Dampak Bibit Siklon 93S di Bali Mulai Terlihat
Bencana banjir akibat dampak bibit siklon tropis 93S mulai terjadi di beberapa wilayah di Pulau Dewata. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat lima dari sembilan kabupaten/kota di Bali terdampak sejak Kamis (11/12). Banjir pertama terjadi di Karangasem pada Sabtu (13/12), kemudian Minggu (14/12) di Kota Denpasar dan Badung, lalu Senin (15/12) menimpa Gianyar dan Jembrana.
Di Kabupaten Karangasem, bencana banjir akibat luapan sungai mengganggu 50 Kepala Keluarga (KK) dan dua bangunan sekolah. Sementara itu, di Kota Denpasar terdapat 20 titik banjir, sedangkan di Badung mencapai 14 titik.
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, jumlah banjir ini cukup banyak, meskipun tidak sebanyak pada September lalu. “Titik-titik banjir berbeda karena karakter hujannya juga berbeda,” ujarnya.
Banjir di Gianyar dan Jembrana
Di Kabupaten Gianyar, banjir merendam lima titik jalan utama dengan ketinggian melebihi satu meter. Hal ini menyebabkan tembok rumah warga runtuh dan menutup akses jalan raya. Banjir di Gianyar juga menyebabkan satu orang luka. “Tidak ada yang mengungsi, semua ada di rumah, tetapi banyak rumah terdampak. Di sana banyak tempat yang memang wilayah peta banjir, cuma sekarang eskalasinya naik,” kata I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya.
Di Kabupaten Jembrana, banjir terjadi di empat desa disertai pohon tumbang dan banjir di jalur utama Denpasar-Gilimanuk. BPBD Bali mencatat ada satu korban meninggal dunia yang merupakan WNA perempuan asal Rusia berinisial KK, 30 tahun. Sebanyak 191 KK masyarakat dan 150 wisatawan terdampak banjir.
“Ada satu WNA yang menjadi korban, kemudian 150 wisatawan lainnya, cuma mereka pindah penginapan, tidak mengungsi. Ada juga waktu liburnya berakhir, tetapi ada juga yang mempercepat liburnya,” tambahnya.
Peringatan BPBD Bali
BPBD Bali mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada mengingat potensi hujan lebat yang bisa memicu banjir masih terjadi meski Siklon 93S menjauh dari khatulistiwa. “Potensi ini (banjir) masih terjadi untuk beberapa hari ke depan,” ucap I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya.
Menurutnya, karakter Siklon 93S berbeda dengan Gelombang Rosby yang menyebabkan banjir besar pada September lalu. Namun, dampak siklon terhadap curah hujan dan angin patut diwaspadai.
Ia juga mengakui bahwa bencana banjir turut disebabkan oleh daya dukung lingkungan yang kurang. “Daya dukung lingkungan belum siap, belum sesuai dengan kemampuan mengalirkan air dengan baik, tata ruangnya, sistem drainasenya, memang perlu rekayasa sistem drainase untuk mengantisipasi curah hujannya,” tuturnya.


