Peneliti Austria usulkan perbaikan tata kota cegah krisis air

Peneliti Austria usulkan perbaikan tata kota cegah krisis air

Penelitian di Austria Mengungkap Ancaman Krisis Air Bersih Akibat Pembangunan Perkotaan

Sebuah studi yang dilakukan oleh sekelompok peneliti di Austria menunjukkan bahwa perkembangan kota yang pesat bisa menjadi ancaman serius terhadap ketersediaan air bersih di seluruh dunia pada tahun 2050. Studi ini, yang melibatkan 100 kota di berbagai belahan dunia dan dipimpin oleh Rafael Prieto-Curiel dari Complexity Science Hub Vienna, menyoroti risiko krisis air bersih akibat desain tata kota yang tidak ramah lingkungan.

Menurut Prieto-Curiel, pengembangan kawasan perkotaan sering kali mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat, termasuk akses air bersih. Jika tren ini terus berlanjut, jutaan penduduk di kota-kota baru akan kesulitan memenuhi kebutuhan air mereka. Ia menekankan bahwa meskipun masalah kelangkaan air sudah banyak dibicarakan, bentuk perkotaan adalah sesuatu yang bisa dikendalikan dengan perencanaan yang baik.

  • Studi ini mencakup data dari lebih dari 100 kota, termasuk Jakarta. Penelitian tersebut mengamati sekitar 183 juta bangunan dan 125 ribu rumah tangga untuk membandingkan pola tata letak kota dan potensi kekurangan air bersih di masa depan.
  • Kota-kota yang memiliki tata kota yang menyebar atau tidak terpusat cenderung membuat warga harus membayar lebih mahal untuk layanan air. Selain itu, cakupan pipa air hanya 50 persen di area tersebut, lebih rendah dibandingkan kota yang dirancang secara terpusat.
  • Fenomena ini dijelaskan melalui konsep sparseness, yaitu tingkat ketersebaran. Tata kota yang tersebar luas menyebabkan biaya sambungan pipa air meningkat karena jaringan pipa dan sistem pemompaan harus diperpanjang untuk mencapai setiap rumah.

Meski demikian, para peneliti menemukan solusi dalam simulasi mereka. Dengan mengatur tata ruang secara terpusat, risiko krisis air dapat diminimalkan. Namun, tantangannya mirip dengan membangun daerah terisolir.

Tim peneliti dari Austria merekomendasikan kepada pemerintah kota untuk fokus pada pembangunan perumahan dan lokasi kerja di area dengan infrastruktur pipa dan saluran pembuangan yang memadai. Dengan kebijakan tata ruang yang cerdas dan investasi yang cukup, kebutuhan air dan sanitasi di lingkungan padat penduduk bisa diatasi secara optimal.

  • Salah satu strategi utama adalah memastikan bahwa wilayah yang berkembang memiliki akses yang mudah ke sistem air bersih. Ini termasuk memperluas jaringan pipa dan memastikan keberadaan fasilitas pengolahan air yang efisien.
  • Selain itu, perencanaan kota juga harus mempertimbangkan kebutuhan lingkungan. Misalnya, mempertahankan ruang hijau dan sistem drainase alami bisa membantu menjaga kualitas air dan mengurangi risiko banjir.
  • Pemerintah juga perlu bekerja sama dengan sektor swasta untuk memastikan pengembangan kota yang berkelanjutan. Inisiatif seperti penggunaan teknologi modern untuk pengelolaan air dan penghematan energi bisa menjadi bagian dari rencana jangka panjang.

Dengan perencanaan yang tepat, krisis air bersih tidak harus menjadi ancaman nyata bagi kota-kota di masa depan. Tantangan ini bisa diatasi jika semua pihak bekerja sama untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang ramah dan berkelanjutan.

Related posts