Dokumentasi Linguistik dan Etnobotani dalam Melestarikan Pengetahuan Kuno
Dokumentasi linguistik dan etnobotani memainkan peran penting dalam melestarikan pengetahuan kuno tentang tanaman obat di Kepulauan Alor-Pantar. Tanaman bukan hanya sekadar bahan pengobatan harian, tetapi juga elemen sakral yang menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat adat. Dalam konteks budaya Abui, tanaman dan jamur merupakan fondasi penting dalam sistem kepercayaan serta struktur pengetahuan adat.
Sebagai contoh, formula penyembuhan untuk demam anak menggunakan kemiri (fiyaai) yang dihancurkan lalu dicampur dengan air dan dibalurkan ke tubuh. Formula ini tidak berasal dari sumber medis kuno seperti Hippocratic Collection atau Salernitan Guide to Health, melainkan dari resep lisan Abui. Selama kerja lapangan dokumentasi bahasa, kami berhasil mengumpulkan berbagai resep semacam ini.
Masyarakat adat di Indonesia, termasuk suku Abui di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjaga pengetahuan kuno yang sangat berharga. Salah satu warisan leluhur yang masih lestari adalah praktik pengobatan tradisional yang bergantung pada kemahiran dalam memanfaatkan tanaman obat. Melalui penelitian lapangan selama bertahun-tahun, terungkap bagaimana nama-nama tanaman obat lokal, khasiatnya, hingga metode pengobatannya terkait erat dalam percakapan dan praktik keseharian masyarakat setempat.
Fenomena ini bahkan membentuk toponimi, yaitu kajian asal-usul, makna, dan sejarah di balik nama-nama tempat. Hal ini memengaruhi alur legenda dan cerita rakyat daerah tersebut. Dengan demikian, nama-nama tanaman bukan sekadar kosa kata dalam bahasa daerah yang terancam punah. Istilah-istilah tersebut merupakan pintu masuk menuju “harta karun” pengetahuan medis, sejarah budaya, serta tradisi lisan yang selama ini belum terekam oleh dunia luar.
Mengumpulkan Nama dan Memahami Budaya
Studi kami mengenai fitonim (nama lokal tanaman) dan tanaman obat merupakan upaya interdisipliner yang berakar dari dokumentasi bahasa. Kami memadukan ilmu etnobotani dengan linguistik lapangan untuk mendokumentasikan konteks masyarakat adat, khususnya di wilayah Indonesia Tenggara (Kepulauan Alor-Pantar). Ini termasuk Kape, Papuna, Kamang, Kabola, Kula, dan Sawila.
Pendekatan ini bertujuan untuk memetakan hubungan antara kekayaan alam dan identitas bahasa yang dimiliki oleh masyarakat tersebut. Kami mengumpulkan dan menganalisis sampel tanaman beserta namanya melalui kolaborasi dengan para penutur asli dari masyarakat adat. Metode yang digunakan mencakup wawancara sistematis secara langsung, kerja lapangan, hingga pengembangan basis data yang berkelanjutan.
Guna menjamin akurasi taksonomi, pakar botani dari Royal Botanic Gardens, Kew, Inggris, memeriksa dan memverifikasi langsung sampel-sampel tersebut. Untuk setiap tanaman, data yang kami rekam melampaui sekadar klasifikasi ilmiah dan spesimen fisik. Kami mendokumentasikan nama lokal, terjemahan dalam bahasa Inggris, hingga akar budayanya. Upaya ini berhasil mengungkap tradisi lisan, praktik medis leluhur, serta sejarah tak tertulis yang melekat pada setiap spesies.
Praktik Budaya yang Berkelindan
Di luar khasiat medisnya, tanaman dan jamur telah lama menjadi bagian penting dalam sistem kepercayaan serta tradisi masyarakat Abui. Kehadirannya membentuk struktur pengetahuan adat yang kompleks dan penuh makna. Contohnya, jamur ruui haweei (Auricularia polytricha) yang secara harfiah berarti “telinga tikus”. Di komunitas ini, ibu hamil mengonsumsi jamur tersebut dengan harapan kelak buah hati mereka terlahir dengan bentuk telinga yang indah.
Selain itu, terdapat pula naai atau kacang gude (Cajanus cajan). Dalam pengobatan tradisional, tanaman ini berguna untuk menangani penyakit anak yang diyakini muncul akibat perbuatan zina atau perselingkuhan yang dilakukan ayahnya. Dalam ritual penyembuhannya, tabib akan menyajikan bubur kacang gude kepada sang ibu. Jumlah biji kacang yang tersisa di dalam periuk dipercaya dapat mengungkap jumlah perempuan yang pernah ditiduri suaminya. Menurut kepercayaan lokal, pengungkapan rahasia inilah yang menjadi kunci bagi kesembuhan anak.
Peran tanaman di Alor juga menyentuh ranah resolusi konflik. Pada masa perang antarsuku, tanaman luul meeting atau cabai jawa (Piper retrofractum) digunakan untuk secara simbolis membersihkan “darah panas” yang tumpah di medan laga. Dengan mengonsumsi bagian akar atau bijinya, warga desa melakukan pemurnian atas pertumpahan darah yang terjadi. Ritual ini memungkinkan mereka untuk kembali makan bersama dan mengunyah sirih pinang dalam ikatan perdamaian.
Terakhir, pohon bayooqa (Pterospermum diversifolium) menjadi jembatan antara dunia medis dan alam roh. Daunnya berkhasiat mengobati luka dan disentri. Sementara kayu bayooqa dianggap sakral oleh masyarakat Abui. Secara tradisional, kayu pohon ini digunakan untuk membangun panggung pemujaan bagi dewa kuno mereka, Lamòling.
Masyarakat setempat menggunakan panggung ini dalam ritual yang disebut bayooqa liik hasuonra (merubuhkan panggung), yang dilaksanakan empat puluh hari setelah pemakaman. Dalam prosesi ini, anggota keluarga berbagi hidangan ritual di atas lempengan kayu sebelum akhirnya memotong tiang penyangga dan membalik panggung tersebut—sebuah simbol perpisahan terakhir pada kerabat yang meninggal.
Artinya, tanaman obat tidak hanya menjadi pilar utama dalam memenuhi kebutuhan medis harian masyarakat adat di Alor, tapi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya yang berakar kuat. Pengetahuan ini membentuk identitas lokal mereka dan menjadi panduan dalam setiap fase kehidupan, mulai dari kelahiran hingga kematian.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







