Bantuan Kemanusian untuk Warga Terdampak Banjir Bandang
Warga di Gampong Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, masih menghadapi berbagai tantangan akibat bencana banjir bandang yang terjadi pada akhir tahun 2025 lalu. Masyarakat di daerah ini, yang berada di paling ujung wilayah Kabupaten Aceh Timur dan berbatasan dengan Aceh Tamiang serta Aceh Tenggara, kini terpaksa tinggal di tenda darurat. Hal ini dilakukan karena sebagian besar rumah mereka rusak parah akibat air deras yang menghancurkan struktur bangunan dan peralatan rumah tangga.
Salah satu masalah utama yang dihadapi warga adalah tidak adanya tempat ibadah yang layak. Mushala yang biasa digunakan sebagai tempat ibadah telah rusak akibat banjir, sementara masjid utama desa sedang dalam proses pembangunan dan kini terhenti karena musibah tersebut. Keuchik Rantau Panjang, Said Ridwan, menyampaikan bahwa saat ini masyarakat sangat membutuhkan rumah ibadah sementara agar bisa melaksanakan ibadah selama bulan suci Ramadhan.
- Masjid utama desa yang sedang dibangun terpaksa terhenti akibat bencana banjir
- Mushala yang biasa digunakan sebagai tempat ibadah rusak total
- Warga membutuhkan tempat ibadah sementara untuk keperluan ibadah selama Ramadhan
Selain itu, warga juga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Pipa air yang ada sebelumnya hanyut terbawa banjir, sehingga masyarakat kini harus bergantung pada air dari pegunungan di sekitar Gunung Bendahara. Relawan dari Jawa Timur membantu mengalirkan air dari gunung menggunakan pipa, namun masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan warga setempat.
Perjalanan Berat untuk Menyampaikan Bantuan
Komunitas pecinta mobil offroad dari Xtrim Langsa kembali melakukan aksi kemanusian dengan menyambangi warga terdampak banjir bandang di Gampong Rantau Panjang, Aceh Timur, pada Ahad (18/1/2026). Dalam misi kali ini, tim Xtrim Langsa yang diwakili oleh Wahyu Hidayat Lubis dan Buanto (Anto Mekanik) serta para kru menggunakan dua unit mobil jeep 4×4 untuk menjangkau daerah yang terisolir.
Perjalanan ke desa yang terletak di lereng Gunung Bendahara ini membutuhkan waktu sekitar 6 jam. Pada kunjungan sebelumnya, tepatnya pada 27 Desember 2025, tim Xtrim Langsa harus menempuh perjalanan hingga 10 jam atau pulang-pergi 20 jam untuk sampai ke lokasi. Saat itu, jalur darat dari Kecamatan Birem Bayeun menuju desa masih sangat sulit dilalui, bahkan kendaraan roda dua saja kesulitan melewati jalan yang rusak.
- Jalur darat yang rusak membuat perjalanan menjadi lebih rumit
- Mobil jeep 4×4 diperlukan untuk menjangkau daerah yang terisolir
- Perjalanan ke desa membutuhkan waktu sekitar 6 jam pada kunjungan terbaru
Bantuan seperti beras, sayur-mayur, dan jajanan anak-anak diserahkan langsung kepada Keuchik Rantau Panjang, Said Ridwan. Anggota Xtrim Langsa, Wahyu, menyampaikan harapan bahwa bantuan ini dapat meringankan beban warga yang terkena dampak banjir.
Kondisi Wilayah yang Terdampak
Saat ini, kayu gelondongan dan pohon-pohon tumbang yang dibawa banjir masih menumpuk di area sekitar 3 hingga 5 hektare bekas lahan pertanian dan tapak rumah warga. Hal ini menunjukkan betapa besar dampak banjir terhadap lingkungan dan ekonomi masyarakat setempat.
- Kayu-kayu tumbang masih menumpuk di area bekas lahan pertanian
- Lahan pertanian seperti nilam dan pohon durian banyak hilang
- Ekonomi masyarakat terganggu akibat kerusakan lahan
Puluhan kepala keluarga (KK) masih tinggal di tenda darurat bantuan pemerintah dan relawan. Mereka berharap pemerintah daerah atau pihak lainnya bisa memberikan bantuan tambahan untuk membangun rumah ibadah sementara dan sumur bor air bersih.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







