IKABARI, JAKARTA — Indonesia sedang memasuki tahap penting dalam perubahan pendidikan digital. Di mana kecerdasan buatan (AI) dan deep learning tidak lagi sekadar wacana, tetapi menjadi fondasi baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di seluruh negeri.
Leny Ng, President Director Acer Indonesia, menekankan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan perlu mengadopsi teknologi secara strategis, terencana, dan berkelanjutan. Hal ini bertujuan agar mampu menjawab tantangan era pembelajaran berbasis teknologi cerdas.
“AI dan deep learning memiliki potensi besar untuk meningkatkan efektivitas proses belajar-mengajar. Namun, kita tidak boleh mengabaikan peran guru dalam membimbing dan memberi makna pada proses belajar,” ujarnya, Jumat (5/12/2025).
Tian Belawati, Guru Besar FKIP UT, menegaskan bahwa integrasi teknologi cerdas adalah langkah strategis untuk menghapus batasan geografis dan sosial dalam akses pendidikan.
“Ini bukan lagi tren, tetapi kebutuhan mendesak. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan berkualitas melalui sekolah dan guru yang berkualitas,” tegasnya.
Menurut Tian, AI dapat memungkinkan distribusi konten pendidikan yang lebih merata, layanan pembelajaran yang personal, serta peningkatan kompetensi guru melalui analitik dan otomatisasi.
Dorongan percepatan adopsi AI juga datang dari pemerintah. Fauzan Adziman, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), menyebut bahwa modernisasi pendidikan tinggi menjadi syarat mutlak untuk memperkuat daya saing Indonesia di era ekonomi berbasis pengetahuan.
“Kita harus bergerak menuju knowledge-based economy yang bertumpu pada kemampuan mengelola pengetahuan menjadi nilai tambah dan daya saing nasional,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fauzan menjelaskan bahwa untuk mewujudkan hal tersebut, Indonesia perlu memperkuat dua pilar strategis. Pilar pertama adalah penguatan aspek perangkat lunak melalui percepatan adopsi AI di berbagai sektor.
Pilar kedua adalah pengembangan infrastruktur teknologi, khususnya ekosistem semikonduktor dalam negeri, yang akan menjadi pondasi penting bagi transformasi digital nasional.
Ia menambahkan bahwa kedua pilar tersebut adalah prasyarat agar pemanfaatan AI memberikan dampak nyata dan selaras dengan agenda pembangunan dalam AstaCita Presiden dan Wakil Presiden.
“AI harus memberikan manfaat yang luas. Bukan hanya berguna sebagai teknologi, tetapi juga mendorong energi terbarukan, memperkuat teknologi pertanian, mengakselerasi hilirisasi, dan memajukan ekonomi digital,” jelasnya.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.


