Gubernur Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa proyek tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall berpotensi menjadi solusi untuk dua masalah utama yang dihadapi Ibu Kota, yaitu penurunan permukaan tanah dan krisis air bersih.
Pramono menegaskan bahwa proyek ini memiliki potensi besar untuk mengatasi permasalahan lingkungan yang selama ini mengancam wilayah pesisir Jakarta. “Saya berharap arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto terkait Giant Sea Wall ini dapat segera diimplementasikan,” ujarnya saat ditemui di Jakarta Timur, Senin, 12 Januari 2026.
Menurutnya, jika proyek tersebut dapat dilaksanakan, dampaknya akan sangat signifikan bagi masyarakat Jakarta. Ia menilai bahwa Giant Sea Wall tidak hanya berfungsi sebagai pengendali banjir rob, tetapi juga bisa menjadi solusi jangka panjang terhadap isu lingkungan yang selama ini menjadi tantangan bagi wilayah pesisir Ibu Kota.
“Jika proyek ini bisa diwujudkan, maka Jakarta akan mampu menyelesaikan dua masalah utama, yaitu penurunan permukaan tanah dan masalah ketersediaan air bersih,” tambah Pramono. “Jika bisa segera diimplementasikan, saya sangat berterima kasih.”
Sebelumnya, proyek tanggul laut ini sempat mengalami penundaan. Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Pemerintah Provinsi Jakarta menyatakan bahwa beberapa faktor menyebabkan proyek pencegah banjir rob di utara Jakarta tertunda. “Lebih banyak disebabkan oleh ketersediaan anggaran,” kata Kepala Bidang Pengendalian Rob dan Pengembangan Pesisir Pantai DSDA Jakarta, Ciko Tricanescoro, melalui aplikasi pesan pada Selasa, 25 November 2025.
Meski begitu, Ciko menjelaskan bahwa pemerintah provinsi Jakarta akan melanjutkan kembali proyek Nasional Ibu Kota Pesisir Terpadu (National Capital Integrated Coastal Development/NCICD) fase A di pesisir utara Jakarta pada tahun ini. Pembangunan tanggul NCICD di Kompleks Pantai Mutiara, Penjaringan, Jakarta Utara, menjadi salah satu segmen dari proyek NCICD fase A.
Ciko menambahkan bahwa pembangunan tanggul NCICD di Pantai Mutiara akan dimulai pada 2025. “Proyek ini dikerjakan menggunakan skema multi-years, dan saat ini masih dalam tahap lelang,” ujarnya.
Proyek tanggul NCICD di pesisir utara Jakarta sebelumnya direncanakan rampung pada 2028, namun kini mundur menjadi 2030. Kepala DSDA Jakarta Ika Agustin Ningrum, saat itu sebagai pelaksana tugas, menyebutkan beberapa alasan yang menyebabkan proyek ini tertunda.
Beberapa di antaranya adalah kendala dalam pengadaan barang dan jasa, serta koordinasi dengan nelayan di pesisir. “Kami berharap pembangunan infrastruktur tetap mengakomodasi kebutuhan hidup nelayan,” ujar Ika pada Desember 2024.
Proyek ini diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Jakarta, terutama di kawasan pesisir yang rentan terhadap banjir rob dan penurunan permukaan tanah. Dengan adanya Giant Sea Wall, diharapkan kondisi lingkungan dan kualitas hidup masyarakat dapat meningkat secara signifikan.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







