Zoho Schools bangun talenta teknologi dari nol

Zoho Schools bangun talenta teknologi dari nol

Zoho Schools: Program Pengembangan Talent yang Berbeda



Zoho Corporation telah membangun Zoho Schools sebagai salah satu pilar utama perusahaan dalam menciptakan talenta dan kepemimpinan jangka panjang. Program ini tidak hanya menjadi bagian dari strategi perusahaan, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan Zoho di berbagai sektor bisnis.

Menurut Rajendran Dandapani, Direktur Teknik Zoho Corporation dan Presiden Zoho Schools Learning, Zoho Schools telah berkembang selama lebih dari 20 tahun dan memberikan kontribusi sekitar 15% dari total karyawan Zoho. Bahkan, banyak lulusan Zoho Schools kini menempati posisi strategis di berbagai unit bisnis dan wilayah operasional.

Zoho Schools pertama kali didirikan pada 2004 dengan nama AdventNet. Saat itu, perusahaan menghadapi tantangan dalam mendapatkan talenta siap pakai dari sistem pendidikan formal. “Kami bukan brand besar, jadi talenta bagus tidak datang ke kami. Yang datang kebanyakan dari kampus biasa bahkan kampus pabrik gelar,” ujar Rajendran.

Lulusan ilmu komputer saat itu hanya menghafal materi dan menulis di kertas ujian, sehingga mereka tidak benar-benar memiliki kemampuan nyata. “Jadi ketika mereka masuk ke perusahaan, kami harus melatih mereka dari awal,” tambahnya.

Strategi Zoho dalam membangun talenta ini bertujuan untuk menjadikan perusahaan hebat. Namun, untuk menarik talenta hebat, Zoho harus terlebih dahulu menjadi perusahaan hebat. “Ini dilema, jadi kami perlu cara berpikir yang tidak biasa,” papar Rajendran.

Model Zoho Schools terbukti efektif dalam mengatasi kesenjangan antara pendidikan akademik dan kebutuhan industri, terutama di sektor teknologi. Setiap tahun, Zoho Schools menerima sekitar 150 siswa dari lebih dari 16.000 pendaftar. “Permintaan internal selalu kami jaga lebih tinggi daripada pasokan lulusan,” ujar Rajendran. Program ini dirancang untuk mendukung bisnis inti, bukan menjadi institusi pendidikan massal.

Dari sisi bisnis, Zoho Schools berperan sebagai saluran pasokan talenta jangka panjang yang selaras dengan budaya dan cara kerja Zoho. Sekitar 2.600 alumni Zoho Schools kini bekerja di berbagai fungsi, mulai dari pengembangan produk, manajemen proyek, pemasaran hingga operasional regional. Beberapa alumni bahkan telah mencapai level kepemimpinan senior, termasuk memimpin operasi Zoho di kawasan Timur Tengah.

Namun, Zoho membatasi proporsi lulusan Zoho Schools hingga sekitar 40% dari total karyawan untuk menghindari risiko budaya tunggal dan menjaga keberagaman latar belakang. Sebagian besar siswa berasal dari wilayah rural, mencerminkan strategi Zoho dalam menjangkau talenta yang belum tersentuh sistem pendidikan elit.

“Kami mendatangi sekolah yang murid-muridnya tidak punya banyak pilihan. Mereka tidak mampu kuliah kedokteran atau teknik,” kata Rajendran. Siswa harus melalui ujian matematika dasar, Bahasa Inggris, dan pemrograman. Namun, yang lebih penting adalah wawancara, di mana Zoho melihat apakah mereka memiliki semangat dan kemauan untuk bangkit.

Salah satu hal menarik dalam Zoho Schools adalah adanya metode peer learning, di mana siswa junior diajari oleh siswa senior. Generasi Z lebih mudah belajar dari sesama Gen Z yang sedikit lebih dulu maju.

Setelah 12 bulan, siswa akan masuk ke tim sebagai intern. Mereka ikut rapat, menulis kode, makan bersama, ikut perjalanan tim, dan ikut perencanaan rilis produk. Mereka mendapat pengalaman nyata. Zoho juga membayar mereka sejak hari pertama sebesar 10.000 rupee per bulan (sekitar Rp 1,8 juta). Di tahun kedua, gaji naik menjadi 15.000–20.000 rupee.

Hingga saat ini, Zoho Schools telah berjalan selama 21 tahun dengan 6 lokasi (ditambah online saat pandemi) dan mengajar tiga bidang teknologi, bisnis, dan desain. Total alumni sekitar 2.600 orang. Meski begitu, mayoritas yang belajar di Zoho Schools masih berasal dari India.

Related posts