Kebun Sis Jane: Transformasi Pertanian Modern di NTT
Sis Jane, nama yang tak asing bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menunjukkan peran penting dalam pemberdayaan masyarakat melalui sektor pertanian dan peternakan. Meski gagal dalam beberapa kontestasi politik, ia tetap berkomitmen untuk mengembangkan potensi daerah melalui inovasi pertanian.
Di Desa Fatubaa, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT, Sis Jane telah mengubah lahan seluas 12 hektar yang sebelumnya tidak terpakai menjadi pusat pertanian modern. Berbagai komoditas unggulan seperti tomat, cabai besar, cabai kecil, cabai keriting, wortel, aneka sayuran daun, pisang, semangka, melon, durian, dan jeruk ditanam di sana.
Pada Rabu, 10 Desember 2025, Sis Jane memandu tamu undangan dari berbagai wilayah seperti Kupang, TTS, TTU, Malaka, dan Belu serta para jurnalis untuk melihat langsung kondisi kebun ini. Meskipun perjalanan cukup melelahkan karena luasnya lahan, pengunjung tetap terkesan dengan hijaunya tanaman dan pemandangan yang menarik.
Hasil Panen yang Menghasilkan Dolar dari Timor Leste
Panen kali ini merupakan yang keempat kalinya sejak kebun dibuka. Sebelumnya, panen perdana dilakukan pada bulan September setelah penanaman dimulai pada Maret. Saat ini, panen raya mencakup cabai, tomat, semangka, dan sayuran labu.
“Kami ingin menjadikan kebun ini sebagai pusat inovasi pertanian integrasi yang bisa berkolaborasi antara perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan darat,” ujar Sis Jane.
Hasil panen ini sangat diminati oleh pembeli dari Timor Leste. Misalnya, tomat dijual dengan harga Rp320.000 per keranjang, sedangkan cabai tipe dewata 76 dijual dengan harga Rp30.000 per kilo. Pembeli langsung datang ke kebun untuk membeli hasil panen tersebut.
Hingga saat ini, kebun Sis Jane telah berhasil menjual cabai sebanyak 3,7 ton, tomat sekitar 5 ton, dan semangka 2 ton. Untuk menjaga kestabilan produksi, sistem bertanam menggunakan jeda waktu. Contohnya, tomat di kebun ini dibagi menjadi 10 blok dengan jeda waktu 3 minggu sehingga ada yang siap panen, ada yang mulai berbunga, dan ada yang baru bertumbuh.
Pemberdayaan Petani Lokal dan Rasakan Suka Duka Petani
Kebun Sis Jane juga melibatkan dosen dan tenaga ahli dari Politani Kupang. Mereka menilai bahwa kebun ini berhasil mematahkan stigma bahwa NTT adalah daerah miskin dan kering. Dengan pendekatan teknologi dan manajemen yang tepat, lahan kering dapat dikelola secara produktif.
Selain itu, kebun ini juga memberikan rejeki bagi para petani lokal. Saat ini, Sis Jane telah mempekerjakan 50 petani lokal dan ibu-ibu. “Kami menyediakan makan-minum bagi mereka dan mereka pulang dengan gaji bersih. Menjelang Natal, ibu-ibu harus memiliki uang. Jika tidak, bapak-bapak tidur di luar,” canda Sis Jane yang disambut tawa undangan.
Menurut Sis Jane, petani perlu lapangan kerja dan pendapatan agar dapat mengurangi tekanan finansial akibat risiko gagal panen. Ia juga merasakan bagaimana suka duka para petani jika gagal tanam atau panen, serta kebahagiaan ketika hasil panen terjual sesuai target.
Arus Balik Ekonomi dari Timor Leste ke Belu
Salah satu masalah utama petani di NTT adalah jatuhnya harga tomat dan cabai di pasar. Hal ini sering terjadi karena produksi yang berlebihan dan masuknya produk dari luar NTT seperti Pulau Jawa dan Sulawesi.
Gregorius Batafor, dosen bidang Agribisnis Politani Kupang, menjelaskan bahwa ekspor legal antarwilayah seperti ke Timor Leste dapat membantu masyarakat Belu. “Kebun ini membuktikan bahwa ekspor legal antarwilayah bisa dilakukan dan membawa manfaat langsung bagi masyarakat. Keterlibatan ibu-ibu dalam proses panen juga menumbuhkan kesadaran bahwa masyarakat di pelosok pun dapat produktif dan mandiri,” ujar Gregorius.
Menurut Sis Jane, kebun ini tidak hanya menjadi lokasi pertanian dan pusat riset, tetapi juga akan menjadi tempat wisata baru. Saat ini, berbagai jenis bunga telah ditanam untuk mempercantik kebun tersebut.


