Perayaan Budaya yang Menggabungkan Berbagai Latar Belas
Belinyu Lunar Festival 2026 berlangsung selama empat hari, yaitu dari tanggal 13 hingga 16 Februari 2026, di pesisir Pantai Putat, Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Acara ini menawarkan suasana meriah dengan konsep kebersamaan lintas budaya dan menyajikan berbagai hiburan serta peluang promosi bagi pelaku usaha mikro.
Pantauan yang dilakukan menunjukkan bahwa lokasi festival dipenuhi oleh pengunjung yang antusias. Mereka menikmati hiburan musik Melayu dan Mandarin, parade barongsai, serta festival kuliner UMKM. Di sekitar kawasan, lampion-lampion China menghiasi lingkungan, sementara tenda-tenda UMKM berjejer menawarkan berbagai jajanan lokal yang menarik perhatian.
Ketua pelaksana festival, Dhani, menjelaskan bahwa acara ini dirancang sebagai ruang kebersamaan masyarakat dari berbagai latar budaya. Ia mengatakan bahwa tema yang diangkat adalah “Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong”, yang berarti Melayu dan Tionghoa bisa bersatu dalam satu acara.
Menurutnya, selama ini kegiatan masyarakat cenderung terpisah berdasarkan budaya masing-masing. Melalui festival tersebut, panitia mencoba menghadirkan hiburan yang dapat dinikmati semua kalangan sekaligus untuk menyambut perayaan Imlek dan bulan Ramadan.
Selama empat hari pelaksanaan, banyak kegiatan lainnya turut memeriahkan festival, seperti hiburan musik Melayu dan Mandarin, parade barongsai, lomba mewarnai anak, serta festival kuliner UMKM. Panitia juga menghadirkan pengisi acara lokal, termasuk grup vokal Mandarin D’Blijong serta Saka Ladies yang membawakan lagu dangdut Melayu.
Daya Tarik Utama Pelaku UMKM
Selain hiburan, keberadaan pelaku UMKM menjadi daya tarik utama dalam kegiatan tersebut. Sebanyak 53 UMKM dari berbagai daerah di Bangka Belitung turut ambil bagian setelah melalui proses kurasi agar tidak terjadi kesamaan produk.
Pelaku UMKM, Arzianda (26), mengaku bahwa kehadiran festival membawa peningkatan pembeli dibandingkan hari biasa. Ia menjelaskan bahwa kehadiran event seperti ini pasti lebih ramai dibanding jualan hari biasa, dan tujuan utamanya adalah mempromosikan produk agar masyarakat tahu apa yang mereka jual.
Ia menambahkan bahwa keramaian pengunjung biasanya mulai terlihat sejak pukul 15.00 WIB hingga sekitar pukul 22.00 WIB setiap harinya.
Antusiasme juga datang dari para pengunjung. Syamiani (32), warga Belinyu, mengaku mengetahui acara tersebut melalui media sosial dan tertarik dengan keberagaman tenda kuliner. Ia mengatakan bahwa yang paling menarik dan ditunggu itu UMKM, suasananya Alhamdulillah ramai.
Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar lebih meriah dan mengundang Artis di masa mendatang.
Pengalaman Baru di Kawasan Pantai
Hal senada disampaikan Irgi (22) yang datang bersama teman-temannya. Menurutnya, pelaksanaan festival di kawasan pantai memberikan pengalaman baru bagi masyarakat. Suasananya meriah dan berbeda dari biasanya karena acara seperti ini belum pernah dilakukan di pantai, ini yang pertama kalinya.
Dhani juga menambahkan, meningkatnya jumlah pengunjung dari hari ke hari menjadi bukti tingginya antusiasme masyarakat. Ia berharap kegiatan ini juga mampu menunjukkan citra positif daerah. Melalui event ini, ia ingin menunjukkan bahwa Belinyu aman-aman saja, karena sebelumnya banyak gosip yang beredar bahwa setiap ada event di Belinyu pasti ada kerusahan.
Melihat respons masyarakat dan pelaku UMKM yang positif, panitia berencana menjadikan Belinyu Lunar Festival sebagai agenda tahunan. Dhani mengatakan bahwa insya Allah akan diadakan rutin, karena respon masyarakat yang sangat luar biasa.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







