Petani di Kendal Berjuang Melawan Rob yang Mengancam Kehidupan
Di tengah kesedihan yang terlihat jelas dari wajah Gunarto, petani asal Kelurahan Banyutowo, Kendal, lahan sawahnya kini menghadapi tantangan besar akibat rob. Selama 10 tahun terakhir, air rob perlahan memasuki lahan pertaniannya, membuat ia tidak lagi bisa memanen padi seperti dulu.
Gunarto mengungkapkan bahwa sebagian besar lahan sawahnya di bagian utara telah terdampak rob dan tidak dapat digunakan untuk bertani. Namun, ia masih memiliki satu lahan sawah di bagian selatan yang belum sepenuhnya terkena dampak rob. Meski begitu, kondisi lahan tersebut kini juga mulai terancam.
“Rob terjadi pada waktu-waktu tertentu saja, tapi masih bisa ditanami,” ujarnya. Ia berusaha keras agar lahan tersebut tidak hilang dalam ancaman rob. Salah satu cara yang ia lakukan adalah dengan menguras air rob menggunakan pompa. Meskipun membutuhkan waktu lebih lama, langkah ini dinilainya sebagai solusi terakhir untuk menghindari kehilangan hasil panen.
Namun, dampak rob terhadap produksi padi sangat terasa. Sebelum terkena rob, hasil panen bisa mencapai 6-7 ton per hektare. Kini, jumlah itu turun menjadi maksimal 4 ton per hektare.
Tantangan Lain yang Dihadapi Petani
Selain Gunarto, petani lain seperti Mundrikat juga mengalami kesulitan serupa. Tanah miliknya kini tidak lagi produktif karena terendam genangan rob. Meski demikian, ia masih harus membayar pajak tanah tersebut. Ia pun meminta Pemkab Kendal memberikan pertimbangan pemberian keringanan pajak bagi lahan yang kini tidak bisa ditanami.
“Saya mohon keringanan pajak, karena sudah lama tidak bisa ditanami lagi. Karena ini lahan kan sudah tidak bisa ditanam,” ujar Mundrikat.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kendal, Pandu Rapriat Rogojati, menjelaskan bahwa sekitar 30 hektare lahan sawah di Kelurahan Banyutowo terdampak rob. Untuk menangani masalah ini, pihaknya hanya bisa mengandalkan bantuan anggaran dari pemerintah pusat.
“Penanganan rob itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Jadi, perlu waktu dan bersinergi dengan semua pihak dan perlu bantuan anggaran dari pusat juga. Kalau hanya mengandalkan dari APBD Kabupaten Kendal itu terlalu berat, karena membutuhkan anggaran triliunan,” paparnya.
Solusi Alternatif untuk Lahan Terdampak Rob
Di sisi lain, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kendal, Hudi Sambodo, menjelaskan bahwa kini banyak warga yang mulai memanfaatkan lahan sawah yang terdampak air rob dengan menaburi ikan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk memanfaatkan kondisi lahan yang tidak lagi cocok untuk ditanami padi.
“Banyak warga yang kemudian menaburi sawah yang terdampak rob itu, ada yang pakai ikan nila, ikan bandeng. Itu semata-mata untuk pemanfaatan, karena kalau padi sudah tidak bisa,” tambahnya.
Kesimpulan
Perlahan tapi pasti, rob terus menggerogoti lahan pertanian di Kendal. Para petani seperti Gunarto dan Mundrikat terus berjuang untuk mempertahankan kehidupan mereka meskipun menghadapi tantangan besar. Sementara itu, pemerintah setempat dan instansi terkait berupaya mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah ini. Dengan kolaborasi antar pihak, harapan besar dipegang agar lahan pertanian tetap bisa dimanfaatkan secara optimal.


