Masa Depan yang Berarti, Bukan Hanya Usia
Di era modern ini, umur panjang sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Orang-orang bangga ketika usia mereka meningkat, negara berlomba-lomba meningkatkan harapan hidup warganya, dan perusahaan kesehatan menjual konsep bahwa panjang umur adalah simbol kemajuan peradaban. Tapi apakah benar-benar demikian?
Tampaknya kita terjebak dalam pikiran bahwa semakin lama kita hidup, semakin sukses kita dianggap. Namun, pertanyaan penting yang sering terlewat adalah: apakah kita benar-benar hidup, atau hanya bertahan? Dalam hal ini, sebuah pepatah Latin yang menohok mengatakan, Quam bene vivas refert non quam diu. Artinya, seberapa baik kita hidup lebih penting daripada seberapa lama kita hidup.
Kalimat singkat ini seperti tamparan bagi manusia modern yang sibuk mengejar angka. Kita lupa bahwa masalah terbesar bukanlah kekurangan usia, melainkan kekurangan kedalaman. Kita bisa hidup panjang, tapi apakah kita pernah benar-benar merasakan hidup itu sendiri?
Bayangkan seseorang yang bekerja puluhan tahun, menambah jam lembur, menambah tabungan, dan pencapaian. Usianya panjang, tapi ia tidak pernah punya waktu untuk duduk bersama keluarga, mendengar cerita anaknya, atau sekadar menikmati senja. Hidupnya panjang secara kronologis, tapi pendek secara makna. Seperti berjalan jauh tanpa pernah berpindah, kata Seneca. Panjang perjalanan tidak berarti apa-apa jika tidak ada transformasi di dalamnya.
Obsesi pada Kuantitas
Dunia modern memang terobsesi pada kuantitas. Kita menghitung gaji, jam kerja, jumlah pengikut media sosial, bahkan durasi hidup. Semua hal dipadatkan menjadi angka. Tapi hidup yang bermakna tidak bisa diukur dengan statistik. Itulah sebabnya banyak orang yang hidup panjang justru merasa kosong. Mereka punya waktu, tapi tidak punya arah. Mereka punya usia, tapi tidak punya tujuan.
Saya teringat seorang kakek di kampung yang usianya sudah lebih dari 90 tahun. Ia tidak pernah sekolah tinggi, tidak punya harta berlimpah, tapi setiap orang mengenangnya sebagai sosok yang penuh kebijaksanaan. Ia sering duduk di beranda rumah, bercerita tentang masa mudanya, memberi nasihat sederhana, dan selalu tersenyum ramah. Hidupnya mungkin tidak spektakuler, tapi ia meninggalkan jejak yang dalam di hati orang lain. Bukankah itu lebih berharga daripada sekadar angka usia?
Kebahagiaan yang Tak Terukur
Psikolog juga mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak identik dengan durasi hidup. Orang yang hidup lebih lama tidak otomatis lebih bahagia. Kebahagiaan muncul dari hal-hal yang tidak bisa dihitung: rasa terhubung, rasa memiliki tujuan, rasa memberi dampak.
Hidup bukan hanya tentang mengumpulkan pengalaman, tapi juga menafsirkan pengalaman itu. Hidup baik adalah tindakan sadar. Ia menuntut keberanian untuk menolak hal-hal yang tidak selaras dengan nilai diri. Ia menuntut ketekunan untuk memegang prinsip meski dunia memaksa kompromi. Hidup baik bukan sekadar menambah tahun, tapi bagaimana tahun itu dijalani dengan penuh kesadaran. Bagaimana kita menanam nilai, mengelola luka, dan tetap menjaga integritas.
Obsesi pada Umur Panjang
Obsesi pada umur panjang sering jadi pelarian. Kita sibuk memperpanjang daftar tugas, memperpanjang jam kerja, memperpanjang pencapaian. Tapi kita lupa memperpanjang kebijaksanaan, memperpanjang kualitas hubungan, memperpanjang kejujuran. Panjang umur tanpa nilai hanya menghasilkan pengaruh yang dangkal. Sebaliknya, hidup singkat dengan keberanian moral bisa mengguncang kesadaran banyak orang.
Saya pernah membaca kisah seorang aktivis muda yang meninggal di usia 30-an. Hidupnya memang singkat, tapi keberaniannya dan konsistensinya membela keadilan membuat namanya dikenang jauh lebih lama daripada usia yang ia jalani. Kisah seperti ini menunjukkan bahwa makna hidup tidak bergantung pada panjangnya waktu, melainkan pada kualitas tindakan yang kita pilih.
Akhirnya, Makna Hidup
Pada akhirnya, frasa Latin itu tidak menolak usia panjang. Ia hanya menolak anggapan palsu bahwa panjangnya hidup adalah ukuran moral. Hidup baik tidak dinilai dari kalender, tapi dari hati. Dari bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menyelesaikan penderitaan, bagaimana kita tetap menjadi manusia meski hidup tidak selalu bersahabat.
Ketika seseorang menutup mata untuk terakhir kali, dunia jarang mengingat berapa lama ia hidup. Dunia mengingat bagaimana ia mencintai, bagaimana ia berdiri untuk kebenaran, bagaimana ia menebarkan kebaikan. Hidup yang baik meninggalkan gema, dan gema itu tidak membutuhkan umur panjang. Hidup mulai bermakna ketika kita memutuskan untuk membuatnya bermakna.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.


