Ramadan-Lebaran 2026 Dorong Pertumbuhan Industri Makanan dan Minuman, Kontribusi 7% ke PDB

Ramadan-Lebaran 2026 Dorong Pertumbuhan Industri Makanan dan Minuman, Kontribusi 7% ke PDB

Sektor Makanan dan Minuman Tetap Jadi Penopang Ekonomi Nasional

Sektor manufaktur makanan dan minuman (mamin) tetap menjadi salah satu sektor yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pada kuartal I-2026, sektor ini diharapkan mampu memberikan kontribusi sebesar 6,5% hingga 7% terhadap Produk Domestik Bruto Nasional (PDB). Pertumbuhan sektoralnya diperkirakan mencapai 5,5%-6% secara tahunan.

Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa proyeksi ini didasarkan pada momentum Ramadan dan Lebaran yang selalu menjadi waktu yang menguntungkan bagi industri makanan dan minuman. Dalam periode tersebut, permintaan biasanya meningkat antara 30% hingga 40% dibanding bulan normal. Hal ini juga akan memengaruhi produksi, distribusi, ritel, hingga sektor hulu.

Menurut Yusuf, periode Ramadan dan Lebaran dapat menyumbang 30% hingga 40% ke omzet tahunan industri makanan dan minuman. Selain itu, hal ini juga membantu menjaga pertumbuhan ekonomi kuartal pertama di kisaran 5% hingga 5,1%. Alasannya adalah karena Hari Raya Idul Fitri jatuh pada bulan Maret 2026, sehingga puncak belanja sepenuhnya terkonsentrasi di kuartal pertama.

Dibanding tahun lalu, efek Lebaran 2026 terhadap industri makanan dan minuman masih positif, meskipun lebih moderat. Meski arus mudik dan mobilitas akan meningkat, sektor rumah tangga kini dinilai lebih berhati-hati. Tekanan biaya hidup dan ketidakpastian global membuat konsumen lebih selektif dalam memilih produk. Mereka cenderung memilih produk dengan nilai yang baik (value for money) alih-alih produk premium.

“Volume penjualan makanan dan minuman masih naik, tetapi nilai transaksi dan margin industri tidak setinggi tahun sebelumnya. Apalagi, stimulus fiskal tahun ini juga lebih terbatas,” ujar Yusuf.

Dari sisi produksi, Yusuf menilai momentum Lebaran tetap menjadi katalis positif. Utilisasi kapasitas pabrik makanan dan minuman tahun ini naik ke kisaran 80% hingga 90%, dibandingkan sebelumnya yang hanya 60% hingga 70%. Hal ini menunjukkan permintaan musiman masih cukup kuat untuk menggerakkan mesin industri.

Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah biaya. Industri makanan dan minuman sangat rentan terhadap tekanan kurs rupiah karena banyak bahan baku yang masih mengandalkan impor seperti gandum, gula industri, kedelai, dan susu. Saat rupiah melemah, Harga Pokok Penjualan (HPP) naik, sedangkan ruang menaikkan harga jual terbatas karena konsumen semakin sensitif.

Akibatnya, produsen cenderung mengandalkan efisiensi atau mengecilkan ukuran kemasan makanan dan minuman guna menjaga volume. Untuk memastikan momentum Lebaran tidak sekadar mempertahankan volume, pemerintah harus fokus pada stabilitas kurs dan pasokan bahan baku. Selain itu, inflasi pangan juga perlu dikendalikan agar ruang belanja masyarakat tidak tergerus.

Selain itu, pemerintah perlu memastikan Tunjangan Hari Raya (THR), bantuan sosial (bansos), dan biaya logistik ke daerah-daerah tetap aman dan terkendali. Dengan begitu, konsumsi tetap berjalan dan kinerja industri makanan dan minuman tetap sehat.

Related posts