Sate Kambing Solo: Tradisi Kuliner yang Menghidupkan Pagimu

Sate Kambing Solo: Tradisi Kuliner yang Menghidupkan Pagimu

Tradisi Sarapan Sate Kambing di Kota Solo

Di Kota Solo, Jawa Tengah, sate kambing tidak hanya menjadi hidangan utama pada siang atau malam hari, tetapi juga menjadi menu sarapan yang umum dikonsumsi oleh warga setempat. Tradisi ini menunjukkan fleksibilitas budaya kuliner dan karakteristik Solo sebagai kota yang kaya akan makanan. Para pedagang memilih untuk membuka usaha mereka sejak pagi hari demi menjaga kesegaran daging dan mengurangi jumlah sisa yang terbuang.

Keunikan Kuliner Sate Kambing di Solo

Sate merupakan salah satu makanan khas Indonesia yang dikenal secara internasional. Biasanya, para pedagang sate menggelar dagangan mereka pada siang atau malam hari. Namun, di Kota Surakarta, kebiasaan tersebut berbeda. Banyak pedagang sate kambing yang sudah buka sejak pagi hari. Bahkan, banyak pelanggan yang memilih sate kambing sebagai menu sarapan. Wisatawan seringkali kaget karena warga Solo sudah sangat akrab dengan tradisi ini.

Seorang youtuber ternama, Tanboy Kun, pernah mengunggah konten tentang sarapan daging kambing yang penjualnya sudah buka dari subuh. Ia menyampaikan bahwa biasanya penjual sate kambing buka pada siang atau sore hari. Namun, ia belum pernah mendengar ada yang menjual makanan ini pada pagi hari.

Penelusuran Budaya dan Sejarah

Tim IKABARI mencoba menelusuri apakah penjual sate kambing di Solo memang telah berjualan sejak pagi sejak dulu. Seorang profesor Filologi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum menjelaskan bahwa secara tradisional, daging kambing biasanya dikonsumsi pada siang atau malam hari. Sarapan khas Solo biasanya berupa Jenang Tumpang atau nasi liwet.

Namun, dengan berkembangnya ekonomi dan budaya, jam makan menjadi lebih fleksibel. Menurut Prof. Bani, Solo sebagai kota kuliner membuat apapun yang dijual bisa laku. Meski demikian, daging kambing biasanya disajikan untuk makan siang. Ia juga menjelaskan bahwa kebanyakan warung sate kambing buka pukul 09.00 WIB.

Tanggapan dari Profesor

Mengenai apakah sate kambing menjadi identitas Kota Solo, Prof. Bani menjawab bahwa bisa saja benar, bisa saja tidak. Pasalnya, di daerah lain yang memiliki kuliner olahan daging kambing juga bisa menjadi identitas. “Tetapi ingat, yang di sini menjadi identitas, di tempat lain juga menjadi identitas,” ujarnya.

Pengalaman Pedagang

Penulis kemudian mendatangi salah satu warung sate kambing yang cukup terkenal di Kota Solo, yaitu Sate Kambing Pak Mardi. Warung ini terletak di barat Pura Mangkunegaran, tepatnya di Jl Yosodipuro No.22, Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Sekitar pukul 08.00 WIB, penulis sudah disambut dengan kepulan asap dari pegawai yang sedang membakar sate. Karyawan lainnya sibuk menyajikan olahan daging kambing mulai dari sate, tengkleng, garang masak, hingga gule kepada pelanggan yang sudah memadati warung sejak pagi hari.

Warung yang terkenal dengan menu sate kambing masak mentega ini menjelaskan bahwa sejak berdiri pada tahun 2001, mereka selalu buka dari pagi hari. Saat ditanya mengapa buka pagi, Pak Mardi menjelaskan bahwa jika buka malam, sisa daging kambing tidak akan segar lagi dan hanya bisa dibuang. Sementara jika buka pagi, daging masih segar dan bisa digunakan hingga sore hari.

“Kalau siang kan misal tidak habis, masih bisa perpanjang waktu (hingga sore hari)”
“Apabila buka malam, daging sisanya tidak bisa dimasak lagi keesokan harinya,” ujar Pak Mardi sambil memasak olahan daging kambing.

Related posts