Aktivitas Erupsi Gunung Ile Lewotolok Terus Berlangsung, Warga Diimbau Tetap Waspada
Gunung Ile Lewotolok yang terletak di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Dalam kurun waktu tertentu, pos pengamatan gunung api (PGA) Ile Lewotolok mencatat sebanyak 182 kali letusan. Aktivitas ini terdeteksi selama periode pengamatan pada hari Minggu (11/1/2026) dari pukul 00.00 hingga 24.00 Wita.
Letusan yang terjadi menghasilkan kolom abu dengan ketinggian antara 100 hingga 500 meter. Warna asap yang muncul bervariasi, mulai dari putih, kelabu hingga hitam. Yeremias Kristianto Pugel, petugas Pos PGA Ile Lewotolok, menyampaikan bahwa erupsi disertai dengan dentuman atau gemuruh dengan intensitas lemah hingga sedang.
Berdasarkan data seismogram, letusan tersebut memiliki amplitudo berkisar antara 15,2 hingga 34 mm, dengan durasi sekitar 35 hingga 96 detik. Selain itu, dalam periode yang sama juga tercatat berbagai jenis gempa, seperti:
- 325 kali gempa embusan
- 91 kali tremor non-harmonik
- Dua kali gempa vulkanik dalam
- Satu kali gempa tektonik lokal
Secara visual, kondisi kawasan gunung terlihat jelas hingga kabut dengan tingkat kekaburan antara 0 hingga III. Asap kawah yang bertekanan lemah teramati dengan warna putih dan intensitas tipis, serta ketinggian sekitar 15 hingga 20 meter di atas puncak kawah.
Yeremias mengimbau masyarakat di sekitar gunung untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius 2 hingga 2,5 kilometer dari pusat letusan. Imbauan ini diberikan sebagai langkah pencegahan mengingat potensi bahaya yang bisa timbul dari aktivitas vulkanik yang terus meningkat.
Mario Asan, warga setempat yang tinggal di sekitar lereng gunung, mengungkapkan bahwa aktivitas erupsi telah meningkat secara drastis dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, jumlah letusan bisa mencapai ratusan kali dalam sehari, disertai dengan gemuruh dan dentuman yang terdengar.
“Kadang letusannya terjadi pagi hari, siang hari, dan malam hari. Lebih sering terjadi di siang hari. Kami pasrah saja pada alam,” ujarnya.
Meski aktivitas erupsi terus berlangsung, Mario menyampaikan bahwa hingga saat ini kehidupan warga di lereng gunung tersebut masih berjalan normal. Namun, mereka tetap menjaga kewaspadaan karena bisa saja aktivitas gunung tiba-tiba meningkat tanpa peringatan.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.


