Cuaca Ekstrem Akibat Siklon Senyar Berdampak Parah pada Nelayan Riau
Cuaca ekstrem yang disebabkan oleh siklon tropis Senyar pada akhir November lalu diduga telah menimbulkan banyak korban jiwa di laut. Sejauh ini, selama pekan lalu, sudah ada enam korban jiwa dari para nelayan yang ditemukan di perairan laut di Rokan Hilir, Riau.
Koordinator Unit SAR Rokan Hilir, Dhoni, mengatakan bahwa seluruh korban ditemukan oleh nelayan Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas. Yang terbaru adalah dua jasad nelayan yang ditemukan pada Sabtu, 6 Desember 2025. “Pertama pukul 11. Terakhir pukul 18.15. Mayat langsung dibawa ke pelabuhan setempat dan langsung dimakamkan di daerah sana,” kata Dhoni pada Sabtu malam.
Dhoni menuturkan, satu di antara enam mayat yang ditemukan telah berhasil diidentifikasi oleh keluarga. Korban diketahui berasal dari Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara. Lima lainnya belum ada konfirmasi meski mereka telah mengumumkan hasil penemuan.
Sejak 28 November lalu, atau dua hari setelah Siklon Senyar masuk ke Sumatera (landfall), tim SAR Rokan Hilir sendiri menerima laporan belasan nelayan hilang. Selama pencarian, tim berhasil menyelamatkan 7 nelayan terdampar di hutan mangrove, sekitaran Pulau Berkey, Kecamatan Bangko. Belakangan diketahui kapal mereka sebelumnya diempas gelombang besar. Kemudian, dua nelayan juga ditemukan di hutan mangrove Kecamatan Sinaboi, setelah tersasar selama dua hari.
“Tim langsung mengevakuasi nelayan-nelayan itu ke rumah sakit dan puskesmas terdekat,” kata Doni yang menambahkan, “Kondisi mereka lemah saat ditemukan karena tanpa makanan dan tak bisa menghubungi siapa pun.”
Tim SAR Rokan Hilir, Riau, saat masih berupaya mencari dua nelayan yang dinyatakan masih hilang. Foto: Dok Tim SAR Rokan Hilir
Tim SAR Rokan Hilir, sudah menghentikan pencarian per Jumat, 5 Desember, setelah tujuh hari berlalu. Mereka menyisakan dua lagi nelayan setempat yang belum ditemukan.
Jaring Nelayan Putus Semua
Cuaca ekstrem dampak badai itu juga mengakibatkan nelayan kehilangan alat tangkap. Safrizal, nelayan Panipahan yang ditemui Tempo beberapa hari lalu, mengaku rugi puluhan juta rupiah setelah 20 utas jaringnya putus dan terbawa gelombang tinggi. Dia mengungkap nelayan lain ada yang rugi lebih besar lagi karena karena putus 60 bal (utas).
“Hanya sebagian yang dapat diselamatkan. Tapi itu pun sudah rusak,” katanya. Ia juga mengungkap, “Gelombang besar sekali. Jaring tak bisa ditarik. Kami selamatkan nyawa saja lagi. Kalau dicari pun takkan ketemu.”
Peringatan Dini Cuaca dari Pemerintah Daerah
Pelaksana tugas Gubernur Riau SF. Hariyanto menyurati seluruh bupati dan wali kota, ihwal penyampaian peringatan dini cuaca. Menindaklanjuti siaran pers Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Riau diprediksi akan terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, satu pekan ke depan.


