Bunga Rafflesia Dapat Dibudidayakan?

Bunga Rafflesia Dapat Dibudidayakan?

Keunikan dan Tantangan dalam Pelestarian Rafflesia

Rafflesia adalah salah satu tanaman yang paling menarik perhatian di Indonesia. Bunganya memiliki ukuran yang sangat besar, hingga mendapatkan gelar bunga tunggal terbesar di dunia. Namun, keunikan ini juga dibarengi dengan aroma yang sangat busuk, sehingga sering disebut sebagai “bunga bangkai”. Hal ini membuatnya menjadi bunga yang sangat spesifik dan unik.

Keunikan Rafflesia membuat banyak orang tertarik untuk mempelajarinya. Di Indonesia, Rafflesia dilindungi oleh hukum dan menjadi salah satu bunga nasional. Sayangnya, kondisi alaminya semakin mengkhawatirkan. Tanaman ini sudah langka secara alami, dan ancaman seperti penggundulan hutan serta perubahan iklim semakin memperparah situasi keberadaannya. Pertanyaannya adalah, apakah Rafflesia bisa dibudidayakan untuk dilestarikan?

Sifat Parasit yang Membuat Rafflesia Misterius



Dalam dunia botani, Rafflesia hampir tidak bisa disebut tumbuhan biasa. Ia tidak memiliki daun, batang, maupun akar. Tubuhnya hanya berupa jaringan mirip benang yang hidup di dalam tubuh tanaman lain. Fisiknya baru terlihat saat waktunya bereproduksi, ketika kuncupnya mulai tumbuh dan mekar menjadi bunga raksasa berbau busuk.

Gaya hidup parasit ini menjadikan Rafflesia sebagai salah satu tanaman parasit yang paling ekstrem. Ia tidak memiliki klorofil sama sekali, sehingga tidak mampu melakukan fotosintesis. Alih-alih memproduksi makanan sendiri, Rafflesia menyerap semua nutrisi dari tanaman inang melalui struktur bernama haustorium. Artinya, Rafflesia bergantung sepenuhnya pada tanaman yang dijangkitinya. Jika tanaman tersebut mati, maka Rafflesia akan ikut mati.

Rafflesia juga tidak bisa hidup di sembarang tanaman. Semua spesies Rafflesia hanya bergantung pada tanaman merambat dari genus Tetrastigma. Tanaman ini harus merambat naik ke tanaman atau pohon lain karena batangnya tidak bisa berdiri tegak. Sifat parasit dan gaya hidup yang spesifik ini membuat Rafflesia sangat unik, sekaligus sulit dipelajari.

Rafflesia adalah Bunga yang Langka Secara Alami



Tidak mudah bagi Rafflesia untuk bereproduksi di alam liar. Bunga, sebagai pusat reproduksi tumbuhan, biasanya memiliki alat reproduksi lengkap, yakni bagian jantan (serbuk sari) dan betina (putik). Pada Rafflesia, setiap individu hanya memiliki satu alat reproduksi atau berjenis kelamin tunggal. Untuk pembuahan alami, dua Rafflesia harus mekar secara bersamaan dalam jarak cukup dekat dan salah satunya harus berjenis kelamin berbeda.

Reproduksi Rafflesia juga sangat rumit karena bunganya hanya mekar dalam waktu beberapa hari saja. Waktu penyerbukan sangat singkat jika dibandingkan dengan rentang hidup Rafflesia yang bisa mencapai tahunan. Belum lagi kemungkinan bahwa Rafflesia dimakan hewan saat masih berupa kuncup.

Oleh karena itu, Rafflesia langka secara alami. Ancaman seperti penggundulan hutan dan krisis iklim semakin memperparah situasi keberadaannya. Rafflesia membutuhkan dukungan konservasi, salah satunya adalah dengan membudidayakan.

Apakah Rafflesia Bisa Dibudidayakan?



Pertanyaan utamanya adalah apakah Rafflesia bisa dibudidayakan? Peneliti dan ahli botani telah berusaha membudidayakan Rafflesia selama beberapa puluhan tahun. Sayangnya, usaha budi daya Rafflesia selalu gagal. Sifat parasit dan gaya hidup yang sangat spesifik membuat Rafflesia sangat sulit dikembangbiakkan.

Benih Rafflesia sering kali gagal berkecambah. Laporan keberhasilan perbanyakan Rafflesia melalui biji masih jarang, meskipun ada beberapa pengecualian. Salah satunya adalah pekebun lokal dari Bukittinggi, Sumatra Barat, yang berhasil menumbuhkan Rafflesia arnoldii dengan menaburkan biji dari buah matang Rafflesia ke tanaman merambat Tetrastigma di kebunnya.

Rafflesia tidak bisa dibudidayakan dengan metode perbanyakan yang biasa digunakan untuk tanaman parasit. Sebuah studi pernah membandingkan benih Rafflesia dengan benih tanaman parasit lain. Dalam studi yang diterbitkan Plants, People, Planet pada 2023 lalu, ditemukan bahwa benih Rafflesia tidak memiliki gen-gen terkait untuk merespons senyawa yang menjadi sinyal perkecambahan benih tanaman parasit lain. Dari segi benih pun Rafflesia berbeda dari tanaman parasit lain.

Cara terbaik dan paling ampuh untuk membudidayakan Rafflesia adalah dengan mencangkok Tetrastigma yang terinfeksi Rafflesia pada batang lain yang tidak terinfeksi. Metode ini berhasil dilakukan oleh ahli botani dari Kebun Raya Bogor, Sofi Mursidawati. Dengan metode ini, ia berhasil menumbuhkan 16 Rafflesia dari kuncup menjadi mekar.

Meskipun upaya budi daya Rafflesia terlihat kecil, hal ini bisa menjadi langkah besar dalam pelestarian tumbuhan langka ini. Studi terbaru yang dilansir Plants, People, Planet 2023 lalu menemukan bahwa sebagian besar spesies Rafflesia terancam punah. Upaya budi daya oleh ahli botani maupun warga diharapkan bisa turut membantu pelestarian Rafflesia.

Related posts