Alasan Pemilik Toko Tak Laporkan Pria Jaket Ojol yang Curangi Rp2 Juta

Alasan Pemilik Toko Tak Laporkan Pria Jaket Ojol yang Curangi Rp2 Juta

Kisah Pria Ojek Online yang Curangi Toko Sembako Karena Kesulitan Ekonomi

Di sebuah toko sembako di Sayung, Demak, Jawa Tengah, kejadian yang tampak biasa pada hari Jumat (28/11/2025) berubah menjadi perbincangan di media sosial. Saat itu, Toko Sembako Sahuri milik Munir beroperasi seperti biasanya. Namun, kedatangan seorang pria berjaket hijau Grab mengubah situasi menjadi tidak terduga.

Pria tersebut masuk dengan langkah tenang dan bahkan bertanya tentang alamat serta meminta air minum. Gerak-geriknya tampak wajar di mata Imamah, istri Munir yang menjaga toko. Namun, saat Imamah berbalik menuju belakang untuk mengambilkan minuman, pelaku memanfaatkan momen itu untuk membuka laci dan mengambil uang.

Aksinya terekam jelas oleh kamera CCTV, dan rekaman itu cepat viral, memicu kemarahan publik. Banyak orang menganggap pelaku sebagai pencuri berseragam ojek online. Namun, di balik label itu, ada kisah yang lebih rumit.

Motif Tersembunyi di Balik Aksi Pelaku

Beberapa hari setelah kejadian, keluarga pemilik motor yang digunakan pelaku datang ke toko Munir. Mereka menjelaskan bahwa pelaku bukanlah mitra ojek online dan juga bukan pemilik motor tersebut. Jaket Grab yang dikenakan pelaku dibeli sendiri, bukan untuk bekerja, tetapi untuk menyamarkan aksi yang dilakukannya karena tekanan hidup yang menjerat.

Munir mengungkapkan bahwa pelaku hanya meminjam motor dan jaket Grab. “Dia bukan yang punya motor. Cuma pinjam. Jaket Grab juga beli sendiri,” kata Munir, Selasa (2/12/2025).

Ketika Munir akhirnya bertemu langsung dengan keluarga pelaku, barulah kisah sebenarnya terungkap. Pelaku sedang menghadapi kesulitan ekonomi berat. Anaknya yang sedang sakit membuat biaya rumah tangga membengkak, sementara penghasilannya tidak cukup untuk menutupi kebutuhan mendesak. Terdesak situasi dan kebingungan, ia memilih jalan yang salah dengan mengambil uang di toko Munir.

Setelah aksi itu viral, pelaku sempat melarikan diri ke Bandung dalam kondisi kalut dan ketakutan. Namun rasa bersalah justru mengikutinya. Hatinya tidak tenang. Beberapa hari kemudian, ia pulang dan memberanikan diri kembali ke toko Munir. Ia meminta maaf dan mengembalikan uang Rp2 juta yang telah diambilnya.

Alasan Tidak Melaporkan Kejadian ke Polisi

Munir mengingat momen itu dengan jelas. Meskipun merasa dirugikan dan syok dengan kejadian tersebut, ketulusan pelaku dalam meminta maaf membuatnya mempertimbangkan kembali langkah hukum. Setelah berdiskusi dengan keluarga dan melihat kondisi pelaku, Munir mengambil keputusan yang tak semua orang berani ambil: memaafkan dan tidak melaporkan kejadian itu ke polisi.

“Tidak kami laporkan ke polisi. Siapa tahu dengan penyelesaian seperti ini dia bisa jadi lebih baik. Tadi juga sudah minta maaf dengan tulus,” ungkap Munir dengan nada yang lebih lembut.

Imamah masih mengingat jelas bagaimana pelaku memulai aksinya dengan berpura-pura bertanya alamat. Namun kini, setelah uang kembali dan permintaan maaf disampaikan, ia memilih untuk legawa. Baginya, apa yang terjadi sudah menjadi pelajaran berharga.

Pelajaran dari Kehidupan yang Berjuang

Kisah ini, yang sempat memicu kemarahan publik, kini berakhir dengan sebuah pengingat bahwa di balik sebuah kesalahan, terkadang ada kehidupan yang tengah berjuang keras. Dan bagi sebagian orang, kesempatan kedua bisa menjadi titik balik menuju jalan yang lebih jujur dan lebih baik.

Related posts