Bulan Desember menjadi bulan yang sangat istimewa bagi masyarakat Toraja. Saat itulah, ratusan ribu warga Toraja yang tinggal di luar kampung kembali ke tanah air untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Tidak hanya sebagai momen kebersamaan, bulan ini juga menjadi waktu perayaan Natal yang penuh makna bagi para penganut agama Kristen dan Katolik.
Perayaan Natal di Toraja tidak hanya dilakukan melalui ibadah, tetapi juga diiringi berbagai kegiatan seperti lomba kesenian, kerohanian, dan olahraga. Salah satu hal yang selalu menjadi bagian dari tradisi adalah penyajian makanan khas yang biasanya disajikan dalam jamuan makan besar.
Menu Utama: Pa’piong
Salah satu hidangan yang pasti ada dalam perayaan Natal adalah pa’piong. Ini adalah lauk yang dimasak menggunakan bambu, yang dalam bahasa Toraja disebut tallang. Jenis daging yang umum digunakan adalah babi. Namun, jika ada anggota keluarga yang tidak bisa mengonsumsi daging babi, maka tersedia alternatif seperti piong manuk (ayam) atau piong bale (ikan).
Pada acara Perayaan Natal Kerukunan Keluarga Palesan (KKP) wilayah Makale-Rantepao dan sekitarnya, pagi-pagi hari warga sudah berkumpul untuk memasak pa’piong babi dan pa’piong ayam. Daging babi yang telah dipotong kecil-kecil dan dibersihkan dicampur dengan daun mayana (bulu nangko atau sere’ nakko). Bumbu tambahan termasuk garam, penyedap rasa, irisan bawang daun, dan lombok biji. Semua bahan dicampur merata, lalu dimasukkan ke dalam bambu.
Selain daging babi, ada bagian lain yang dimasak dengan campuran daun pepaya muda dan daun singkong muda. Bagian tersebut mencakup kepala, kaki, hati, paru-paru, dan jeroan yang telah dicuci bersih. Inilah yang paling diminati oleh orang Toraja karena sensasi pahit dari daun pepaya yang unik.
Sementara itu, piong ayam terbuat dari daging ayam kampung yang dicampur dengan burak (irisan batang pisang muda). Bumbu tambahannya meliputi irisan bawang daun, lombok biji, garam, dan penyedap rasa.
Proses Memasak dan Makanan Tambahan
Proses memasak pa’piong adalah sesi yang paling dinantikan. Selama proses pemanggangan puluhan piong dalam bambu, biasanya disajikan juga menu klaaik, yaitu pa’rarang (daging panggang). Saat pa’piong sedang dipanggang, puluhan tusuk daging babi segar juga ikut dipanggang. Para pria biasanya akan memenuhi tempat pembakaran untuk melakukan ma’rarang.
Durasi memasak pa’piong di atas api dan bara api sekitar 2 jam. Proses ini memberikan aroma dan rasa yang khas, sehingga menjadi makanan wajib dalam perayaan Natal di Toraja.
Selain pa’piong, ada beberapa menu lain yang sedikit lebih modern, seperti babi kecap, sup ayam kampung, dan brenebon kepala dan tulang babi. Menu-menu ini sering kali disajikan sebagai variasi dalam jamuan makan.
Kesiapan Makanan untuk Berbagai Kalangan
Terkadang, ada undangan dari keluarga non-Kristen, sehingga persiapan makanan halal juga dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa perayaan Natal di Toraja tidak hanya berfokus pada agama, tetapi juga pada kebersamaan dan kerja sama antar komunitas.







