Mie Kocok Mang Nanang: Kuliner Legendaris Bandung yang Tetap Eksis Sejak 1993
Bandung dikenal sebagai kota yang memiliki cuaca yang sejuk dan dingin, terutama di pagi hari. Cuaca seperti ini cocok untuk menikmati makanan hangat dan berkuah. Salah satu kuliner yang populer adalah mie kocok, yang tidak hanya lezat tetapi juga mengenyangkan. Salah satu tempat yang menjadi favorit warga Bandung adalah Mie Kocok Mang Nanang.
Kuliner Hangat di Tengah Cuaca Bandung yang Dingin
Ketika angin bertiup kencang dan hujan turun, banyak orang mencari makanan yang bisa memberikan kehangatan. Mie kocok menjadi pilihan yang tepat karena rasanya yang kaya akan rempah dan kuahnya yang hangat. Selain itu, mie kocok juga cocok dinikmati saat liburan atau sekadar ingin merasakan sensasi makanan tradisional yang lezat.
Sejarah dan Tradisi Cita Rasa Lintas Generasi
Mie Kocok Mang Nanang telah berdiri sejak tahun 1993. Nama ini sangat dikenal oleh warga Bandung dari berbagai kalangan usia. Pusat usaha Mie Kocok Mang Nanang berada di Jalan Jawa, sementara cabang di Jalan Ternate kini dikelola oleh anaknya, Agung. Ia meneruskan cita rasa dan tradisi keluarga yang telah diwariskan selama puluhan tahun.
Suasana Ramai dan Antrean Pengunjung di Jalan Ternate
Di lapak Mie Kocok Mang Nanang di Jalan Ternate, suasana selalu ramai. Meskipun lapaknya sederhana dengan gerobak di pinggir jalan, pengunjung tetap datang silih berganti. Antrean panjang sering kali terlihat, dan setiap mangkuk mie kocok disajikan tanpa jeda. Meja-meja panjang di trotoar juga selalu penuh oleh pelanggan yang rela duduk berdempetan demi menikmati hidangan hangat ini.
Variasi Menu dan Rahasia Pengolahan Kikil yang Empuk
Agung menyebutkan bahwa menu yang ditawarkan cukup beragam. Mulai dari mie kocok biasa, mie kocok bakso, hingga mie kocok spesial urat. Harganya mulai dari Rp15 ribu hingga Rp47 ribu per porsi, tergantung isiannya.
“Dalam sehari kami bisa mengolah hingga dua kuintal kaki sapi. Proses memasaknya tidak singkat,” ujarnya.
Untuk kaki sapi muda, waktu perebusan bisa mencapai 4–5 jam, sedangkan kaki sapi tua dimasak hingga lebih dari 8 jam agar menghasilkan kikil yang empuk dan kuah yang benar-benar keluar sarinya.
Komposisi Mangkuk dan Sensasi Rasa yang Menggoda
Setiap porsi mie kocok disajikan dengan isian yang cukup banyak, termasuk mi kuning tebal, kuah kaldu kaki sapi, potongan kikil, tauge, taburan daun bawang dan seledri, serta bawang goreng. Untuk pelengkap, pengunjung bisa menambahkan jeruk nipis, kecap, dan sambal sesuai selera.
Ketika dicoba, kikil yang direbus dalam waktu lama terasa jelas di setiap mangkuk. Isian kikil melimpah, teksturnya lembut, dan rasanya gurih tanpa bau menyengat. Kuah panasnya menyelimuti mi dan tauge, memberikan sensasi hangat yang pas dinikmati di cuaca dingin. Sementara baksonya kenyal dan gurih, menambah sensasi lain di dalam mulut ketika mengunyahnya.
Eksistensi dan Penjualan Ratusan Mangkuk per Hari
Dari sisi penjualan, Mie Kocok Mang Nanang sangat diminati. Setiap harinya, mereka bisa menjual hingga ratusan mangkuk. “Kalau hari biasa bisa menjual 400–500 mangkuk per hari. Saat akhir pekan, jumlahnya melonjak hingga 700–800 mangkuk,” ujarnya.
Meskipun banyak kuliner kekinian yang muncul di Kota Bandung, Mie Kocok Mang Nanang tetap memiliki penggemar setia. Bagi yang ingin berkunjung, berikut adalah panduan rute dan informasi lokasi parkir untuk menuju Mie Kocok Mang Nanang di Jalan Ternate, Bandung, dimulai dari Jembatan Pasopati:
Rute Perjalanan (Estimasi 9 Menit)
Perjalanan dari Jembatan Pasopati sangat dekat, hanya berjarak sekitar 2,1 km. Berikut langkah-langkahnya:
– Dari Jembatan Pasopati (Flyover Prof. Mochtar Kusumaatmadja), ambil jalan keluar ke arah Cihampelas/Wastukencana.
– Belok kanan menuju Jl. Wastukencana (melewati bawah flyover).
– Lurus terus hingga persimpangan, lalu belok kiri ke arah Jl. L. L. R.E. Martadinata (Jl. Riau).
– Lurus sedikit, kemudian belok kanan ke Jl. Ternate.
– Mie Kocok Mang Nanang berada di sisi kiri jalan, tepat di Jl. Ternate No. 2, dekat persimpangan dengan Jl. Riau. (dekat dengan Taman Saparua)
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







