Bencana tanah bergerak terjadi di Tegal dan Semarang, Jawa Tengah. Seorang pakar bencana dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Amien Widodo, menyatakan bahwa fenomena ini disebabkan oleh alih fungsi lahan.
Amien menjelaskan bahwa tanah bergerak adalah perpindahan massa tanah atau batuan dari posisi awalnya. Perpindahan tersebut bisa terjadi secara vertikal, horizontal, maupun miring dalam bentuk rayapan, aliran, atau longsoran. “Sehingga fenomena gerakan tanah memang berpotensi berkembang menjadi longsor,” ujar Amien melalui keterangannya pada hari Ahad, 15 Februari 2026.
Menurut Amien, faktor utama penyebab tanah bergerak adalah perubahan tata guna lahan atau alih fungsi lahan di daerah perbukitan dan pegunungan, seperti pembabatan hutan.
Ia menambahkan bahwa akar pohon di hutan memiliki peran penting dalam mengikat tanah. Ketika hutan dibabat, maka lereng menjadi lebih rentan dan berbahaya, terutama jika terjadi hujan deras dalam waktu lama.
“Retakan tanah yang muncul menjadi jalur masuk air hujan. Hal ini meningkatkan beban tanah, mengurangi daya ikat, dan memicu pergerakan,” papar peneliti Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) tersebut.
Amien juga menjelaskan bahwa tanah bergerak tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada tanda-tanda awal yang dapat dikenali, seperti retakan di tanah atau dinding bangunan, pintu dan jendela sulit dibuka, serta pohon dan tiang listrik yang tampak miring.
Jika masyarakat melihat tanda-tanda tersebut, mereka perlu segera melaporkan kepada pihak berwenang seperti kelurahan, BPBD, Dinas PUPR, atau Dinas ESDM. “Laporan ini bertujuan agar dapat segera dilakukan langkah mitigasi,” ujar dosen Departemen Teknik Geofisika ITS ini.
Menurut Amien, langkah mitigasi dan relokasi menjadi opsi penting ketika kerusakan semakin parah dan keselamatan warga terancam. Selain itu, edukasi kebencanaan, penguatan tata ruang berbasis risiko, serta rehabilitasi kawasan hutan menjadi kunci untuk mengurangi potensi bencana di masa mendatang.
Sebelumnya, tanah bergerak terjadi di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, dan Kelurahan Jangli, Kota Semarang, pada Februari 2026. Akibatnya, ratusan rumah rusak terdampak peristiwa ini.
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat bahwa tanah longsor dan tanah bergerak juga terjadi dalam tiga bulan pertama 2025, antara lain 31 kejadian pada Januari, 21 kejadian pada Februari, dan 37 kejadian pada Maret.
Beberapa kejadian signifikan terjadi di Kecamatan Sirampog, Brebes, yang berdampak pada lebih dari 130 kepala keluarga, serta di sejumlah wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur yang memaksa ratusan warga mengungsi.
Faktor Penyebab Tanah Bergerak
Berikut beberapa faktor utama yang menyebabkan tanah bergerak:
Alih fungsi lahan: Pembabatan hutan dan penggunaan lahan untuk keperluan lain seperti pertanian atau permukiman.
Curah hujan tinggi: Hujan deras dalam waktu lama dapat meningkatkan beban tanah dan memicu pergerakan.
Kerusakan ekosistem: Hilangnya akar pohon yang biasanya mengikat tanah.
Pembangunan tidak terkendali: Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kondisi geografis.
Tanda-Tanda Awal Tanah Bergerak
Masyarakat perlu waspada terhadap tanda-tanda berikut:
Retakan di tanah atau dinding bangunan.
Pintu dan jendela sulit dibuka.
Pohon dan tiang listrik tampak miring.
Adanya perubahan bentuk tanah di sekitar area.
Langkah Mitigasi yang Dapat Dilakukan
Untuk mengurangi risiko bencana tanah bergerak, berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:
Edukasi kebencanaan: Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang tanda-tanda dan cara menghadapi bencana.
Penguatan tata ruang: Menyusun rencana tata ruang berbasis risiko bencana.
Rehabilitasi hutan: Melakukan penanaman kembali dan perlindungan hutan sebagai penyangga alami.
Relokasi penduduk: Mengungsikan warga dari daerah rawan bencana jika diperlukan.
Kesimpulan
Tanah bergerak adalah fenomena yang bisa terjadi karena berbagai faktor, termasuk alih fungsi lahan dan curah hujan tinggi. Masyarakat perlu waspada terhadap tanda-tanda awal dan segera melaporkan ke pihak berwenang. Selain itu, pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







