IKABARI, JAKARTA — Insinyur di Pusat Penelitian Penerbangan Armstrong milik National Aeronautics and Space Administration (NASA) berhasil menyelesaikan uji coba taksi kecepatan tinggi untuk model sayap Crossflow Attenuated Natural Laminar Flow (CATNLF). Uji coba ini berlangsung di Pangkalan Angkatan Udara Edwards dan menjadi langkah penting dalam pengembangan teknologi penerbangan yang lebih efisien.
Teknologi CATNLF dirancang untuk menjaga aliran udara di atas sayap tetap halus, sehingga mengurangi hambatan gesekan secara signifikan. Dengan demikian, pesawat dapat terbang dengan lebih hemat bahan bakar dan menghasilkan emisi yang lebih rendah. Penyelidik Utama CATNLF di Pusat Penelitian Penerbangan Armstrong NASA, Mike Frederick, menyatakan bahwa inovasi ini memiliki dampak ekonomi yang besar bagi industri penerbangan komersial.
“Bahkan keuntungan kecil dalam efisiensi dapat berkembang menjadi pengurangan yang cukup besar dalam pembakaran bahan bakar dan emisi,” kata Frederick dalam pernyataan resmi NASA. Studi komputasi NASA antara 2014 hingga 2017 menunjukkan bahwa penerapan sayap aliran laminar bergaya CATNLF pada pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777 dapat mengurangi pembakaran bahan bakar tahunan hingga 10%.
Angka persentase ini sangat berarti bagi industri penerbangan. Penghematan biaya bahan bakar bisa mencapai jutaan dolar per pesawat setiap tahunnya. Selain itu, pengurangan konsumsi avtur juga berkontribusi langsung pada penurunan emisi karbon, yang semakin relevan dalam era harga bahan bakar tinggi dan target iklim global yang ketat.
Dalam uji coba teknis tersebut, tim NASA menggunakan pesawat riset F-15B yang dipasangi model sayap CATNLF berukuran 3 kaki. Pesawat mencapai kecepatan sekitar 144 mil per jam (231 km/jam) di landasan pacu. Kecepatan ini memungkinkan para peneliti mempelajari kondisi aliran udara secara nyata dalam kondisi operasional yang realistis.
Eksperimen ini bertujuan memastikan udara mengalir sehalus mungkin di atas permukaan sayap. Model eksperimental tersebut dipasang secara vertikal menyerupai sirip di bawah badan pesawat. Metode ini dipilih karena menawarkan fleksibilitas dan efisiensi biaya dibandingkan harus membangun ulang sayap pesawat berukuran penuh.
Secara teknis, desain CATNLF bekerja dengan menunda titik di mana aliran udara pecah menjadi turbulensi. Aliran turbulen diketahui meningkatkan hambatan gesekan yang memaksa mesin bekerja lebih keras. Desain inovatif ini menyempurnakan bentuk sayap untuk menekan efek “crossflow” pada sayap yang menyapu ke belakang. Tujuannya adalah mempertahankan lapisan batas yang lebih halus untuk mengurangi hambatan keseluruhan pada jet jarak jauh.
Keberhasilan uji coba taksi ini menjadi tonggak awal bagi NASA untuk mempersiapkan serangkaian uji terbang lanjutan. Pengujian mendatang akan mengukur stabilitas aliran laminar pada kecepatan yang lebih tinggi dan kondisi atmosfer berbeda. Apabila teknologi ini menunjukkan performa yang konsisten, adaptasinya tidak hanya terbatas pada pesawat penumpang subsonik. Desain CATNLF juga memiliki potensi untuk diterapkan pada desain pesawat supersonik generasi berikutnya sebagai solusi penerbangan yang lebih bersih dan terjangkau.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







