Penjelasan Kementerian Komunikasi dan Digital tentang Layanan Starlink di Aceh
Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Kemkomdigi RI) memberikan penjelasan terkait layanan internet Starlink yang disalurkan sebagai bantuan bagi wilayah-wilayah terdampak banjir di Aceh. Menurut pernyataan Pranata Humas Ahli Madya Kemkomdigi RI, Wiaji Cahyaningrum, layanan tersebut diberikan secara gratis dan tidak boleh diperjualbelikan.
“Akses jaringan internet lewat Starlink di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh adalah gratis, baik untuk posko maupun fasilitas publik,” ujar Wiaji. Ia menambahkan bahwa Starlink telah mengumumkan secara resmi layanan gratis selama satu bulan penuh untuk kawasan terdampak. Ia meminta dukungan media untuk meluruskan informasi apabila muncul hoaks mengenai praktik jual-beli perangkat atau layanan Starlink.
“Jika ada berita hoaks yang menyebutkan perangkat itu dijualbelikan setelah diberikan, tolong diluruskan,” tegasnya.
Fasilitas Pusat Informasi dan Media Center
Untuk memastikan keakuratan informasi yang dipublikasikan, Kemkomdigi RI juga menyediakan Pusat Informasi dan Media Center sebagai fasilitas kerja bagi wartawan. Fasilitas tersebut mencakup laptop, akses jaringan, serta data real-time mengenai Base Transceiver Station (BTS) yang aktif maupun yang masih belum berfungsi.
Wiaji menekankan bahwa penyediaan fasilitas ini penting agar informasi yang dipublikasikan tetap akurat dan tidak menimbulkan kekeliruan di tengah situasi darurat. Pembaruan informasi resmi penanganan bencana di Sumatra dan Aceh dapat diakses melalui tautan s.id/TanggapBencanaSumatra.
Perkembangan Pemulihan Telekomunikasi
Terkait perkembangan pemulihan telekomunikasi, Wiaji menyebutkan bahwa dari total 3.414 BTS di Aceh, sekitar 51 persen masih tidak berfungsi hingga Rabu 3 Desember 2025. Pemulihan dilakukan bertahap sesuai kondisi lapangan.
Kabid Pengelolaan Komunikasi Publik Diskominsa Aceh, Alfajrian, menambahkan bahwa pemulihan jaringan sangat bergantung pada ketersediaan listrik. Banyak BTS tidak dapat beroperasi karena aliran listrik terputus akibat kerusakan infrastruktur.
“Kalau PLN hidup, sebagian besar telekomunikasi otomatis menyala. Ini berjalan seiring dengan pemulihan jalur darat,” ujarnya. Ia berharap uji coba penyalaan listrik pada sejumlah jaringan transmisi di Lhokseumawe dapat menjadi awal pemulihan yang lebih luas di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Pidie.
Tantangan dalam Pemulihan Jaringan
Pemulihan jaringan telekomunikasi di Aceh menghadapi berbagai tantangan, termasuk kerusakan infrastruktur yang menyebabkan gangguan listrik. Hal ini berdampak langsung pada operasional BTS yang merupakan komponen penting dalam pengadaan layanan komunikasi.
Dalam situasi darurat seperti ini, koordinasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, penyedia layanan, dan organisasi masyarakat, menjadi sangat penting. Dengan adanya bantuan teknologi seperti Starlink, diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan dan memastikan akses informasi tetap tersedia bagi masyarakat terdampak.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.


