Perayaan Budaya dan Kebersamaan dalam Lomba Memasak Tradisional Melayu
Pada Minggu pagi (7/12/2025), suasana penuh kehangatan dan aroma masakan Melayu memenuhi Gedung Serbaguna Desa Tanjung Harapan. Acara ini digelar oleh Pemerintah Desa Tanjung Harapan bersama Tim Penggerak PKK Desa dalam rangka menyambut Hari Ibu 2025. Acara yang dihadiri oleh warga setempat ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga momen penting untuk menjaga tradisi dan kekompakan antar ibu-ibu.
Acara dibuka langsung oleh Kades Tanjung Harapan, Irwansyah, dengan jajaran juri dari TP-PKK Kecamatan Singkep. Empat Pokja Desa ikut serta dalam lomba ini, menunjukkan semangat dan keterampilan mereka dalam memasak. Meskipun konsepnya adalah lomba, suasana yang tercipta lebih seperti pertemuan seru antar ibu-ibu yang senang berbagi resep dan saling mendukung.
Kades Irwansyah menyampaikan rasa terima kasih atas partisipasi dan kontribusi besar para ibu-ibu yang selama ini aktif dalam berbagai kegiatan di desa. Menurutnya, kegiatan dan program TP-PKK adalah bagian dari upaya pemerintah desa untuk memberdayakan masyarakat. “Kegiatan ini merupakan bagian dari visi dan misi kami dalam mendorong partisipasi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa acara ini menggunakan anggaran dari Dana Desa (APBDes) tahun 2025. Lebih penting dari lombanya, menurutnya, adalah semangat kebersamaan yang dibangun. “Alhamdulillah, hari ini kita bisa melaksanakan kegiatan ini. Semoga melalui lomba memasak tradisional Melayu ini, jalinan silaturahmi antar ibu-ibu tetap terjaga, selalu kompak, dan hubungan antar sesama menjadi lebih erat lagi.”
Sementara itu, Ketua TP-PKK Desa Tanjung Harapan, Fahrumiyati, S.KL, menegaskan bahwa lomba ini masuk dalam rencana kerja TP-PKK tahun 2025. Tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan, memperkenalkan, dan melestarikan kuliner budaya Melayu. “Kuliner Melayu tidak kalah dengan kuliner lainnya, dan kita perlu menjaganya agar tetap hidup di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Fahrumiyati menjelaskan poin-poin penilaian dalam lomba ini, mulai dari cara menghidangkan hingga cita rasa khas Melayu yang harus tetap muncul dalam setiap hidangan. “Penyajian masakan dalam lomba ini mencakup masakan Melayu sehari-hari, masakan Melayu di pengantin, kue-kue khas Melayu, serta buah-buahan yang dihidangkan,” tambahnya.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat membuat masyarakat semakin dekat dengan identitas budaya mereka sendiri. “Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini, kita semua dapat mengenal budaya Melayu terkait dengan kuliner yang sesungguhnya dan mempertahankannya dalam kehidupan sehari-hari.”
Acara sederhana tapi penuh makna ini bukan hanya tentang masak-memasak, tetapi juga tentang merayakan budaya, kebersamaan, dan peran penting ibu-ibu dalam menjaga tradisi tetap hidup. Dengan adanya lomba ini, diharapkan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya lokal dapat terus tumbuh dan berkembang.







