Ekonomi RI Tumbuh 5,5%-5,7% di Kuartal I 2026, Ini Pemicunya

Ekonomi RI Tumbuh 5,5%-5,7% di Kuartal I 2026, Ini Pemicunya



Pemerintah Indonesia terus memperkuat proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tahun 2026, yang diperkirakan berada di kisaran 5,5 hingga 5,7 persen. Proyeksi ini menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap kemampuan perekonomian dalam menghadapi tekanan global.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini bisa mencapai 5,6 hingga 5,7 persen. Hal ini didorong oleh aktivitas konsumsi masyarakat selama Ramadhan dan Lebaran. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik meskipun ada ketidakpastian global akibat konflik geopolitik.

“Kita yakin bahwa pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,6–5,7 persen. Ini sudah lumayan bagus di tengah gejolak global saat ini,” ujar Purbaya di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Sabtu (21/3/2026).

Purbaya menilai bahwa dampak dari tekanan global masih dapat diredam oleh pemerintah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjaga stabilitas subsidi energi agar masyarakat tidak langsung merasakan kenaikan harga secara signifikan.

“Dampak global saat ini masih belum terasa karena diserap oleh pemerintah. Kita menjaga supaya masyarakat bisa beraktivitas normal,” tambahnya.

Ke depan, pemerintah akan fokus pada penguatan permintaan domestik sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi. Hal ini melibatkan penguatan sektor swasta dan menjaga daya beli masyarakat. Selain itu, pemerintah juga berkomitmen menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya yang bersubsidi, serta memastikan realisasi belanja negara tepat waktu.

“Kita akan pastikan belanja pemerintah yang memang harus dibelanjakan, dibelanjakan tepat waktu,” ujar Purbaya.

Senada dengan pernyataan Menteri Keuangan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 berada di kisaran 5,5 persen. Optimisme ini didorong oleh kuatnya aktivitas ekonomi selama Ramadhan, yang terlihat dari meningkatnya konsumsi masyarakat.

“Kelihatannya target 5,5 bisa dicapai dari geliat selama Ramadhan kemarin,” kata Airlangga.

Dengan kombinasi belanja pemerintah, stabilitas harga energi, serta konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga, pemerintah meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun ini akan tetap resilien di tengah ketidakpastian global.

Airlangga juga menyoroti dinamika inflasi yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan kuartal pertama tahun lalu. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya lagi program diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang sempat menekan inflasi sepanjang Januari-Februari 2025.

Tanpa adanya potongan tersebut, pengeluaran masyarakat untuk membayar listrik kembali ke level normal sehingga secara statistik inflasi tercatat lebih tinggi.

Meski tekanan inflasi diperkirakan meningkat, pemerintah optimistis bahwa daya beli masyarakat dan peningkatan konsumsi selama Ramadhan serta Lebaran akan menjaga momentum pertumbuhan.

“Tahun kemarin kan sampai bulan Februari itu ada diskon tarif listrik. Jadi itu yang membuat inflasi tahun kemarin dari segi listriknya deflasi. Tahun ini karena enggak ada (diskon tarif listrik), berarti angkanya akan lebih tinggi,” ucap dia.

Related posts