Pemandangan Baru di Rumah-Rumah Indonesia
Di banyak rumah di Indonesia, terdapat satu pemandangan yang kini menjadi tradisi tak tertulis, yaitu Kelas Bimbingan Teknologi Lintas Generasi. Di dalam kelas ini, para pengajarnya adalah generasi yang lahir bersama dengan loading bar, browser ber-tab banyak, dan notifikasi Instagram. Mereka adalah Gen Z dan Millennial. Sementara para muridnya adalah orang-orang yang sudah bertahan di masa pager, telepon rumah, dan kaset yang harus dibalik. Mereka adalah Gen X dan Boomer.
Meskipun mereka sukses mengatur hidup, namun ketika menghadapi satu ikon misterius di pojok kanan atas aplikasi, mereka justru ciut. “Tinggal klik itu aja, Ma…” adalah kalimat yang sering kali menjebak. Semua dimulai dengan optimisme “Ma, ini gampang kok, tinggal klik itu aja.” Namun, optimisme tersebut hanya bertahan selama tiga detik.
Setelah itu, kejadian yang tidak terduga bisa terjadi. Mama malah membuka aplikasi lain, panik melihat tampilan gelap (padahal cuma dark mode), atau bahkan menekan tombol “hapus” sambil bertanya dengan wajah bingung, “Ini kalau mama klik, HPnya meledak gak?” Dan akhirnya, kalimat sakti muncul, “Udah ini mama kasih HP nya. Kamu aja deh.”
Di titik ini, Gen Z hanya bisa menarik napas panjang seperti Master Yoda yang sedang mengajarkan padawan paling keras kepala.
Jarak Usia Boleh Tipis, Jarak Teknologi Tetap Jauh
Generasi X sering kali muncul dengan pertanyaan filosofis, seperti “Kenapa harus ada password? Kenapa tidak bisa langsung login aja?” Mereka memiliki keinginan tulus untuk mencari makna hidup di balik tombol Allow dan Deny. Sementara para Boomer biasanya lebih dramatis, dengan ucapan seperti, “Mama takut salah pencet, nanti uang mama hilang.” Padahal yang dibuka hanyalah Gallery.
Beda generasi bukan hanya tentang usia, tetapi juga tentang mindset. Salah satu bicara sistem, yang satunya bicara intuisi. Ada ritual yang tidak pernah gagal menghibur: kamu sudah mengirim screenshot langkah-langkah dengan panah merah, membuat voice note, bahkan mengirim video tutorial. Tapi tetap saja, “Nak, mama telpon sebentar ya. Ini tombolnya yang mana sih? Di HP mama kok gak ada.” Padahal, tombol itu ada. Tepat di situ. Besar. Mengkilap. Tapi entah kenapa tampilannya seperti kamuflase khusus untuk generasi di atas 50 tahun.
Drama Kecil Seputar Akun, Password dan Email Cadangan
Gen Z dan Millennial sudah terbiasa membuat akun di mana-mana. Sementara orang tua, menciptakan akun baru seperti membuat KTP kedua. Pertanyaan seperti “Email mama apa?” dan “Yang ini apa?” sering muncul. “Oh itu punya mama. Tapi mama lupa passwordnya. Sama…. mama juga lupa nomer HP yang terdaftar.” Anak-anak zaman sekarang hanya bisa memejamkan mata pelan-pelan sambil berkata dalam hati, “Okay… new game.”
Ketika Mereka Sudah Bisa, Semangatnya Luar Biasa
Yang paling menggemaskan justru saat mereka berhasil. Tiba-tiba mama kirim foto bunga, makanan atau kucing sambil bilang, “Mama berhasil kirim foto! Gimana? Bagus gak?” Atau papa mengirim sticker lucu secara acak. Atau video gitaris rock tahun 80an yang tiba-tiba masuk ke grup keluarga. Ada kebahagiaan polos yang membuat lelahmu runtuh begitu saja.
Mengajari Teknologi Ternyata Adalah Bahasa Kasih
Di balik gemas, frustasi, dan dorongan untuk menyerah, mengajari teknologi adalah cara paling sederhana untuk tetap dekat. Dulu mereka yang mengajarimu cara makan, cara berjalan, cara membaca, cara mengikat tali sepatu. Sekarang kamu mengajari mereka cara video call, cara share lokasi, dan cara menghapus tab browser yang muncul sendiri.
Ada rasa haru yang pelan tapi menenangkan. Karena sebenarnya, yang sedang terjadi bukan cuma bimbingan teknis, tapi bimbingan hati. Gemasnya Gen Z dan Millennial saat mengajari teknologi kepada Gen X dan Boomers adalah potret keluarga modern yang hangat, sedikit drama, sedikit kebingungan, banyak tawa, dan ketulusan di tengahnya.
Teknologi mungkin bikin pusing, tapi justru di situlah momen-momen kecil yang mempererat hubungan muncul. Sentuhan sederhana bahwa kita semua sedang belajar memahami satu sama lain, meski dengan kecepatan internet yang berbeda.







