Pengalaman Kuliner di Atas Keramba Apung
Awan mendung menggantung rendah di atas Pulau Kelapa, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Kamis (4/1) siang itu. Angin laut yang kencang mendorong riak air ke arah dermaga. Bau asin dari lautan dan percikan ombak sesekali menghantam dinding beton. Tepat di depan dermaga itu—berjarak sekitar 100 meter atau 0,054 mil laut—sebuah bangunan berdiri dengan tenang di atas keramba apung, menempel dengan jaring-jaring besar yang biasanya digunakan untuk budidaya ikan.
Atapnya dari seng berwarna merah kusam, menggambarkan kesan klasik khas rumah makan ala pesisir. Dikelilingi air laut berwarna biru toska, menampakkan bayangan terumbu di bawah permukaan yang rancak dipandang. Bangunan itu adalah Rumah Makan Seafood Pak Harun Kelapa Indah. Saat pengunjung melangkah di atas lantai kayu yang sedikit berderit, air sebening kaca menyambut dari sela-sela keramba. Menambah pengalaman baru kuliner bahari.
Sang pemilik usaha, Haji Harun, begitu sapaan akrabnya, mengaku rumah makan miliknya merupakan satu-satunya di Kepulauan Seribu yang berdiri di atas keramba apung. “Ya kalau melihat dari segi rumah makan yang di Kepulauan Seribu khususnya, memang cuma satu-satunya sih (di atas keramba apung). Yang namanya keramba apung, rumah makan, seafood. Itu aja sih uniknya, bedanya. Sehingga mereka (wisatawan) senang datang kemari,” ujarnya.
Restoran keramba apung ini tidak lahir dari konsep bisnis modern, tetapi dari perjalanan panjang budidaya ikan sejak tahun 90-an. Harun bercerita bagaimana usahanya berubah arah setelah budidaya tak lagi menghasilkan. “Jadi pada akhirnya kita coba-coba untuk memasak. Alhamdulillah kita kenalkan sama tamu-tamu, sampai sekarang berjalan dengan baik,” katanya.
Kini, tamu-tamu yang datang bukan hanya wisatawan biasa. Kalangan pejabat, artis, hingga wisatawan mancanegara disebut pernah menyantap seafood di sini. “Bahkan dari artis-artis, dari negara-negara luar, Singapura, Malaysia, Thailand termasuk pejabat-pejabat juga sering makan dan rapat-rapat di sini,” tuturnya.
Menu favorit di rumah makan seafod ini pun beragam, mulai dari kerapu lodi, kerapu macan, ikan somay, lobster, hingga udang vannamei. Semua bumbu merupakan hasil racikan tangan Harun sendiri. “Kita di sini menyiapkan masakan ini enggak terlalu rumit dengan bumbu. Yang penting rasa kan. Alhamdulillah diterima dengan baik sampai sekarang,” jelasnya.
Harga makanan di sini mengikuti jenis dan ukuran ikan yang dipilih pengunjung. “Lobster itu ada yang harga Rp2 juta, ada yang Rp1 juta, kerapu ada yang Rp350 ribu, Rp200 ribu udang panami, udang cakrek sekitar Rp100–150 ribu per porsi,” ungkapnya. Ada juga paket untuk lima orang dengan harga Rp400 ribu, sudah lengkap dengan ikan bakar, sayur, lalap, nasi, dan es teh manis.
Akses menuju rumah makan keramba apung ini cukup mudah. Bagi pengunjung yang datang dari arah Pulau Harapan maupun pulau lain di sekitar, pihaknya menyediakan fasilitas penjemputan kapal pulang pergi. Pengunjung disarankan melakukan booking jauh hari ataupun bisa datang spontan.
Meski sudah terkenal, Harun mengaku tidak pernah melakukan pemasaran di berbagai platform media sosial. Pengunjung yang datang kebanyakan hasil rekomendasi dari mulut ke mulut. “Kalau mereka datang satu kelompok kawan bawa lagi kawan. Sampai sekarang,” ungkapnya.
Usaha yang seluruhnya terapung ini lama-lama berkembang mengikuti kenyamanan pengunjung. Harun ingin membuat area tancap lagi tepat di sisi depan keramba apungnya. “Insyaallah ke depan saya akan bangun lagi untuk yang tancapnya agar supaya lebih menyaman lagi untuk mereka (wisatawan) makan di sini,” pungkasnya.







