Kuliner Khas Basmut

Kuliner Khas Basmut



Tukang Basmut: Kisah di Balik Jajanan Sekolah yang Melegenda dengan Semua Maknanya

Setiap kali melewati gerbang sekolah, mata saya selalu tertuju pada sosok yang setia menunggu di sudut jalan, tukang basmut. Jajanan sederhana yang terbuat dari tepung beras, bawang merah, bawang putih, dan bumbu-bumbu lainnya ini telah menjadi bagian dari kenangan masa kecil banyak orang di Indonesia. Setiap anak sekolah pasti pernah mencicipi rasa basmut yang gurih dan lezat itu, baik sebagai camilan di antara jam pelajaran maupun sebagai bekal perjalanan pulang. Namun, pernahkah kita bertanya siapa sebenarnya sosok di balik gerobak basmut itu? Apa cerita dan pengalaman yang ia miliki selama bertahun-tahun berjualan di depan sekolah?

Suatu hari saya memberanikan diri untuk mendekati seorang penjual basmut yang telah lama berjualan di depan sebuah sekolah dasar di daerah saya. Gerobaknya tampak sederhana, terbuat dari kayu dan besi, dengan atap seng sebagai pelindung dari panas dan hujan. Di dalamnya terdapat kompor yang terus menyala, wajan panas dipenuhi minyak, serta toples-toples berisi bahan baku yang ditata rapi. Ia sendiri mengenakan pakaian sederhana dan topi lusuh yang melindungi kepalanya dari terik matahari. Saat saya mendekat, ia menyapa dengan senyum hangat yang tulus. “Halo Mas, mau basmut? Segelas cuma lima ribu,” katanya ramah.

Saya langsung mengangguk, dan ia segera mulai mengolah adonan. Tangannya lincah mencampur tepung beras dengan air, memasukkan bawang merah dan bawang putih cincang, lalu menambahkan bumbu yang sudah ia racik sesuai takaran. Campuran itu ia masukkan ke dalam cetakan yang dipanaskan. Sambil menunggu basmut matang dan berubah warna keemasan, saya mulai mengajak bicara dan menanyakan tentang kehidupan serta pengalamannya.

“Saya sudah jualan basmut sekitar sepuluh tahun, Mas,” ujarnya dengan bangga. “Dari anak-anak yang dulu masih kecil sekarang sudah pada gede. Ada yang sudah kuliah, ada yang sudah kerja. Kadang kalau ketemu, mereka cerita bahwa dulu tiap hari beli basmut ke saya.” Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Sepuluh tahun adalah perjalanan panjang yang menyaksikan generasi berganti, wajah-wajah kecil menjadi dewasa, tapi kenangan rasa basmut tetap sama.

Ia bercerita bahwa ia berasal dari sebuah desa di Jawa Tengah. Ia merantau ke kota ini sekitar lima belas tahun lalu untuk mencari nafkah. Awalnya ia bekerja sebagai buruh bangunan, namun pekerjaan itu sangat berat dan upahnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia kemudian mencoba mencari pekerjaan yang lebih fleksibel. “Saya lihat banyak anak sekolah suka jajan. Di sini belum banyak yang jual basmut, padahal enak dan harganya murah. Saya juga suka masak, jadi saya coba mulai jualan.”

Awalnya ia tidak terlalu pandai membuat basmut. Ia mengaku sering mendapat kritik dari pembeli kecilnya. “Kadang ada yang bilang terlalu keras, kadang terlalu lembek. Bumbunya juga kadang kurang pas. Tapi anak-anak baik, mereka tetap beli dan kasih saran. Dari situ saya belajar terus sampai akhirnya rasanya pas.” Dengan latihan dan ketekunan, basmut buatannya kini dikenal sebagai jajanan favorit di sekitar sekolah.

Rutinitasnya dimulai sejak subuh. Ia bangun pagi untuk menyiapkan adonan, mencincang bawang, dan mengemasi bahan-bahan sebelum mendorong gerobaknya ke sekolah. Ia mulai mangkal dari pukul tujuh pagi hingga empat sore. Selama itu ia melayani para pembeli sambil tersenyum dan menyapa setiap anak dengan panggilan akrab. “Mereka biasanya panggil saya Pak Basmut,” katanya sambil tertawa kecil. “Kadang mereka cerita tentang pelajaran, tentang nilai ujian, sampai tentang teman-teman mereka.”

Ia tidak hanya menjual kepada siswa, tetapi juga kepada guru dan orang tua murid. “Guru-guru suka beli buat cemilan di kantor. Orang tua juga suka beli buat dibawa pulang.” Terkadang ia mendapat pesanan banyak untuk acara sekolah atau pesta kampung. Ia merasa senang karena jualan sederhana itu bisa membuat banyak orang bahagia.

Namun perjalanan sebagai tukang basmut bukan tanpa tantangan. Musim hujan adalah salah satu masa tersulit. Ia bercerita bahwa ia pernah berhenti di pinggir jalan sambil menggigil, menunggu hujan reda dengan gerobak ditutup plastik. Tetapi meski begitu, anak-anak tetap rela menunggu. “Pernah hujan deras, tapi anak-anak tetap nunggu sambil pegang payung. Katanya, basmut saya bikin hari mereka lebih enak. Waktu itu saya terharu.”

Ada juga masa-masa ketika harga bahan naik, seperti minyak goreng dan tepung. Saat itu ia memilih bertahan tanpa menaikkan harga. “Kalau saya naikin harga, anak-anak banyak yang nggak bisa beli. Jadi biar tipis, yang penting mereka tetap bisa makan.” Ia percaya rezeki datang dari keikhlasan.

Ia juga bercerita tentang seorang anak kecil yang selalu membeli basmut seribu rupiah setiap hari. Suatu kali anak itu sakit, dan ibunya keluar rumah untuk memberi tahu bahwa anaknya tidak bisa menunggu di depan. Tanpa berpikir panjang, ia memberikan basmut gratis sebagai bentuk perhatian kecil. Keesokan harinya anak itu datang dan mengucapkan terima kasih. “Saya inget banget matanya berbinar. Rasanya kayak dikasih hadiah besar,” kenangnya. Momen seperti itu membuatnya merasa pekerjaannya sangat berarti.

Yang paling menyentuh adalah saat alumni datang kembali untuk membeli basmut. Seorang pemuda yang dulu selalu membeli sepulang sekolah kini sudah bekerja. Ia kembali hanya untuk mencari rasa masa kecil. Ia bilang bahwa basmut mengingatkannya tentang masa di mana hidup sederhana dan semua terasa menyenangkan. Mendengar itu, tukang basmut merasa seperti bagian penting dari cerita hidup seseorang.

Saat saya menanyakan apa mimpinya, ia tersenyum. “Saya pengen punya kios kecil supaya tidak harus jalan hujan panas. Saya juga pengen anak-anak saya sekolah tinggi. Saya nggak mau mereka kerja seberat saya.” Ia bercerita bahwa anak bungsunya sedang sekolah menengah atas dan sering membantu berjualan di akhir pekan. Ia berharap suatu hari nanti anaknya bisa melanjutkan usahanya.

“Saya ingin nanti bisa mengajari anak muda bikin basmut. Kalau saya sudah tua, biar ada yang nerusin. Rezeki kalau dibagi, nggak akan habis.” Ia percaya bahwa hidup akan indah jika bermanfaat bagi orang lain.

Saat saya menyelesaikan basmut yang saya beli, rasanya memang lezat. Basmut itu bukan hanya makanan, tapi juga terasa seperti perjuangan, kesabaran, dan cinta. Saya menyerahkan uang dan ia menerimanya dengan senyum yang sama tulusnya. Sebelum saya pergi, ia berkata pelan namun penuh makna, “Terima kasih sudah mau dengar cerita saya. Semoga hari-harimu menyenangkan.” Saya mengangguk sambil menatap gerobaknya yang sederhana namun sarat arti.

Saat melangkah pergi, saya merenungi cerita yang baru saya dengar. Saya menyadari bahwa di sekitar kita ada banyak orang seperti tukang basmut itu, orang-orang yang bekerja keras tanpa banyak dilihat namun memberi kontribusi besar bagi kehidupan. Mereka mungkin tidak terkenal, tidak kaya, dan tidak memiliki jabatan, tetapi mereka memiliki hati yang luhur dan ketulusan yang dalam. Mereka yang diam-diam membantu membentuk kenangan masa kecil kita, memberikan kebahagiaan kecil yang membuat hidup lebih indah.

Suatu hari nanti, ketika saya memiliki anak yang membeli basmut di depan sekolah, saya ingin menceritakan kisah ini. Saya ingin mereka belajar menghargai setiap pekerjaan, karena di balik pekerjaan yang terlihat sederhana, ada jiwa, ada perjuangan, ada mimpi, dan ada kebaikan yang mungkin tidak pernah kita lihat sebelumnya. Sejak hari itu, setiap kali saya melewati gerobak basmut di depan sekolah, pandangan saya tidak lagi sama. Saya melihat lebih dari sekadar jajanan dengan aroma bawang yang menggugah selera. Saya melihat perjalanan panjang seorang manusia biasa yang berjuang untuk mempertahankan hidup dengan caranya sendiri. Saya melihat tangan-tangan yang sudah mengeras karena bekerja keras setiap hari demi keluarganya. Dan saya melihat mata yang menyimpan harapan, sekaligus rasa syukur atas setiap pembeli yang datang.

Ada kalanya saya kembali mampir hanya untuk mengobrol, meskipun saya tidak selalu membeli basmut. Ia tetap menyambut saya dengan ramah seolah saya adalah teman lama yang kembali berkunjung. Dari obrolan-obrolan singkat itu, saya semakin memahami bahwa menjadi tukang basmut bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian penting dari hidupnya. Ia bangga dengan apa yang ia lakukan, meski pekerjaan itu sederhana. Ia merasa memiliki tujuan setiap hari karena ia bisa membawa sedikit kebahagiaan kepada orang lain.

Suatu pagi, saya melihatnya sedang menata ulang gerobaknya. Ia terlihat lebih rapi dari biasanya. Cat gerobaknya baru, warnanya biru terang, dan ada tulisan besar di bagian depan: Basmut Legendaris. Saya tersenyum melihat itu, karena saya tahu betapa besar hatinya dalam menjaga usahanya. Ketika saya mendekat, ia tertawa sambil berkata bahwa cat itu ia kerjakan bersama anak bungsunya. “Biar bagus, Mas. Biar kalau anak-anak lewat, mereka langsung lihat dan seneng,” ucapnya. Ia bercerita bahwa ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembelinya, tidak hanya rasa tetapi juga kenyamanan.

Di balik kesederhanaannya, saya melihat sikap profesional yang jarang dimiliki banyak orang. Ia tidak pernah meremehkan pekerjaannya, tidak pernah merasa kecil di hadapan orang lain. Ia menunjukkan bahwa kesungguhan dan ketulusan adalah dua hal yang membuat sebuah pekerjaan bernilai. Dari dirinya, saya belajar bahwa ukuran kesuksesan tidak selalu berkaitan dengan besarnya penghasilan atau tingginya jabatan, tetapi bagaimana pekerjaan itu diisi dengan hati.

Beberapa minggu kemudian, saya kembali lagi dan melihat lebih banyak anak berkumpul mengantre. Gerobaknya ramai seperti sebuah pusat kecil kebahagiaan. Anak-anak tertawa, saling bercanda sambil menunggu basmut yang sedang digoreng. Saya memperhatikan ekspresi mereka ketika menerima cup berisi basmut panas yang baru diangkat dari minyak. Ada raut kebahagiaan sederhana yang membuat suasana terasa hangat. Saat itu saya menyadari bahwa basmut bukan hanya makanan, melainkan bagian dari masa kanak-kanak yang tidak akan pernah kembali.

Di sela kesibukan itu, seorang ibu datang menghampiri dan berbicara tentang acara ulang tahun anaknya. Ia memesan basmut dalam jumlah banyak. Saya melihat bagaimana wajah tukang basmut itu berubah menjadi begitu cerah karena mendapat kepercayaan dari pelanggan. Ia bukan hanya penjual, tetapi seseorang yang dianggap bagian dari komunitas kecil itu. Banyak orang mengenalnya bukan hanya karena dagangannya, tetapi karena sikapnya yang selalu ramah dan penuh perhatian.

Waktu berlalu, dan saya semakin memahami bahwa setiap profesi memiliki nilai yang luar biasa jika dijalani dengan sepenuh hati. Tukang basmut itu mungkin tidak pernah terpikir menjadi inspirasi bagi seseorang. Tetapi tanpa ia sadari, ia telah mengajarkan banyak hal kepada saya tentang arti kerja keras, ketulusan, dan menghargai kehidupan. Ia mengingatkan saya bahwa hidup tidak harus selalu penuh ambisi besar. Kadang, kebahagiaan berasal dari hal-hal sederhana seperti melihat orang lain tersenyum karena apa yang kita lakukan.

Saat saya berpamitan pada hari itu, ia berkata bahwa ia percaya setiap orang punya jalan rezekinya masing-masing. Yang penting adalah menjalani hidup tanpa mengeluh dan terus berusaha menjadi orang baik. Kata-kata itu begitu melekat di hati saya. Saya pulang dengan pikiran yang penuh rasa syukur dan penghargaan yang lebih dalam terhadap orang-orang yang sering luput dari perhatian kita.

Kini, setiap kali saya menemukan jajanan basmut di tempat lain, rasanya tidak pernah sama. Tidak ada aroma bawang itu yang membawa kenangan, tidak ada senyum itu, tidak ada cerita panjang yang penuh perjuangan. Saya selalu membandingkannya dengan basmut di depan sekolah yang bukan hanya makanan, tetapi juga pelajaran hidup. Dan dalam hati saya berjanji, suatu hari nanti saya akan membawa anak saya ke gerobak itu dan memperkenalkan mereka kepada sosok yang telah mengajarkan saya makna ketulusan yang sesungguhnya. Saya ingin mereka tahu bahwa pekerjaan apa pun bisa menjadi sesuatu yang mulia jika dilakukan dengan cinta.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa hidup adalah tentang bagaimana kita saling menguatkan. Tentang bagaimana hal kecil yang kita lakukan bisa menjadi kenangan berharga bagi orang lain. Dan tentang bagaimana setiap manusia, sekecil apa pun perannya, memiliki cerita yang pantas untuk didengar. Tukang basmut itu mungkin tidak terkenal, tetapi bagi saya ia adalah seorang pahlawan tanpa panggung, seseorang yang telah memberikan warna dalam perjalanan hidup begitu banyak orang.

Related posts