Perjalanan Menulis di Era Digital
Menulis di Ikabari melalui handphone adalah pengalaman yang semakin lazim di era serba digital. Dulu, menulis identik dengan duduk di depan laptop atau komputer meja, lengkap dengan secangkir kopi dan meja kerja rapi. Kini, cukup dengan perangkat kecil di genggaman, seseorang bisa melahirkan gagasan, opini, bahkan cerita panjang. Praktis, cepat, dan terasa dekat. Namun, di balik kemudahan itu, ada dinamika menarik: antara kenyamanan dan keterbatasan, antara kebebasan dan kelelahan.
Suka duka menulis lewat handphone menjadi bagian dari perjalanan kreatif seorang penulis digital. Handphone kini menjadi sahabat paling setia bagi penulis Ikabari. Ia selalu ada di saku, di tas, bahkan di samping bantal saat tidur. Ide yang datang tiba-tiba—di angkutan umum, di warung kopi, saat menunggu antrean, atau menjelang terlelap—tidak lagi hilang tertiup lupa.
Cukup buka situs, ketik beberapa kalimat, simpan sebagai draf. Kebiasaan kecil ini sangat membantu menjaga konsistensi menulis. Tidak ada lagi alasan “nanti kalau sudah di rumah” atau “nanti kalau buka laptop”. Menulis menjadi aktivitas yang menyatu dengan keseharian.
Fleksibilitas dan Kebebasan
Fleksibilitas ini juga menciptakan suasana santai. Menulis tidak harus selalu formal. Bisa sambil rebahan, duduk di teras, atau bahkan berdiri di halte. Kebebasan ruang dan waktu ini memberi rasa bahwa menulis bukan beban, melainkan teman perjalanan. Banyak tulisan lahir justru dari momen-momen kecil yang tidak terencana.
Namun, seperti dua sisi mata uang, kemudahan itu datang bersama keterbatasan. Layar handphone yang kecil membuat mata cepat lelah, terutama saat harus membaca ulang paragraf panjang. Mengoreksi typo menjadi pekerjaan rutin. Jari sering salah menekan huruf, apalagi ketika mengetik cepat. Teks yang seharusnya rapi kadang berubah menjadi kumpulan kesalahan kecil yang harus diperbaiki satu per satu.
Proses mengedit pun menjadi tantangan tersendiri. Memindahkan kalimat, memotong paragraf, atau menyusun ulang struktur tulisan terasa kurang leluasa. Tidak ada keleluasaan seperti di laptop. Kadang, satu revisi kecil butuh beberapa langkah ekstra. Hal ini membuat proses penyempurnaan tulisan terasa lebih lambat dan melelahkan.
Interaksi Sosial dan Tantangan Psikologis
Interaksi sosial di Ikabari juga memiliki ceritanya sendiri. Sebagai platform berbasis komunitas, memberi komentar, membaca tulisan orang lain, dan melakukan like back adalah bagian penting dari ekosistemnya. Namun lewat handphone, membuka banyak artikel sekaligus terasa berat. Perpindahan antar halaman tidak secepat di laptop. Jari harus bekerja lebih keras, mata pun cepat jenuh. Niat untuk aktif bersosialisasi kadang terhenti karena perangkat terasa membatasi gerak.
Ada pula tantangan psikologis yang muncul: keinginan untuk menulis lebih banyak konten. Karena mengetik di handphone terasa lebih melelahkan, sering muncul dorongan untuk buru-buru menyelesaikan tulisan. Proses kreatif yang seharusnya dinikmati perlahan berubah menjadi kejar target. Akibatnya, eksplorasi ide kadang tidak maksimal. Ingin cepat publish, ingin segera pindah ke tulisan berikutnya. Rasa sabar diuji oleh ukuran layar dan ketahanan jari.
Sesekali muncul keinginan menulis di laptop. Layar yang lebih luas, keyboard yang nyaman, serta kemudahan membuka banyak tab memberi ruang kerja yang lebih lega. Mengetik terasa lebih cepat. Mengedit lebih presisi. Membaca ulang lebih nyaman. Laptop seolah menjadi “rumah ideal” bagi sebuah tulisan untuk tumbuh sempurna. Sayangnya, laptop sedang rusak, sehingga handphone tetap menjadi andalan utama.
Khayalan dan Realitas
Di titik ini, imajinasi pun ikut bermain. Andai ada alat Doraemon: pintu menuju ruang kerja tenang, mesin pengetik ajaib yang langsung merapikan teks, atau kantong ajaib yang mengeluarkan laptop baru kapan saja dibutuhkan. Tapi itu hanya khayalan kecil di tengah jari yang mulai pegal.
Tetap Menulis Meski Tanpa Alat Ajaib
Pada akhirnya, handphone bukan sekadar alat, tetapi ruang kecil tempat ide berkembang. Ia mungkin tidak sempurna, tetapi cukup untuk menjaga nyala semangat menulis tetap hidup. Keterbatasan perangkat justru melatih kesabaran, ketelitian, dan kemampuan merangkum pikiran agar lebih padat dan tajam.
Suka duka menulis di Ikabari lewat handphone adalah bagian dari perjalanan kreatif di era digital. Ada kebebasan menulis kapan saja dan di mana saja, ada pula keterbatasan layar kecil, jari pegal, dan proses edit yang rumit. Ada keinginan menulis lebih banyak, tetapi juga godaan untuk terburu-buru. Ada impian menulis di laptop, tetapi realitas memaksa bertahan dengan perangkat yang ada.
Dan di antara semua itu, terselip khayalan tentang alat Doraemon yang bisa membuat segalanya mudah. Namun, justru tanpa alat ajaib itulah semangat menulis diuji. Sebab pada akhirnya, bukan perangkat yang menentukan kualitas tulisan, melainkan ketekunan, konsistensi, dan keberanian menuangkan ide. Dari layar kecil di genggaman, cerita besar tetap bisa lahir. Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika laptop kembali menyala, tulisan-tulisan yang dulu lahir dari handphone akan menjadi saksi bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.





