Perkembangan Teknologi AI dan Kecaman dari Industri Hiburan
Teknologi kecerdasan buatan (AI) terus berkembang pesat, dan salah satu inovasi terbaru yang menarik perhatian adalah Seedance 2.0. Alat ini dikembangkan oleh perusahaan induk TikTok, ByteDance, dan dianggap memiliki potensi besar dalam menciptakan video berbasis teks. Namun, penggunaannya juga memicu kecaman dari industri hiburan Hollywood.
Kecaman dari Industri Hiburan
Banyak organisasi produksi film di Amerika Serikat menilai bahwa penggunaan teknologi seperti Seedance 2.0 dapat menjadi alat pelanggaran hak cipta yang nyata. Mereka khawatir tentang kemampuan AI untuk menghasilkan konten tanpa izin dari pemilik hak cipta. Contohnya, ada klip video yang menampilkan aktor terkenal seperti Tom Cruise dan Brad Pitt tanpa persetujuan mereka.
Rhett Reese, penulis skenario film Deadpool, menyebut masalah ini sebagai tantangan serius bagi industri kreatif. Ia menyoroti risiko yang muncul ketika teknologi AI digunakan untuk membuat konten yang bisa merusak reputasi dan hak cipta individu atau merek.
Tuntutan dari Motion Picture Association
Setelah munculnya isu ini, Motion Picture Association (MPA) mengeluarkan pernyataan yang menuntut ByteDance segera menghentikan aktivitas produksi video berbasis AI. Charles Rivkin, CEO MPA, menyampaikan tuntutan tersebut dengan tegas. Ia menegaskan bahwa penggunaan teknologi seperti Seedance 2.0 bisa menjadi ancaman bagi industri film.
Langkah Hukum dari Disney
Selain MPA, perusahaan hiburan besar lainnya seperti Disney juga mengambil langkah hukum terhadap pengembang Seedance 2.0. Mereka mengirimkan surat peringatan atau cease-and-desist kepada pihak yang terlibat. Pengacara Disney menyebut kemampuan AI untuk mereproduksi karakter ikonik seperti Spiderman, Darth Vader, dan Grogu sebagai bentuk perampokan virtual terhadap properti intelektual mereka.
Dampak pada Industri Kreatif
Kecaman dan tuntutan ini menunjukkan bahwa industri hiburan mulai merasa terancam oleh perkembangan teknologi AI. Mereka khawatir akan hilangnya kontrol atas karya-karya mereka dan adanya penyalahgunaan yang tidak terkendali. Hal ini juga memicu diskusi tentang regulasi dan etika dalam penggunaan AI di bidang kreatif.
Tantangan dan Peluang
Meskipun ada kekhawatiran, teknologi AI juga membuka peluang baru bagi kreator. Dengan bantuan AI, proses pembuatan konten bisa lebih efisien dan kreatif. Namun, penting bagi para pemangku kepentingan untuk mencari keseimbangan antara inovasi dan perlindungan hak cipta.
Kesimpulan
Perkembangan teknologi AI seperti Seedance 2.0 telah memicu reaksi kuat dari industri hiburan. Meski memiliki potensi besar, penggunaannya juga menimbulkan pertanyaan tentang etika dan regulasi. Masa depan teknologi ini akan bergantung pada bagaimana para pemangku kepentingan mampu mengelola risiko dan manfaat yang ditawarkannya.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







