Nilai tukar rupiah mengalami penurunan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari Selasa (20/1/2026). Pada pembukaan perdagangan, rupiah melemah hingga mencapai level Rp 16.975 per dolar AS. Penurunan ini menjadi rekor terendah sejak beberapa waktu terakhir, yang menunjukkan tekanan besar terhadap mata uang Indonesia.
Kekhawatiran investor meningkat karena berbagai faktor baik domestik maupun global. Salah satu isu utama adalah ketidakpastian terkait independensi Bank Indonesia (BI). Hal ini memicu kekhawatiran bahwa kebijakan moneter yang selama ini dianggap stabil bisa terganggu oleh intervensi politik.
Selain itu, pasar juga khawatir terhadap pelebaran defisit fiskal Indonesia. Kebijakan tarif Amerika Serikat yang tidak jelas dan situasi ekonomi global yang tidak menentu turut memberikan tekanan tambahan. Investor cenderung lebih waspada terhadap aset keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Isu yang memperkuat sentimen negatif adalah pengajuan nama keponakan Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung dalam Dewan Gubernur Bank Indonesia. Langkah ini dinilai sebagai campur tangan politik yang berpotensi mengurangi kemandirian BI. Dampaknya, investor mulai meragukan kemampuan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan kebijakan moneter yang netral.
Pemerintah saat ini memiliki target pertumbuhan ekonomi hingga 8% pada 2029, yang jauh lebih tinggi dari tingkat saat ini sekitar 5%. Namun, ambisi ini membutuhkan kebijakan yang lebih agresif, yang bisa saja mengarah pada tekanan terhadap BI. Investor khawatir bahwa tekanan politik bisa mengubah arah kebijakan moneter, yang sebelumnya dianggap konsisten dan terukur.
Di sisi lain, ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga memberikan dampak langsung terhadap arus modal internasional. Pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, semakin rentan terhadap perubahan kebijakan luar negeri. Ini membuat rupiah semakin tertekan, meskipun BI telah menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menjaga independensi kebijakan moneter.
Beberapa faktor yang saling terkait ini membentuk lingkaran tekanan terhadap rupiah. Di tengah situasi ini, BI diharapkan mampu menjaga kredibilitasnya dan memberikan kepastian bagi investor. Namun, tantangan tetap besar, terutama jika tekanan politik dan kebijakan luar negeri terus berlanjut.
Dalam skenario terburuk, penurunan rupiah bisa memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. Hal ini akan berdampak luas terhadap perekonomian nasional. Oleh karena itu, penting bagi BI dan pemerintah untuk bekerja sama dalam menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.
Secara keseluruhan, situasi saat ini menunjukkan bahwa rupiah sedang menghadapi tantangan besar. Untuk menghadapi tekanan tersebut, diperlukan langkah-langkah strategis yang dapat memulihkan kepercayaan investor dan menjaga keseimbangan ekonomi.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







