Inovasi IMTA di Bangka Tengah untuk Budi Daya Udang yang Lebih Berkelanjutan
Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah melalui Dinas Perikanan mulai mengembangkan inovasi bernama Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA) pada awal tahun 2026. Program ini merupakan konsep budi daya udang vaname terintegrasi yang memperhatikan tingkat trofik atau rantai makanan.
Menurut Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bangka Tengah, Imam Soehadi, penerapan sistem budi daya terpadu ini bertujuan untuk membuat budi daya udang dilakukan dengan lebih ramah lingkungan dan efisien. “Kemudian yang paling penting bagaimana nanti mampu mendaur ulangkan sisa limbah, karena nanti bisa menjadi nutrisi untuk spesies yang lain,” katanya.
IMTA diterapkan sebagai bentuk uji coba dari jajarannya yang nantinya diharapkan bisa diterapkan oleh masyarakat pesisir di wilayah Bangka Tengah. “Ini memiliki maksud menjadi sebuah pilot project bagi masyarakat pesisir, bahwa ekonomi bisa maju dan berkembang dari masyarakat pesisir,” jelasnya.
Prinsip dasar inovasi IMTA adalah mendaur ulang limbah dari spesies utama sebagai sumber energi, nutrien, atau bahan organik bagi organisme lain yang dipelihara bersama. Melalui mekanisme ini, biomassa yang awalnya dianggap limbah dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan.
Dalam praktiknya, organisme yang diberi pakan (feed species) seperti ikan atau udang akan menghasilkan limbah organik dan anorganik. Limbah tersebut kemudian dimanfaatkan oleh organisme penyaring (filter feeder), pengurai, maupun produsen primer seperti rumput laut. Integrasi multi-spesies ini menciptakan ekosistem buatan yang lebih efisien, stabil, dan ramah lingkungan.
Manfaat dan Tujuan IMTA
Adapun beberapa manfaat yang diharapkan dari penerapan IMTA antara lain:
- Meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya: Dengan mengintegrasikan berbagai spesies dalam satu sistem, sumber daya seperti air dan pakan dapat digunakan secara optimal.
- Mengurangi dampak lingkungan: Limbah dari spesies utama dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi untuk spesies lain, sehingga mengurangi pencemaran lingkungan.
- Meningkatkan pendapatan petani: Produk yang dihasilkan dari integrasi multi-spesies dapat memberikan nilai ekonomi tambahan bagi petani.
- Menciptakan ekosistem yang lebih stabil: Sistem IMTA membantu menjaga keseimbangan ekologis dalam budidaya perairan.
Proses Penerapan IMTA
Proses penerapan IMTA melibatkan beberapa tahapan, antara lain:
- Perencanaan: Masyarakat pesisir dan petugas dinas melakukan kajian teknis untuk menentukan jenis spesies yang akan dikembangkan.
- Pembangunan infrastruktur: Menyiapkan kolam atau tempat budi daya yang sesuai dengan prinsip IMTA.
- Pemilihan spesies: Memilih spesies yang saling komplementer dan tidak saling bersaing.
- Pengelolaan dan pemantauan: Melakukan pengelolaan secara berkala dan memantau kondisi lingkungan serta pertumbuhan spesies.
Tantangan dan Solusi
Meskipun memiliki banyak manfaat, penerapan IMTA juga menghadapi beberapa tantangan, seperti:
- Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan petani: Petani perlu diberikan pelatihan dan pembinaan agar dapat mengelola sistem IMTA dengan baik.
- Keterbatasan modal: Biaya awal untuk membangun infrastruktur dan membeli benih bisa cukup besar.
- Resiko kegagalan: Kegagalan dalam pengelolaan dapat menyebabkan kerugian finansial.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah dan dinas perikanan akan memberikan dukungan berupa pelatihan, bantuan modal, dan bimbingan teknis kepada masyarakat pesisir.
Kesimpulan
Program IMTA di Kabupaten Bangka Tengah diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas budi daya udang dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan penerapan konsep IMTA, masyarakat pesisir dapat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus menjaga keseimbangan ekologis.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.






