Banjir Bandang Kembali Terjadi di Malalak, Sumatera Barat
Beberapa video yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa banjir bandang kembali terjadi di wilayah Malalak, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, pada hari Minggu sore, 7 Desember 2025. Dalam video tersebut, terlihat bagaimana arus air dan lumpur mengalir deras menyerbu ke daratan yang masih tertutup lapisan lumpur dari bencana sebelumnya pada akhir November lalu.
Beberapa akun pengguna media sosial yang membagikan video tentang banjir bandang susulan ini adalah @volcaholic1 dan @WeatherMonitors. Video-video tersebut telah ditonton sekitar 100 ribu kali hingga penulisan artikel ini.
Berdasarkan data curah hujan harian Indonesia dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), banjir bandang atau yang dikenal dengan istilah “galodo” dalam bahasa setempat terjadi setelah hujan kembali turun dua hari sebelumnya. Pada hari Sabtu, 6 Desember, Stasiun Klimatologi BMKG Sumatera Barat yang berada di Padang Pariaman mencatat curah hujan sebesar 37,1 mm, yang termasuk dalam kategori hujan sedang.
Pada hari Ahad, Stasiun Meteorologi Maritim BMKG di Teluk Bayur, Padang, melaporkan curah hujan lebat sebesar 55,8 mm. Angka ini masih jauh di bawah jumlah curah hujan yang tercatat pada 23 dan 24 November lalu, ketika Stasiun Klimatologi Sumatera Barat mencatat curah hujan ekstrem sebesar 167 dan 154 mm.
Data dari stasiun-stasiun tersebut merepresentasikan curahan hujan intensitas tinggi yang terjadi selama beberapa hari akibat dampak Siklon Senyar yang melanda Aceh hingga Sumatera Barat. Kombinasi antara cuaca ekstrem dan efek deforestasi kemudian menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor di wilayah utara Sumatera.
Pengalaman Saksi Hidup Galodo
Sementara itu, Fendi, warga Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, menceritakan pengalamannya saat kampung halamannya luluh lantak akibat banjir bandang pada 26 November 2025. Ia mengatakan tidak pernah menyangka kampungnya akan hancur dalam sekejap akibat galodo yang meluncur deras dari arah perbukitan sekitar pukul 15.00.
Fendi menyaksikan kejadian tersebut secara langsung. Ia juga mendengar bunyi letupan keras dari arah perbukitan, diduga akibat benturan air bah yang terjadi. Menurutnya, ia melihat air berwarna putih dan kayu-kayu mulai meluncur deras dari bukit tersebut. Ia segera berusaha meneriaki warga agar segera menyelamatkan diri.
“Saya melihat langsung dari bukit itu air berwarna putih dan kayu-kayu mulai meluncur deras. Saya berusaha meneriaki warga agar segera menyelamatkan diri,” ujar Fendi kepada Antara, 6 Desember 2025.
Dari tempat itu, ia menyaksikan kampungnya yang tenang dan indah dengan hamparan sawah hijau serta petani menjemur kayu kulit manis di pinggir jalan, seketika berubah menjadi lautan lumpur dan tumpukan kayu. Sebagai penyintas korban likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah, pada 2018 lalu, Fendi mengaku sempat membantu penyelamatan warga satu per satu.
“Terus terang saja, saya sampai tidak percaya sore itu saya sanggup menggendong dua perempuan yang bobot badannya jauh lebih besar dari saya. Mungkin ini kuasa Tuhan,” kata Fendi mengenang.
Dalam ingatannya, setidaknya ada empat hingga lima orang, termasuk mertua perempuannya, yang berhasil ia selamatkan. Semua korban dibawa ke sebuah pondok kecil. Setelah itu, Fendi berlari meminta bantuan ke daerah Tandikek, desa terdekat dari lokasi bencana.
“Saya minta tolong ke warga di sana untuk menghubungi TNI, Polisi, dan BNPB untuk membantu warga,” tuturnya.
Sekitar pukul 22.00 WIB, Fendi mengatakan anggota Brimob Polda Sumbar tiba di lokasi bencana. Namun, saat itu hujan masih mengguyur dari langit Malalak Timur. Kondisi pun gelap gulita karena aliran listrik padam.
Esok paginya, tim SAR gabungan yang terdiri atas Basarnas Padang, Brimob Polda Sumbar, BPBD, PMI, relawan dan masyarakat mulai menyisir area perkampungan untuk mencari korban banjir bandang. Satu per satu korban tewas ditemukan. Tangis dan air mata tak henti mengalir dari mereka yang selamat dari maut.


