Peluncuran Teleskop Pandora untuk Mencari Dunia Layak Huni
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) baru-baru ini meluncurkan teleskop eksoplanet bernama Pandora. Tujuan dari peluncuran ini adalah untuk memperkuat pencarian dunia layak huni yang sebelumnya dilakukan oleh Teleskop Antariksa James Webb (JWST). Pandora diluncurkan ke orbit menggunakan roket SpaceX Falcon 9 dari Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg, California, pada 11 Januari 2026.
Pandora dirancang untuk melengkapi pengamatan JWST dengan fokus mengamati bintang induk eksoplanet secara lebih mendetail. Eksoplanet sendiri merupakan planet yang mengorbit bintang lain dan sangat sulit diamati karena cahayanya jauh lebih redup dibandingkan bintang induknya. Dengan menggabungkan data dari Pandora dan JWST, para ilmuwan berharap dapat memahami atmosfer eksoplanet secara lebih akurat.
Fungsi dan Keunggulan Pandora
Profesor astronomi University of Arizona, Daniel Apai, yang juga merupakan ko-investigator Pandora dan pemimpin kelompok kerja sains eksoplanet misi tersebut, menjelaskan bahwa teleskop ini dibangun untuk mengatasi hambatan besar dalam studi eksoplanet. Ia menyatakan:
“Kami membangun Pandora untuk menerobos satu hambatan. Memahami dan menghilangkan sumber gangguan dalam data yang membatasi kemampuan kami mempelajari eksoplanet kecil secara mendetail dan mencari kehidupan di sana.”
Salah satu tantangan utama dalam pengamatan eksoplanet adalah aktivitas bintang, seperti bintik bintang (starspots) dan wilayah aktif magnetik, yang dapat mengganggu pengukuran atmosfer planet. Apai bersama timnya sebelumnya menunjukkan bahwa fenomena ini dapat menyesatkan interpretasi data transit planet, sebuah masalah yang mereka sebut sebagai the transit light source effect.
Kemampuan Pengamatan Pandora
Pandora memiliki keunggulan dibandingkan JWST dalam hal pemantauan bintang. Meski lebih kecil dan tidak mengumpulkan cahaya sebanyak JWST, Pandora mampu mengamati satu bintang secara terus-menerus hingga 24 jam menggunakan kamera cahaya tampak dan inframerah. Selama satu tahun, Pandora akan mengunjungi kembali setiap bintang target hingga 10 kali, dengan total waktu pengamatan lebih dari 200 jam per bintang.
Pendekatan ini memungkinkan para ilmuwan memahami perubahan kecerlangan dan warna bintang, termasuk pembentukan dan pergerakan starspots, serta dampaknya terhadap sinyal transit planet. Data tersebut kemudian dikombinasikan dengan pengamatan transit planet oleh JWST untuk menghasilkan analisis atmosfer eksoplanet yang lebih presisi.
Proses Pemantauan dan Pengujian
Setelah peluncuran, Pandora kini mengorbit Bumi setiap sekitar 90 menit. Sistem dan fungsinya tengah menjalani pengujian oleh Blue Canyon Technologies sebagai pembuat utama teleskop. Sekitar satu minggu setelah peluncuran, kendali misi akan dialihkan ke Multi-Mission Operation Center milik University of Arizona di Tucson, sebelum tim sains mulai melakukan pengamatan secara penuh.
Dengan teknologi dan pendekatan baru yang dimiliki Pandora, para ilmuwan berharap dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang eksoplanet dan potensi kehidupan di luar Bumi. Misi ini menjadi langkah penting dalam eksplorasi antariksa yang semakin berkembang.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







