, Medical Devices, Diagnostics, Health, Food & Beverages, dan Natural Products. Semua penelitian ini didorong untuk memanfaatkan AI sebagai alat pendukung inovasi.

Penelitian yang Terpilih

Dari total 420 judul penelitian yang masuk, tiga penelitian terpilih. Pertama, Achmad Himawan dari Universitas Hasanuddin dengan topik “AI-assisted Diagnostics of Atopic Dermatitis: Combination of Photographic Recognition and Transdermal Biomarker Sampling To Replace Dated Clinical Scoring”. Kedua, Aulia Arif Iskandar dari Swiss German University dengan penelitian “Perangkat EKG Cerdas 5-Lead Portabel dengan AI untuk Skrining Kardiovaskular secara Real-time”. Terakhir, Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc. dari Universitas Gadjah Mada dengan penelitian “Hilirisasi Tablet Effervescent Kombucha Rosella sebagai Minuman Fungsional Antidiabetik dengan Integrasi Kalibrasi AI-NIR untuk Pengendalian Mutu Real-Time”.

Proses Penjurian dan Pengawasan

Ketua Dewan Juri RKSA 2025, Prof. Dr. Amin Soebandrio, Ph.D, Sp.MK., menjelaskan bahwa proses penjurian dirancang secara holistik dengan melibatkan akademisi, pemerintah, dan industri. Selain itu, proses penelitian para pemenang akan dipantau secara berkala. Hal ini dilakukan karena kesuksesan inovasi bergantung pada aplikasi dan pemahaman regulasi.

Model Kolaborasi Pentahelix

Jimmy Susanto, Ketua Panitia RKSA 2025, menjelaskan bahwa model kolaborasi pentahelix digunakan untuk mempercepat hilirisasi. Keterlibatan akademisi, industri, pemerintah, komunitas, dan media bertujuan untuk memastikan hasil riset dapat dikomersialisasi dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Komitmen Kalbe dalam Sains dan Teknologi Kesehatan

Irawati menegaskan bahwa salah satu pilar keberlanjutan Kalbe adalah Sains dan Teknologi Kesehatan. Komitmen ini diwujudkan melalui RKSA yang diselenggarakan sejak 2008. Melalui RKSA, Kalbe berkomitmen mendukung perkembangan dunia penelitian, khususnya di bidang kesehatan. Harapan besar dipegang bahwa proses hilirisasi ini akan menghasilkan produk dan jasa yang mampu menyehatkan bangsa Indonesia.

Related posts