Pentingnya Hidrasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Saya pernah mengalami hari yang sibuk tanpa sempat minum cukup air. Saat sore tiba, kepala terasa berat, bibir kering, dan tubuh lemas. Baru saat itu saya sadar, betapa sering kita menyepelekan kebutuhan cairan tubuh. Fenomena ini bukan hanya terjadi pada saya. Banyak orang, terutama di kota besar, lebih memilih kopi, teh, atau minuman manis dibanding air putih. Padahal, tubuh kita memberi sinyal jelas ketika kekurangan cairan.
Menurut American Public Health Association, banyak anak-anak dan orang dewasa tidak minum air dengan cukup setiap harinya. Dehidrasi dapat memengaruhi fungsi organ, menurunkan konsentrasi, hingga meningkatkan risiko penyakit. Air berperan penting dalam menjaga keseimbangan cairan, mengatur suhu tubuh, dan membantu mengeluarkan racun.
Penelitian di Anais Brasileiros de Dermatologia menunjukkan bahwa lingkaran hitam di bawah mata bisa menjadi tanda dehidrasi. Kulit yang kusam dan kering juga sering muncul akibat kurang cairan. Selain itu, tubuh yang kekurangan elektrolit cenderung menginginkan makanan asin sebagai kompensasi.
Sakit kepala parah adalah sinyal lain. Dehidrasi menurunkan aliran darah dan oksigen ke otak, memicu peradangan. Penelitian di BMJ Open Sport & Exercise Medicine juga menegaskan bahwa dehidrasi membuat otot lebih rentan kram, baik saat duduk maupun beraktivitas.
Saya teringat seorang rekan kerja yang selalu membawa botol minum besar ke kantor. Ia mengatakan, “Kalau tidak ingat minum, tubuh langsung protes.” Kebiasaan sederhana itu membuatnya jarang sakit kepala atau merasa lemas. Contoh lain bisa kita lihat pada atlet. Mereka selalu menekankan pentingnya hidrasi sebelum dan sesudah latihan. Tanpa cukup cairan, performa menurun drastis. Bukankah tubuh kita juga “berolahraga” setiap hari, meski hanya dalam bentuk aktivitas ringan?
Analogi sederhana: tubuh ibarat tanaman. Jika tidak disiram, daun akan layu dan kering. Begitu juga kulit manusia, ia kehilangan elastisitas ketika kekurangan air. Saya juga pernah melihat seorang ibu rumah tangga yang sering mengeluh kram otot saat memasak. Setelah diperiksa, ternyata ia jarang minum air putih. Sejak membiasakan diri minum dua liter sehari, keluhan itu berkurang.
Contoh lain datang dari kebiasaan anak muda yang lebih memilih minuman bersoda. Mereka merasa segar sesaat, tetapi sebenarnya tubuh tidak mendapatkan hidrasi optimal. Air putih tetap menjadi pilihan terbaik. Tambahan ilustrasi lain bisa kita lihat pada pekerja lapangan. Seorang tukang bangunan yang bekerja di bawah terik matahari sering membawa air galon kecil. Ia tahu, tanpa cukup minum, tubuhnya akan cepat lelah dan berisiko pingsan. Begitu juga dengan pengemudi ojek daring yang sering lupa minum karena sibuk mengejar order. Tubuh mereka memberi sinyal lewat sakit kepala atau bibir pecah-pecah.
Pertanyaannya, mengapa kita sering menunda minum air dengan alasan sibuk? Apakah kita rela menukar kesehatan jangka panjang hanya karena lupa membawa botol minum? Bukankah lebih mudah menyiapkan air putih daripada menanggung sakit akibat dehidrasi?
Dalam budaya modern, minuman manis dan berenergi sering dianggap lebih menarik daripada air putih. Iklan dan media sosial memperkuat persepsi bahwa minuman berwarna lebih “keren”. Akibatnya, banyak orang mengabaikan kebutuhan dasar tubuh. Di Indonesia, kebiasaan minum teh manis atau kopi sudah menjadi bagian dari keseharian. Namun, jika tidak diimbangi dengan air putih, tubuh tetap berisiko dehidrasi. Fenomena ini menunjukkan bahwa gaya hidup modern kadang menjauhkan kita dari hal-hal sederhana yang justru paling penting.
Kesadaran akan hidrasi kini mulai muncul melalui kampanye kesehatan. Banyak komunitas olahraga dan sekolah mengingatkan pentingnya membawa botol minum sendiri. Ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga bagian dari gaya hidup berkelanjutan yang mengurangi sampah plastik. Budaya membawa tumbler kini menjadi tren positif. Selain menjaga tubuh tetap terhidrasi, kebiasaan ini juga mendukung gerakan ramah lingkungan. Bukankah indah jika satu kebiasaan sederhana bisa sekaligus menjaga kesehatan dan bumi?
Tubuh selalu memberi sinyal ketika kekurangan air. Lingkaran hitam, kulit kering, sakit kepala, kram otot, hingga keinginan makan asin adalah tanda yang tidak boleh diabaikan.


