Wilayah Pantai Timur Sumatera Rentan Penyelundupan
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengungkapkan bahwa wilayah Pantai Timur Sumatera menjadi area yang rentan terhadap aktivitas penyelundupan barang. Menurut Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama, pelabuhan-pelabuhan tikus banyak ditemukan di pesisir Timur Sumatera.
Pernyataan tersebut disampaikan Djaka setelah mengumumkan tindakan penggagalan terhadap aktivitas distribusi barang ilegal sepanjang pekan pertama Desember 2025. Dalam kesempatan yang sama, Bea Cukai juga menyampaikan upaya penggagalan yang dilakukan secara terpisah pada 3 Desember 2025 dan 10 Desember 2025.
Penggagalan Penyelundupan Pakaian Ilegal
Penindakan pertama dilakukan terhadap dua truk yang membawa pakaian yang diduga merupakan barang impor bermerek dengan label negara asal seperti made in China dan made in Bangladesh. Bea Cukai berhasil menggagalkan distribusi pakaian ilegal tersebut di ruas Tol Palembang–Lampung pada Rabu, 3 Desember 2025.
Dari hasil pemeriksaan, dua supir mengaku hanya menjalankan perintah untuk membawa truk dari Suban, Jambi, menuju Jakarta. Mereka tidak mengetahui isi dari muatan yang mereka angkut.
Penyelundupan Kontainer di Pelabuhan Sunda Kelapa
Sementara itu, penindakan kedua dilakukan terhadap tiga kontainer yang tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, pada Rabu, 10 Desember 2025. Tiga kontainer tersebut diangkut menggunakan kapal kargo KM Indah Costa yang tiba di Pelabuhan Kijang, Kepulauan Riau.
Dari total kontainer tersebut, dua di antaranya berisi produk pakaian jadi ilegal sedangkan satu kontainer lainnya berisi empat unit mesin pembuat rokok. Saat ini, Bea Cukai masih melakukan penyelidikan terkait negara asal kedua jenis barang ilegal tersebut.
Dugaan Penyelundupan Melalui Jalur Tikus
Djaka menduga bahwa kasus penyelundupan barang ilegal yang dimuat dalam kontainer maupun truk berasal dari jalur tikus di Pesisir Timur Sumatera. Untuk mencegah kejadian serupa, Bea Cukai melakukan pengawasan yang ketat di sepanjang Pantai Timur Sumatera.
Daerah pengawasan meliputi Belawan, Tanjung Balai Asahan, Dumai, Jambi, dan Kepulauan Riau. “Ini akan kami awasi dengan ketat,” ujar Djaka.
Bea Cukai memiliki pangkalan utama operasi dan sejumlah kapal yang rutin melakukan patroli di perairan Sumatera ataupun pesisir Timur Sumatera.
Penyelidikan Lebih Lanjut Terhadap Pelaku Penyelundupan
Djaka menyatakan bahwa Bea Cukai akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui pelaku penyelundupan barang. Menurutnya, modus yang digunakan oleh pelaku adalah jaring terputus melalui perantara supir.
“Supir hanya menerima pesan melalui handphone dengan dua kendaraan sudah terisi dengan muatan full, sehingga untuk memastikan siapa pemiliknya kita perlu penyelidikan lebih lanjut,” tutur dia.
Upaya Mengatasi Penyelundupan
Untuk mengatasi penyelundupan, Bea Cukai terus meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait dan memperkuat sistem pengawasan. Selain itu, pihaknya juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang dampak negatif dari penyelundupan barang ilegal.
Dengan langkah-langkah tersebut, Bea Cukai berharap dapat mengurangi jumlah penyelundupan dan menjaga keamanan ekonomi nasional.


